Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Yusuf Amrozi

Al-Attas dan Warisan Islamisasi Pengetahuan

Agama | 2026-03-13 09:27:30

Al-Attas dan Warisan Islamisasi Pengetahuan

Keterangan Gambar: Peta Genealogy Pemikiran Syed Muhammad Naquib al-Attas

(sumber: Muhammad Raihan @raihan_borhan)

Oleh: Yusuf Amrozi *

Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib Al-Attas, pemikir Islam kelahiran Indonesia yang bermukim di Malaysia tersebut meninggal dunia pada hari Minggu, 8 Maret 2026 pada usia 94 tahun di Kuala Lumpur. Pria kelahiran Bogor pada 5 September 1931 itu telah banyak berjasa dibidang pemikiran Islam, utamanya hubungan Islam dengan Ilmu Pengetahuan. Boleh dibilang dia profesor dan tokoh internasional yang dikenal luas sebagai ahli filsafat Islam, tasawuf, dan sejarah Melayu.

Seorang kawan telah berhasil memetakan karya pemikirannya dari buku dan artikelnya. Setidaknya 35 buku terpetakan dari genealogy pemikiran al-Attas. Diantaranya: Respon al-Attas terhadap Sejarah Peradaban dan Kemanusiaan, Tentang Adab dan Moralitas, Konsep Pendidikan Islam, al-Attas dalam memandang Sekulerism dan Posmodern, hingga Islam dan filosofi sains. Dia juga menulis tentang sufism dan tasawuf di jazirah melayu. Boleh dibilang cukup lengkap dia dalam merespon seputar Islam dan lingkunganya dalam sudut pandang dia sebagai seorang Islamolog.

Al-Attas menempuh sarjana muda di University of Malaya dalam bidang Bahasa dan Kesusastraan Melayu. Kemudian melanjutkan studi pada jenjang master di McGill University, Kanada dalam bidang Studi Islam. Serta menempuh PhD di University of London pada School of Oriental and African Studies (SOAS) dengan disertasi berjudul Mistisisme Hamzah Fansuri. Pernah berdinas di militer, sebelum beralih ke profesi akademik dengan mengajar di Universitas Malaya sejak tahun 1960-an dengan fokus sejarah dan kesusastraan Melayu-Islam.

Dalam karirnya sebagai cendikia, dia mendirikan ISTAC (International Institute of Islamic Thought and Civilization) di Kuala Lumpur pada 1987. Lembaga ini semacam pusat kajian pemikiran Islam dan pendidikan, yang akhirnya menjadi centrum dari kiprah akademik dan pemikirannya dalam memberikan sumbangsih pemikiran Islam dan kesusastraan dunia.

Bagi Syed Muhammad Naquib al-Attas, pendidikan sebagai proses ta’dīb atau pembentukan adab. Bukan sekadar transfer ilmu. Menurutnya inti pendidikan Islam adalah bagaimana menanamkan pengenalan dan rekognisi akan kedudukan yang tepat terhadap Tuhan, manusia, dan ilmu, sehingga melahirkan insan yang berperadaban.

Didalam bukunya Islam and Secularism (1978) serta Prolegomena to the Metaphysics of Islam (1995), al-Attas menyinggung sejarah peradaban manusia dan krisis kemanusiaan modern, serta bagaimana Islam menawarkan kerangka epistemologi serta solusi peradaban. Akibat sekularisasi yang memisahkan ilmu dari agama tersebut yang akhirnya melahirkan krisis kemanusiaan pada dimensi adab dan moralitas.

Tawaran menurut al-Attas adalah bagaimana kemudian mengintegrasikan Islam dan Sains melalui suatu konsep yang disebut dengan Islamisasi ilmu pengetahuan, yaitu mengembalikan sains pada landasan tauhid dan worldview Islam agar tidak terjebak dalam ‘hantu’ sekularisme yang dikembangkan Barat. Dia menolak dikotomi antara agama dan sains, dan menekankan bahwa ilmu harus diarahkan untuk membentuk insan beradab, bukan sekadar menghasilkan teknologi atau kekuatan material belaka.

Daripada itu juga, legacy pemikiran al-Attas tentu saja dalam hal sufisme dan sastra melayu. Bagi al-Attas, sufisme merupakan inti dari Islam yang otentik, bukan sekadar praktik yang karitatif. Baginya, tasawuf adalah jalan menuju kebahagiaan sejati (sa‘ādah) melalui penyucian jiwa, pengenalan diri, dan pengenalan Tuhan. Penekanannya adalah bahwa sufisme harus dipahami dalam kerangka epistemologi Islam, bukan bagian dari bentuk sinkretis, eklektik, apalagi ambiguitas antara Islam dan filsafat barat.

Dengan demikian jelas posisinya, dia menempatkan Islam disatu sisi vis avis (peradaban) Barat disisi yang lain. Bahkan sebagai media dakwah (baca: Islamisasi). Posisi tersebut dia kemukakan pada pandangannya misalnya terkait sastra melayu. Bahasa Melayu klasik dianggapnya sebagai bahasa yang telah diislamkan, sehingga menjadi medium utama penyebaran ilmu dan peradaban Islam di Asia Tenggara. Sastra Melayu difungsikan sebagai sarana internalisasi konsep-konsep Islam, seperti tauhid, adab, dan kebahagiaan. Sastra bukan sekadar sesuatu yang profan, tetapi jalan menuju ma‘rifah (pengenalan hakiki kepada Tuhan).

Dari sejumlah eksperimen intelektual Syed Muhammad Naquib al-Attas diatas diakui telah cukup banyak memberikan spektrum pengaruh bagi pandangan para pemikir lainnya. Taruh saja Ismail Raji al-Faruqi, Sayyed Hosen an-Nasr hingga Ziauddin Sardar. Jika al-Attas mengembalikan Epistemologi Islam sebagai worldview. Al-Faruqi menguatkan pandangan bagaimana menyandingkan ilmu modern dengan ilmu Islam dalam satu sistem. Sedangkan Hosen an-Nasr ‘memotret’ dari sisi tradisi perennial serta kosmologi Islam. Sementara Ziauddin Sardar memandang optimis bahwa dalam proyek postmodern Islam; ilmu harus kontekstual, plural, dan relevan dengan kebutuhan futuristik.

Dari gagasan dan tawaran akademis diatas, tentu juga menyisakan kritik terhadap gloryfikasi atas pemikiran al-attas tersebut. Terhadap gagasan Islamisasi pengetahuan yang sangat tajam dan mendasar, ada kecemasan bahwa pendekatan Islamisasi ilmu yang berkembang di dunia Islam akan cenderung bersifat teknis atau ‘kosmetik’, sementara yang diperlukan adalah transformasi epistemologi yang menyeluruh.

Sebagai kerangka filsafat ilmu yang kokoh, yang menekankan tauhid dan adab sebagai fondasi ilmu adalah suatu keniscayaan. Namun membumikan gagasan Islamisasi agar tidak berhenti pada wacana filosofis, tetapi menjadi strategi nyata pada operasionalnya, misalnya dalam desain kurikulum pendidikan, kebijakan dan seterusnya adalah tantangan di era post-truth dewasa ini. Tetapi paling tidak peninggalan al-Attas ini akan mengingatkan kita bahwa spirit agama harus menjadi guidance dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, bukan?

* Dr. Yusuf Amrozi adalah staf pengajar di UIN Sunan Ampel Surabaya (@yusuf_amrozi)

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image