Banjir Rendam Aceh Tamiang, Warga Kritik Tata Kelola Lingkungan dan Respons Pemerintah
Eduaksi | 2026-01-23 11:45:25Aceh Tamiang – Banjir kembali melanda Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh. Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah hulu sejak beberapa hari terakhir menyebabkan sejumlah sungai meluap dan merendam permukiman warga di berbagai kecamatan. Ribuan rumah terdampak, aktivitas warga lumpuh, dan sebagian fasilitas umum tidak dapat digunakan.
Berdasarkan laporan sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tamiang, banjir merendam kawasan permukiman dengan ketinggian air bervariasi antara 30 sentimeter hingga lebih dari satu meter. Sejumlah warga terpaksa mengungsi ke rumah kerabat maupun posko darurat yang disiapkan pemerintah daerah.
Selain merendam rumah, banjir juga mengganggu akses jalan penghubung antar-kecamatan. Beberapa ruas jalan utama tidak bisa dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat, sehingga distribusi logistik dan aktivitas ekonomi masyarakat terhambat. Sekolah-sekolah di wilayah terdampak terpaksa menghentikan kegiatan belajar mengajar sementara waktu.
BPBD menyebutkan, luapan air dipicu oleh curah hujan tinggi serta meningkatnya debit sungai yang tidak mampu lagi menampung aliran air dari daerah hulu. Namun, warga menilai banjir kali ini bukan sekadar bencana alam musiman, melainkan akibat persoalan lingkungan yang belum ditangani secara serius.
Kontroversi: Dugaan Kerusakan Lingkungan
Banjir Aceh Tamiang kembali memunculkan kontroversi terkait kerusakan lingkungan, khususnya di wilayah hulu sungai. Sejumlah warga dan pegiat lingkungan menyoroti aktivitas pembukaan lahan, perkebunan skala besar, serta dugaan penebangan hutan yang dinilai memperparah risiko banjir.
Menurut warga, banjir yang sebelumnya hanya terjadi di daerah bantaran sungai kini semakin meluas hingga ke permukiman yang selama ini relatif aman. Mereka menilai daya serap tanah menurun drastis akibat alih fungsi lahan yang tidak terkendali.
“Dulu banjir tidak separah ini. Sekarang hujan sebentar saja air cepat naik,” ujar salah satu warga terdampak.
Aktivis lingkungan di Aceh menilai lemahnya pengawasan tata ruang dan penegakan hukum terhadap perusakan lingkungan menjadi faktor utama yang membuat banjir terus berulang setiap tahun.
Respons Pemerintah Dipertanyakan
Kontroversi juga muncul terkait respons pemerintah daerah dalam penanganan banjir. Sejumlah warga mengeluhkan lambatnya bantuan logistik dan minimnya upaya pencegahan jangka panjang. Bantuan seperti makanan, selimut, dan obat-obatan dinilai belum merata diterima oleh seluruh korban.
Pemerintah daerah melalui BPBD menyatakan telah menurunkan tim ke lapangan untuk melakukan evakuasi, pendataan korban, serta penyaluran bantuan darurat. Selain itu, pemerintah mengimbau warga untuk tetap waspada karena potensi hujan susulan masih tinggi.
Namun, masyarakat mendesak agar pemerintah tidak hanya fokus pada penanganan darurat, tetapi juga serius melakukan evaluasi tata kelola lingkungan, normalisasi sungai, serta pengendalian aktivitas di wilayah hulu agar bencana serupa tidak terus berulang.
Ancaman Berulang
Banjir di Aceh Tamiang tercatat kerap terjadi hampir setiap tahun. Tanpa adanya langkah konkret dan berkelanjutan, warga khawatir banjir akan terus menjadi ancaman tahunan yang merugikan masyarakat, baik secara ekonomi, kesehatan, maupun keselamatan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
