Efek Lebaran: Benarkah THR Benar-Benar Mampu Menggerakkan Roda Ekonomi Nasional?
Gaya Hidup | 2026-02-24 10:24:51
Siapa sih yang nggak happy pas notifikasi SMS banking atau saldo e-wallet tiba-tiba bunyi "klinting" tanda THR sudah masuk? Momen ini ibarat oase di tengah padang pasir setelah sebulan penuh kita berjuang menahan lapar, haus, dan godaan diskon flash sale. Tapi, pernah nggak sih kamu kepikiran kalau uang yang kita pakai buat beli baju baru, kue kering, sampai tiket mudik itu sebenarnya punya tugas negara yang besar banget? THR itu bukan cuma soal "uang jajan tambahan", tapi motor raksasa yang bikin mesin ekonomi kita nggak macet!
Efek Lebaran: Benarkah THR Benar-Benar Mampu Menggerakkan Roda Ekonomi Nasional?
Bayangkan jutaan orang di seluruh Indonesia dapat kucuran dana segar secara bersamaan. Secara otomatis, daya beli masyarakat langsung melonjak drastis. Saat kamu memutuskan buat belanja di pasar atau check-out barang di marketplace, uang itu nggak berhenti di tangan penjual saja. Si penjual bakal pakai uang itu buat stok barang lagi ke pabrik, pabrik bakal bayar gaji buruh, dan buruh bakal belanja lagi buat kebutuhan rumah tangganya. Inilah yang disebut efek pengganda atau multiplier effect. Jadi, secara nggak langsung, setiap nastar yang kamu beli itu ikut menyumbang napas buat UMKM dan industri besar di Indonesia.
Nggak cuma di kota besar, mudik Lebaran juga jadi ajang "pemerataan ekonomi" paling masif setiap tahunnya. Uang yang terkumpul di pusat kota seperti Jakarta atau Surabaya, bakal dibawa pulang ke desa-desa di seluruh penjuru negeri. Bayangkan berapa triliun rupiah yang berputar di warung makan pinggir jalan, toko oleh-oleh daerah, hingga pom bensin sepanjang jalur mudik. Ini adalah momen langka di mana pertumbuhan ekonomi nggak cuma numpuk di satu titik, tapi menyebar sampai ke pelosok. Jadi, mudik itu bukan sekadar silaturahmi, tapi transfer kemakmuran yang nyata banget dampaknya buat saudara-saudara kita di daerah.
Namun, ada sedikit catatan nih buat kita semua. Efek hebat THR ini bakal maksimal kalau uangnya dipakai buat konsumsi barang-barang dalam negeri. Kalau kita lebih milih beli barang impor mewah, ya uangnya cuma "numpang lewat" dan malah memperkaya negara lain. Makanya, gerakan cinta produk lokal itu penting banget, apalagi pas musim Lebaran. Selain itu, kalau semua orang cuma pakai THR buat konsumsi tanpa ada yang ditabung atau diinvestasikan, roda ekonomi kita bisa kaget pas Lebaran selesai, alias kena "post-Lebaran blues" di mana pasar tiba-tiba sepi karena semua orang sudah bokek.
Jadi, intinya THR emang beneran sakti buat muterin roda ekonomi kita, asalkan kita pakainya dengan bijak. Ekonomi nasional bakal sehat kalau kita belanja, tapi dompet pribadi juga tetap aman kalau kita bisa bagi porsi antara jajan, bagi-bagi angpao, dan investasi. Dengan begitu, semangat Lebaran nggak cuma bikin hati senang, tapi juga bikin kondisi ekonomi negara makin tangguh menghadapi tantangan global. Keren banget kan, ternyata gaya belanja kita punya pengaruh sebesar itu buat negara?
Nah, sekarang jujur deh, THR kamu biasanya habis buat apa saja? Lebih banyak buat belanja baju baru, borong makanan, atau justru sudah habis duluan buat bayar cicilan yang menumpuk? Coba share dong strategi "alokasi cuan" versi kamu di kolom komentar, siapa tahu bisa jadi inspirasi buat yang lain biar nggak cuma numpang lewat doang THR-nya!
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
