Nasib Sekolah dan Pesantren Pasca Bencana
Agama | 2026-02-12 16:28:32
Nasib Sekolah dan Pesantren Pasca Bencana
Oleh Anna Franicasari
Aktivis Dakwah
Akhir-akhir ini banyak bencana alam yang tengah menimpa masyarakat dunia seperti badai, gunung merapi yang meletus, dan gempa bumi. Peristiwa-peristiwa tersebut tentunya menguji kita semua dan setidaknya melatih kesabaran kita. Selain itu juga kita harus tetap yakin bahwa ada hikmah di setiap peristiwa dan Allah akan memberikan jalan keluarnya. Termasuk bencana banjir bandang yang melanda gedung sekolah dan pesantren di wilayah sumatera yang mana gedung-gedung ini merupakan pilar pelatihan iman dan akhlak.
Dan sungguh, Kami benar-benar akan menguji kamu sehingga Kami mengetahui orang-orang yang benar-benar berjihad dan bersabar di antara kamu; dan akan Kami menguji perihal kamu
QS Muhammad ayat 31
Bencana alam kembali menyisakan persoalan serius bagi dunia pendidikan. Dilaporkan dari (Kompas, 12/01/2026) banjir bandang melanda sekolah dan pesantren yang ada di wilayah sumatera, terutama aceh utara dan aceh timur. Berdasarkan informasi dari Ketua PCNU kota lhokseumawe, bahwa sesuai dengan data dinas pendidikan dayah (Pesantren) aceh utara,tercatat adanya 211 pesantren yang rusak akibat bencana banjir dan longsor ( kompas.com , 25-12-2025). Data sementara yang dihimpun, total sekolah yang terdampak banjir di wilayah sumatera, mencapai sekitar 4.900 sekolah. Mayoritas berada di wilayah aceh ( detik.com , 20-01-2026). Meskipun diberitakan ada yang sudah mulai aktif kembali. Namun masih banyak sekolah dan pesantren yang tertutup lumpur, bahkan mengalami kerusakan parah, dan ada juga yang hanyut terbawa arus banjir.
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ Telepon Seluler dan Telepon Seluler الصّٰبِرِيْنَ ١٥٥
Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar.
QS Al-Baqarah · Ayat 155
Pemulihan pascabencana ini harus segera diatasi karena pendidikan adalah faktor utama yang penting bagi generasi muda agar pendidikan bisa segera berjalan normal. Anak sekolah tidak hanya berdampak pada fasilitas fisik namun juga pada pemulihan mental. Disinilah tanggung jawab negara. Ironisnya negara berperan ala kadarnya dan pemulihan belum semuanya tuntas. Inilah cermin sistem kapitalisme yang sangat membedakan peran negara. Bahkan negara harus segera mengadakan konsolidasi dengan pihak terkait, guna memulihkan kondisi pasca bencana agar tidak berlarut-larut dan menjadi tugas yang menumpuk. Negara tidak diperbolehkan memberikan pemulihan kepada masyarakat, guru, atau orang tua murid yang juga menjadi korban bencana karena ini mencerminkan ciri dari sistem kapitalis sekuler yang memandang pendidikan sebatas sektor administrasi dan angganggara.
Pada masa Khalifah Umar bin Khaththab ra., ketika terjadi paceklik besar yang dikenal sebagai عام الرمادة (tahun kelabu), negara tetap memastikan pendidikan berjalan. Para guru dan pencetakan ilmu tetap mendapatkan perhatian dan menyalurkan kebutuhan dari baitul mal agar proses pendidikan tidak terhenti (Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah).
Dalam sistem pendidikan islam yang berbasis akidah islam untuk membentuk anak didik berkepribadian dan pola pikir islam. Islam mewajibkan negara untuk menjamin pendidikan gratis dan juga harus memastikan bahwa anak tidak hilang hak pendidikannya. Selain itu negara juga bertanggung jawab menjamin proses pendidikan. Semuanya untuk mendorong sinergi antara pemerintah , lembaga pengelola dan masyarakat untuk bangkit memperbaiki kualitas pendidikan, serta memberikan perlindungan, termasuk penanganan trauma bagi siswa dan pengajar pada umumnya. Dalam sistem Islam, negara sebagai raa'in (pengurus rakyat), tidak sekedar mengatur. Bahkan negara harus memastikan sekolah dan pesantren segera sejahtera, guru dan santri terlindungi, serta proses pendidikan berjalan tanpa tertunda. Peran utama muslim adalah menjadi khalifah dimuka yaitu bumi yang mengelola sumber daya alam guna kesejahteraan dan kebaikan hidup manusia. Sudah seharusnya umat bangkit serta melahirkan generasi khairu ummah agar siap menegakkan syariat Islam dimuka bumi ini .
Wallahu a'lam bishawab
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
