Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Arifda Ayu SW, M.Si - Dosen Faperta Unand

Kakao: Potensi yang Belum Pulih

Pets and Garden | 2026-03-04 07:49:05

Kakao adalah denyut nadi banyak kebun rakyat sekaligus fondasi industri cokelat nasional. Di berbagai pelosok Sulawesi dan sebagian Sumatera, pohon-pohon kakao tumbuh di lahan milik petani kecil yang menggantungkan hidup dari buah berwarna merah kekuningan itu. Indonesia pun lama dikenal sebagai salah satu produsen kakao dunia. Namun di balik reputasi tersebut, tersimpan ironi yang tak bisa diabaikan: produksi kita belum mampu memenuhi kebutuhan industri sendiri.

Sumber: Pinterest

Data dari The International Cocoa Organization (ICCO) tahun 2025 mencatat produksi kakao Indonesia berada di kisaran 200.000 ton per tahun. Angka ini jauh menurun dibandingkan capaian 2005–2006 yang pernah menyentuh sekitar 590.000 ton. Dalam dua dekade, terjadi penyusutan produksi yang signifikan, sebuah sinyal bahwa ada persoalan struktural di tingkat hulu.

Pada saat yang sama, kebutuhan industri pengolahan kakao di dalam negeri justru terus meningkat. Kementerian Koordinator Pangan mencatat Indonesia mengimpor sekitar 157 ribu ton biji kakao pada 2024 untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Situasi ini memperlihatkan paradoks: negeri produsen kakao peringkat ketujuh dunia masih harus bergantung pada pasokan luar negeri demi menjaga roda industrinya tetap berputar.

Mengapa ini terjadi?

Jika ditelisik ke kebun-kebun rakyat, jawabannya sebenarnya tidak rumit. Banyak tanaman kakao telah berusia tua tanpa peremajaan memadai. Produktivitas menurun, tetapi pohon masih tampak berdiri sehingga kesan “kebun masih ada” menutupi kenyataan bahwa hasilnya terus menyusut. Perawatan sering kali terbatas pada panen, sementara pemangkasan, pemupukan berimbang, dan sanitasi kebun belum menjadi kebiasaan rutin.

Di sisi lain, gangguan hama dan penyakit berjalan perlahan namun pasti. Buah menghitam sebagian, batang terluka, daun bercak, cabang mengering. Kerusakan kecil yang dibiarkan akan menjadi akumulasi penurunan hasil. Petani tetap memanen, tetapi volume dan mutu tidak lagi seperti dahulu. Dalam kondisi harga yang fluktuatif, sebagian akhirnya memilih beralih ke komoditas lain yang dianggap lebih cepat memberi hasil.

Inilah persoalan mendasar yang kerap luput dari diskusi kebijakan: kesehatan kebun.

Kebangkitan kakao nasional tidak akan lahir semata dari program besar atau ekspansi lahan. Ia justru bertumpu pada praktik-praktik sederhana namun konsisten di tingkat petani. Kebun yang bersih dari buah busuk, cabang sakit yang dipangkas tepat waktu, pemupukan yang cukup dan berimbang, serta pengamatan rutin terhadap gejala awal gangguan tanaman, semua itu adalah fondasi produksi yang stabil.

Sering kali, langkah pencegahan jauh lebih murah daripada penanganan saat kerusakan sudah meluas. Tanaman selalu memberi tanda ketika terganggu. Perubahan warna buah, bentuk daun, atau kondisi batang adalah pesan yang tidak boleh diabaikan. Respons cepat bukan hanya menyelamatkan panen musim itu, tetapi juga menjaga produktivitas jangka panjang.

Di sisi kebijakan, pendampingan teknis yang berkelanjutan menjadi kunci. Banyak petani kakao adalah pekebun kecil dengan akses terbatas pada informasi dan sarana produksi. Tanpa penguatan kapasitas di tingkat lapangan, target peningkatan produksi akan sulit tercapai. Industri yang kuat membutuhkan pasokan bahan baku yang stabil; dan pasokan yang stabil hanya mungkin jika kebun-kebun rakyat dalam kondisi sehat.

Indonesia tidak kekurangan pengalaman dalam budidaya kakao. Kita pernah berada pada masa kejayaan produksi. Tantangannya kini adalah mengembalikan fokus pada hulu—pada tanaman, pada tanah, dan pada petani yang merawatnya setiap hari.

Jika ketergantungan impor ingin ditekan dan posisi Indonesia sebagai produsen kakao dunia ingin dipertahankan, maka jawabannya bukan semata di pabrik pengolahan atau pasar ekspor. Jawabannya ada di kebun-kebun rakyat: pada peremajaan tanaman tua, pada disiplin perawatan, dan pada komitmen menjaga kesehatan kakao secara berkelanjutan.

Dari situlah kebangkitan kakao Indonesia seharusnya dimulai bukan dari mesin industri, melainkan dari pohon-pohon di kebun petani.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Terpopuler di

 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image