Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Fitriawan

Warga Walahir Membangun Sendiri Jembatan yang Terputus

Curhat | 2026-03-17 12:27:30

Jembatan bukan hanya sebuah sarana transportasi tapi sebuah akses untuk mencapai mimpi dan perjuangan hidup. Namun apa jadinya jika perjuangan masyarakat seberang harus terputus karena akses penyebrangan tidak di prioritaskan?

Akibat hantaman banjir bandang, sebuah Jembatan bambu tua di Desa Walahir tepatnya di kecamatan Leles, kabupaten Cianjur menjadi runtuh. Akses masyarakat seberang terbatas karena tingginya volume air. Akan sangat berbahaya jika dipaksakan menyebrang sungai mengingat arus air yang kuat. Karna nya untuk membeli kebutuhan, bekerja dan kegiatan persekolahan anak anak seberang sempat tertunda.

Setelah menunggu berhari hari, bantuan pemerintah setempat tak kunjung datang. Mirisnya ternyata kerusakan serupa bukan terjadi sekali dua kali melainkan berkali kali. Pemerintah setempat seakan menutup mata melihat kejadian ini. Entah karena ketidaktahuan atau kekurangan dana pemerintah, namun masyarakat seberang akhirnya memilih menyerah menunggu dan langsung melakukan perbaikan mandiri. Sistem kerja mereka menggunakan dana patungan dan sumbangan seikhlasnya seperti beberapa tahun kebelakang.

Karena minimnya dana pribadi, Material utama jembatan selalu menggunakan bambu dan kayu. Hal itu yang menyebabkan jembatan mudah roboh dan tak mampu bertahan lama. Menurut laporan salah satu pengguna sekaligus tenaga kerja Bapak yudi permana “ Biasanya jembatan cuman kuat setahun saja, kadang kurang dari setahun udah rusak” ucap beliau. Kemandirian masyarakat seberang harusnya menjadi tamparan telak untuk pemerintah setempat sebagai tanda bahwa kegagalan mereka menyediakan akses fasilitas untuk masyarakat.

Melihat salah satu unggahan akun tiktok https://vt.tiktok.com/ZSuxtSuDv/ BAGJA BASECAMP KAYU, yang ikut membantu proses pembuatan jembatan. Kita melihat bahwa tenaga kerja yang ada sangat terbatas. Rasa empati warga diluar masyarakat seberang terhenti hanya sekedar opini jembatan ini jarang mereka lalui. Namun kenyataannya di seberang jembatan ini ada sekitar 8 rumah. Ditambahkan jembatan ini adalah akses menuju kampung seberang dan perkebunan jadi bisa dikatakan jembatan ini aktif digunakan. Meski dengan tenaga kerja seadanya, jembatan itu akhirnya mampu berdiri kembali setelah dikerjakan kurang lebih 2 minggu dan bisa dilalui bebas oleh siapapun.

Ketidaktanggapan pemerintah dalam menangani fasilitas di pelosok bukan sekadar masalah teknis, melainkan masalah kemanusiaan. Sampai kapan masyarakat seberang harus terus "iuran nyawa" demi membangun akses yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image