Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image SAEPANI universitas Pamulang

Kecerdasan Buatan dalam Kehidupan Sehari-hari: Peluang Besar yang Bisa Menjadi Ancaman Nyata

Teknologi | 2026-01-23 18:20:37

Oleh: Saepani

Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah melewati fase eksperimen dan kini hadir sebagai bagian nyata dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa disadari, manusia berinteraksi dengan AI hampir setiap waktu—melalui ponsel pintar, media sosial, aplikasi navigasi, layanan perbankan, hingga sistem pendidikan dan kesehatan. AI bukan lagi teknologi masa depan, melainkan kenyataan hari ini.

Kecerdasan Buatan (AI), Sumber: Pinterest

Di satu sisi, AI menawarkan peluang luar biasa. Teknologi ini membantu tenaga medis menganalisis penyakit dengan lebih cepat, memudahkan proses belajar melalui sistem pembelajaran adaptif, serta meningkatkan efisiensi bisnis dan layanan publik. AI menjanjikan kecepatan, presisi, dan kemudahan yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan.

Namun, di balik kemajuan tersebut, tersimpan permasalahan serius yang sering diabaikan: AI tidak hanya membantu manusia, tetapi juga mulai membentuk keputusan manusia.

Pribadi pertama adalah privasi data. AI bekerja dengan mengumpulkan dan memproses data dalam jumlah besar—mulai dari kebiasaan digital, preferensi pribadi, hingga informasi sensitif. Ketika data menjadi “bahan bakar” utama AI, manusia secara perlahan berubah menjadi objek yang terus dipantau, dianalisis, bahkan diprediksi perilakunya. Tanpa perlindungan yang kuat, kebocoran dan ringkasan data bukan lagi risiko teoritis, melainkan ancaman nyata.

Masalah berikutnya adalah bias algoritma. AI belajar dari data manusia, sementara data itu sendiri sering kali tidak netral. Akibatnya, keputusan yang dihasilkan AI dapat memperkuat ketimpangan sosial—dalam seleksi kerja, akses kredit, hingga rekomendasi informasi. Diskriminasi tidak lagi dilakukan oleh individu, melainkan oleh sistem yang tampak objektif, namun sebenarnya bias.

AI juga memicu perubahan besar di dunia kerja. Otomatisasi memang meningkatkan efisiensi, namun sekaligus mengancam pekerjaan tertentu dan memperlebar jurang antara mereka yang menguasai teknologi dan yang tertinggal. Tantangannya bukan sekadar kehilangan pekerjaan, melainkan ketidakmampuan masyarakat beradaptasi dengan perubahan yang terlalu cepat.

Yang paling ketergantungan adalah ketergantungan tanpa literasi. Banyak orang yang menggunakan AI tanpa memahami cara kerja, batasannya, dan risikonya. Dalam kondisi ini, manusia menjadi pengguna pasif—menerima rekomendasi, keputusan, dan arah dari sistem yang tidak sepenuhnya dipahami.

Pada titik ini, AI tidak lagi sekadar soal teknologi, melainkan soal etika, keadilan, dan kendali manusia di masa depan. Tanpa literasi digital yang mumpuni, regulasi yang kuat, dan kesadaran kritis, peluang besar AI justru berpotensi berubah menjadi ancaman struktural bagi kehidupan sosial.

PENUTUP

Kecerdasan buatan akan terus berkembang, terlepas dari kesiapan manusia. Yang menjadi pertaruhan bukan apakah AI akan digunakan, melainkan siapa yang mengendalikan, dan siapa yang mengendalikan. Masa depan AI seharusnya tidak hanya diukur dari kecanggihannya, tetapi dari mana ia tetap berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Terpopuler di

 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image