Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Leo Saripianto

Banjir dan Perilaku Manusia: Bencana Alam atau Ulah Kita Sendiri?

Curhat | 2026-01-26 18:07:19

Setiap musim hujan datang, berita tentang banjir seakan menjadi langganan. Jalanan berubah menjadi sungai, rumah terendam, aktivitas lumpuh, dan kerugian pun tak terhitung. Banjir sering dianggap sebagai bencana alam yang tak terelakkan, seolah manusia hanyalah korban pasif. Padahal, jika ditelusuri lebih dalam, banjir memiliki hubungan yang sangat erat dengan perilaku manusia.

Banjir Bukan Sekadar Masalah Hujan

Hujan memang pemicu utama banjir, tetapi hujan lebat tidak selalu berujung pada genangan. Banyak daerah dengan curah hujan tinggi tetap aman dari banjir karena sistem lingkungannya masih bekerja dengan baik. Masalah muncul ketika daya dukung alam terganggu.

Di sinilah peran manusia menjadi krusial. Ketika tanah kehilangan kemampuannya menyerap air, sungai menyempit, dan saluran air tersumbat, hujan yang seharusnya menjadi berkah justru berubah menjadi ancaman.

(Ilustrasi: Banjir)

Sampah: Kebiasaan Kecil, Dampak Besar

Salah satu perilaku manusia yang paling nyata berkontribusi terhadap banjir adalah membuang sampah sembarangan. Sampah plastik, styrofoam, dan limbah rumah tangga kerap berakhir di selokan dan sungai. Lama-kelamaan, aliran air tersumbat dan meluap ke permukiman.

Ironisnya, banyak orang menyalahkan pemerintah saat banjir datang, padahal penyebabnya sering kali berasal dari kebiasaan sehari-hari yang dianggap sepele. Satu kantong plastik mungkin tampak kecil, tetapi jutaan kebiasaan serupa menciptakan bencana kolektif.

Alih Fungsi Lahan dan Hilangnya Resapan Air

Perilaku manusia dalam skala yang lebih besar terlihat dari alih fungsi lahan. Hutan, sawah, dan lahan terbuka yang seharusnya menjadi area resapan air diubah menjadi perumahan, pusat perbelanjaan, dan kawasan industri. Beton dan aspal menggantikan tanah, sehingga air hujan tidak lagi meresap, melainkan langsung mengalir di permukaan.

Akibatnya, volume air yang masuk ke sungai meningkat drastis dalam waktu singkat. Sungai pun tak mampu menampungnya, dan banjir menjadi konsekuensi yang sulit dihindari.

Sungai yang Dipersempit oleh Manusia

Sungai pada dasarnya memiliki ruang alami untuk meluap saat debit air meningkat. Namun, perilaku manusia sering kali mengabaikan hal ini. Bangunan liar di bantaran sungai, reklamasi, dan penyempitan aliran sungai menghilangkan ruang tersebut.

Ketika sungai tak lagi punya “napas”, air akan mencari jalan sendiri dan biasanya itu berarti masuk ke rumah-rumah warga.

Budaya Reaktif, Bukan Preventif

Masalah banjir juga berkaitan dengan pola pikir manusia yang lebih reaktif daripada preventif. Penanganan sering kali baru dilakukan setelah banjir terjadi: bantuan darurat, evakuasi, dan perbaikan sementara. Padahal, pencegahan seperti edukasi lingkungan, pengelolaan sampah, penataan kota, dan perlindungan daerah resapan jauh lebih efektif dalam jangka panjang.

Sayangnya, upaya pencegahan sering kalah pamor dibandingkan solusi instan.

Tanggung Jawab Bersama

Banjir bukan sepenuhnya kesalahan alam, tetapi juga cerminan hubungan manusia dengan lingkungannya. Pemerintah memiliki peran penting dalam kebijakan dan tata kelola lingkungan, tetapi masyarakat pun tak bisa lepas tangan. Perubahan besar selalu dimulai dari tindakan kecil: tidak membuang sampah sembarangan, menjaga saluran air, menanam pohon, dan mendukung kebijakan ramah lingkungan.

Banjir sebagai Cermin Perilaku

Pada akhirnya, banjir adalah cermin dari perilaku manusia itu sendiri. Alam hanya merespons apa yang kita lakukan terhadapnya. Jika lingkungan diperlakukan dengan serakah dan abai, maka banjir adalah salah satu cara alam “berbicara”.

Pertanyaannya bukan lagi “mengapa banjir terus terjadi?”, melainkan “kapan kita mulai berubah?”.

---

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image