Drone Penyemprot Pestisida: Jalan Baru Menuju Pertanian yang Lebih Aman dan Presisi
Riset dan Teknologi | 2026-02-11 08:18:15Teknologi drone untuk penyemprotan pestisida di sektor pertanian dan perkebunan sebenarnya bukan hal yang sepenuhnya baru. Namun, harus diakui, penggunaannya belum lazim. Di banyak sentra produksi, mayoritas petani masih mengandalkan cara konvensional: sprayer gendong, pompa mesin, atau semprot manual berbasis tenaga kerja. Drone baru digunakan oleh sebagian kecil pelaku, biasanya kelompok tani yang sudah terhubung dengan layanan jasa alsintan, perusahaan, atau petani yang memiliki akses modal dan informasi lebih baik.
Meski demikian, pengalaman lapangan menunjukkan bahwa kegiatan penyemprotan menggunakan drone memberikan berbagai keuntungan bagi petani. Dengan teknologi pesawat tanpa awak, proses distribusi pestisida menjadi lebih cepat, merata, dan akurat dibandingkan metode manual. Drone mampu menjangkau area pertanian yang luas dengan waktu yang jauh lebih singkat, sehingga membantu petani menghemat tenaga dan biaya operasional.
Narasi efisiensi ini penting, tetapi belum lengkap. Dalam urusan pengendalian penyakit tanaman, pertanyaan yang harus selalu diajukan bukan hanya “lebih cepat atau tidak”, melainkan “lebih tepat atau tidak”. Drone memang mempercepat pekerjaan. Namun agar benar-benar menjadi bagian dari transformasi pertanian modern, drone harus ditempatkan dalam kerangka yang lebih luas: keselamatan kerja, presisi pengendalian, dan keberlanjutan lingkungan.
Efisiensi yang terasa nyata di lapangan
Di tengah keterbatasan tenaga kerja pertanian, teknologi yang dapat menghemat waktu dan tenaga jelas menarik. Pekerjaan penyemprotan adalah salah satu aktivitas paling berat dalam budidaya: repetitif, memerlukan stamina, dan harus dilakukan tepat waktu.
Pada musim hujan, tantangannya bertambah. Lahan becek membuat penyemprotan manual lebih lambat, sementara penyakit berkembang lebih cepat pada kelembapan tinggi. Keterlambatan dua-tiga hari sering menjadi batas tipis antara serangan ringan dan ledakan penyakit di lapangan. Dalam konteks ini, drone menawarkan respons cepat: beberapa hektar bisa disemprot dalam waktu yang jauh lebih singkat dibandingkan penyemprotan manual.
Bukan hanya cepat, drone juga memberi peluang “keteraturan kerja”. Jalur semprot dapat dibuat lebih konsisten, dan distribusi larutan pestisida lebih terkendali. Ini membantu petani mengurangi variasi semprot yang kerap terjadi pada metode manual, misalnya ada petak yang terlalu banyak mendapat semprotan, sementara petak lain luput.
Keselamatan kerja: manfaat yang sering terlupakan
Salah satu nilai terbesar drone justru bukan efisiensi, melainkan keselamatan.
Dalam praktik lapangan, petani penyemprot adalah kelompok yang paling rentan terpapar pestisida. Mereka berhadapan langsung dengan kabut semprot, sering kali tanpa alat pelindung diri yang memadai. Dalam jangka pendek, paparan dapat memicu iritasi, pusing, mual, atau sesak. Dalam jangka panjang, risiko kesehatan menjadi lebih kompleks dan kerap tak tercatat sebagai “biaya produksi”.
Drone mengubah posisi petani dari “berada di dalam kabut semprot” menjadi “mengendalikan semprotan dari jarak aman”. Petani tidak perlu lagi bersentuhan langsung dengan bahan kimia pestisida. Hal ini menjadi langkah penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman dan sehat.
Namun, keselamatan tetap membutuhkan disiplin. Risiko masih ada pada tahap pencampuran larutan, pengisian tangki drone, pencucian alat, dan pembuangan limbah. Teknologi harus disertai edukasi dan SOP yang jelas, agar keselamatan benar-benar meningkat, bukan sekadar berpindah bentuk.
Presisi semprot: di sinilah ilmu bekerja
Keunggulan drone sering disebut “akurat”. Dalam konteks pertanian presisi, istilah ini seharusnya berarti lebih dari sekadar jalur semprot yang rapi. Pengendalian penyakit tanaman menuntut ketepatan biologis: pestisida harus mencapai titik infeksi, menempel pada bagian tanaman yang relevan, dan berada pada dosis yang sesuai.
Banyak pestisida bekerja secara protektif. Artinya, keberhasilan sangat bergantung pada cakupan permukaan: apakah pestisida benar-benar melapisi daun atau organ tanaman yang diserang. Drone umumnya menggunakan volume semprot rendah dan droplet lebih halus. Ini efisien, tetapi juga menimbulkan tantangan: droplet halus mudah terbawa angin (drift) dan tidak selalu mampu menembus tajuk rapat.
Karena itu, keberhasilan drone bukan sekadar membeli unit dan menerbangkannya, melainkan melakukan kalibrasi: ukuran droplet, ketinggian terbang, kecepatan, lebar lintasan, dan penyesuaian terhadap arah angin serta kelembapan. Tanpa itu, penyemprotan memang cepat, tetapi deposit pestisida bisa tidak mencukupi. Akibatnya, penyakit tidak terkendali, petani menaikkan dosis, lalu biaya meningkat, sebuah lingkaran yang justru bertentangan dengan tujuan efisiensi.
Resistensi: risiko jika presisi diabaikan
Ada bahaya lain yang lebih sunyi: resistensi pestisida.
Patogen tanaman bukan musuh pasif. Jamur dan organisme sejenis jamur mampu beradaptasi terhadap tekanan seleksi bahan aktif. Jika pestisida diaplikasikan tidak tepat dosis atau tidak merata sehingga patogen terpapar tetapi tidak mati maka seleksi terjadi. Yang bertahan akan berkembang, dan perlahan bahan aktif kehilangan daya.
Drone dapat menjadi alat yang membantu mencegah resistensi jika dipakai benar: aplikasi berdasarkan kebutuhan, rotasi bahan aktif, dan penyemprotan tepat sasaran. Namun drone juga bisa mempercepat resistensi bila hanya dijadikan alat memperbanyak penyemprotan tanpa perhitungan.
Pada akhirnya, drone bukan sekadar mesin terbang di atas lahan. Ia adalah simbol perubahan cara kita memandang pertanian: dari sekadar kerja fisik menjadi kerja yang berbasis data, presisi, dan keselamatan. Bila ditata dengan ilmu dan etika, drone dapat menjadi alat penting dalam menjaga tanaman tetap sehat tanpa mengorbankan manusia dan lingkungan yang menopang produksi itu sendiri.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
