Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Nirwansyah

Mata Pelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial di Sekolah

Pendidikan | 2026-02-28 05:29:03
Sumber: www.abdumar.com

Pada tahun ajaran 2025/2026, mata pelajaran koding dan kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI sudah mulai diterapkan. Mata pelajaran koding dan kecerdasan buatan tidak bersifat wajib, melainkan pilihan. Keduanya mata pelajaran tersebut diberlakukan mulai dari jenjang sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), dan sekolah menengah atas/kejuruan (SMA/SMK).

Inisiasi dari Kementerian Pendidikan dan Dasar Menengah (Kemendikdasmen) untuk memasukkan kedua mata pelajaran itu di sekolah bukan berangkat dari pijakan yang kosong nan hampa. Justru sebaliknya, memiliki pijakan yang memadai. Paling tidak, pijakan itu dapat diamati dari kasus Covid-19 yang menghebohkan dunia beberapa tahun silam.

Pelajaran Penting dari Covid-19

Tak bisa dimungkiri, Covid-19 telah banyak menyentak kesadaran kita semua akan pentingnya pengintegrasian antara teknologi dan pendidikan. Covid-19 telah mengubah cara didik jutaan orang di dunia. Pandemi Covid-19 juga turut menyadarkan jutaan bahkan miliaran orang bahwasannya pendidikan bukan hanya sekadar proses belajar mengajar yang dibatasi oleh empat dinding. Lebih dari itu, pendidikan adalah suatu proses di mana manusia secara sadar menangkap, menyerap, dan menghayati peristiwa-peristiwa alam sepanjang zaman (Khaldun, 2011).

Ketika pandemi Covid-19, pembelajaran mau tidak mau harus dilakukan melalui medium digital secara penuh dalam rangka memutus mata rantai persebaran virus. Covid-19, dengan kata lain, telah memainkan peranan penting dan menjadi katalisator perubahan di dunia pendidikan dalam waktu yang relatif singkat.

Selama ini, mayoritas institusi pendidikan cenderung merangkak dalam mengikuti perkembangan zaman. Akibatnya, laju pendidikan menjadi lambat dan cenderung berada pada status quo. Tanpa bermaksud menafikan dampak destruktif Covid-19, harus diakui bahwa situasi pandemi memaksa dunia pendidikan untuk melakukan revolusi dan gebrakan-gebrakan baru yang selama ini masih jarang diterapkan serta sering dianggap tabu oleh masyarakat. Misalnya, memanfaatkan teknologi digital dalam pembelajaran.

Lompatan Besar

Tak jauh berbeda. Inisiatif pemerintah untuk memasukkan mata pelajaran koding dan AI ke dalam kurikulum nasional juga mendapat respons yang beragam. Mereka yang kurang sependapat dengan inisiatif tersebut menilai bahwa semestinya penguatan literasi dasar perlu mendapat sorotan lebih. Di lain sisi, tak sedikit pula yang menyambut baik lompatan besar ini mengingat tren perkembangan global dan tuntutan zaman yang tak bisa mengelak dari pesatnya perkembangan teknologi.

Dalam keterangannya (29/11/2024), Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan bahwa sekalipun ada beberapa pandangan yang menilai literasi dasar lebih penting, namun ia yakin dan percaya bahwa “penguasaan teknologi justru akan mendukung perkembangan literasi dan numerasi anak-anak kita.”

Bukan tanpa alasan kenapa mata pelajaran koding dan kecerdasan buatan dimasukkan menjadi bagian dari kurikulum nasional. Dimasukkannya kedua mata pelajaran koding dan kecerdasan artifisial (istilah yang digunakan oleh Kemendikdasmen) merupakan ikhtiar untuk mempersiapkan peserta didik atau generasi muda Indonesia yang kompetitif serta mampu bersaing di kancah global di tengah arus perkembangan teknologi yang kian kompleks.

Dalam Muqaddimah (2011), Ibnu Khaldun menyebutkan bahwa zaman telah mendidik manusia sesuai dengan tuntutan dan perkembangannya. Sebagaimana yang kita rasakan sekarang ini, teknologi dan kecerdasan buatan merupakan bagian dari tuntutan zaman itu sendiri. Kendati menjadi mata pelajaran pilihan, koding dan kecerdasan artifisial sesungguhnya selaras dengan perkembangan zaman di Indonesia kini.

Akan tetapi, perlu digarisbawahi bahwa koding dan kecerdasan artifisial bak pisau bermata dua. Ia memiliki dampak positif dan negatif sekaligus. Inilah yang diingatkan oleh Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq dalam Training of Trainers (ToT) Calon Pengajar Koding dan Kecerdasan Artifisial untuk Guru Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah pertengahan Mei lalu.

Positifnya, kecerdasan artifisial tampil dengan model kerja baru, tidak rumit, efisien, cepat, presisi, dan tidak kenal lelah dalam berbagai sektor. Sebaliknya, kecerdasan artifisial tidak serta-merta terbebas dari masalah. Tak ubahnya dengan penetrasi masif media sosial yang memunculkan masalah baru, kecerdasan artfisial pun demikian. Masalah hukum, sosial, mental, intelektual, dan masalah kemanusiaan juga akan muncul apabila tidak bijak menggunakan kecerdasan artifisial.

Akhirnya, hal yang mesti ditekankan ialah jangan sampai mata pelajaran koding dan kecerdasan artifisial justru menjadikan peserta didik menjadi sosok yang malas berpikir sehingga otak tidak terbiasa berpikir secara mendalam. Barang tentu, ini akan kontraproduktif dengan visi pembelajaran mendalam dan tujuan awal diperkenalkannya mata pelajaran koding dan kecerdesan artifisial di sekolah yang pada tahun ini tercatat sudah 53.000 guru terlatih dan 20.167 satuan pendidikan menerapkannya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image