Setan dalam Hati Ikut Bicara
Sastra | 2026-01-21 20:02:54
Cerpen ini mengisahkan dinamika psikologis dan perjalanan self-growth seorang pemuda bernama Daffa dalam menghadapi obsesi emosional yang kian memudar. Berlatar belakang fanatisme terhadap dunia MotoGP, kisah ini menelusuri hubungan daring antara Daffa, seorang pendukung Enea Bastianini dari Ponorogo, dengan Nesa, penggemar Jorge Martin asal Bogor. Hubungan yang awalnya terbangun di atas frekuensi rivalitas yang seru di grup WhatsApp, perlahan berubah menjadi sebuah beban emosional yang tidak seimbang.
Intrik cerita memuncak pada tahun 2025, di mana Daffa harus berhadapan dengan "setan dalam hati" yang terus membisikkan narasi pelarian dan perselingkuhan hati sebagai kompensasi atas sikap Nesa yang abai, tidak amanah terhadap janji, dan selalu melakukan maneuver menghindar. Melalui metafora lintasan balap, pembaca diajak menyelami perasaan lelah Daffa dalam menjaga "mesin" persahabatan yang sudah kehilangan bahan bakar. Terinspirasi dari lirik lagu "Pudar" milik Rossa, cerita ini menggambarkan proses cut-loss emosional saat Daffa menyadari bahwa kebahagiaan autentik tidak ditemukan melalui validasi orang lain yang sulit diajak kompromi.
Narasi ini ditutup dengan sebuah resolusi yang kuat mengenai harga diri dan kedewasaan. Daffa akhirnya memilih untuk menarik rem dalam-dalam dari sirkuit imajiner masa lalunya, melakukan unfollow sebagai bentuk pelepasan, dan kembali pada realitas yang lebih masif: keluarga, sahabat nyata, dan pengembangan diri. Sebuah kisah tentang keberanian berhenti memacu gas di lintasan yang telah ditutup dan kesiapan untuk menjemput masa depan dengan frekuensi yang benar-benar selaras.
Desember 2025 di Ponorogo tidak pernah terasa sedingin ini. Angin yang berembus dari lereng Gunung Lawu membawa aroma tanah basah yang pekat, menyelinap di antara celah jendela kamar indekosku. Aku, Daffa, duduk terpaku menatap layar ponsel yang berpendar di tengah kegelapan. Di sana, di kolom chat yang telah lama membisu, nama Nesa masih bertengger dengan sisa-sisa percakapan yang hambar. Aku teringat masa-masa pandemi tahun 2020, saat dunia terasa sempit namun ruang digital terasa begitu luas. Kala itu, Nesa adalah segalanya; ia adalah oasis di tengah gersangnya interaksi sosial akibat pembatasan wilayah.
“Wah, Nesa Bogor! Kamu baru saja bergabung! Fabio sedang dalam performa terbaik. Kamu menjagokan siapa?” tanyaku di grup WhatsApp komunitas MotoGP kala itu, mengawali segalanya dengan antusiasme yang meluap-luap.
“Aku penggemar berat Jorge Martin. The Martinator punya gaya balap yang agresif, Daffa. Berbeda dengan idolamu, Enea Bastianini, yang kadang terlalu tenang di awal,” balasnya dengan analisis yang tajam.
Interaksi itu adalah percikan api yang membakar semangatku selama bertahun-tahun. Bagiku, Nesa bukan sekadar teman mengobrol; ia adalah rival sekaligus sahabat daring yang sefrekuensi. Aku begitu fanatik menjaganya karena merasa ia adalah satu-satunya orang yang mampu mengimbangi obsesiku pada lintasan balap. Namun, seiring berjalannya waktu, mesin persahabatan ini mulai kehilangan tenaganya. Nesa mulai menunjukkan sikap yang sulit dikompromi dan tidak amanah terhadap janji-janji kecil yang ia buat sendiri.
“Nes, kamu masih mengikuti perkembangan MotoGP?” tanyaku suatu sore di pertengahan 2022.
“Tidak lagi ????,” jawabnya singkat. Jawaban yang seharusnya menjadi lampu kuning bagiku untuk mulai menarik rem, namun setan dalam hatiku justru membisikkan hal lain. Ia seolah berkata bahwa aku harus terus mengejarnya, bahwa aku punya banyak teman lelaki lain tapi hanya dia yang spesial karena label "pendukung Martin" yang tersemat padanya.
“Sayang sekali. Padahal, persaingan memperebutkan kursi pabrikan Ducati 2023 antara Martin dan Bastianini semakin memanas,” aku mencoba memancingnya kembali ke lintasan yang sama.
“Haha, kamu memang penggemar fanatik. Beri tahu aku saja jika nanti Martin berhasil menjadi juara dunia, ya,” balasnya, sebuah janji yang terasa manis namun sebenarnya adalah awal dari sikap abainya.
Setan dalam hatiku terus bicara, menghasutku untuk tetap bertahan meski frekuensi kami tak lagi searah. Aku terjebak dalam delusi bahwa jika aku terus memberikan informasi terbaru, jika aku terus menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun, maka ia akan kembali menjadi Nesa yang dulu—gadis yang antusias membahas starting grid hingga larut malam. Aku menjadi terlalu protektif pada kenangan, mengabaikan fakta bahwa sejak September 2021, jiwanya telah benar-benar keluar dari sirkuit persahabatan ini.
Setiap kali aku mencoba masuk ke frekuensi yang lebih personal, seperti menyinggung komitmen pertemanan atau sekadar menagih janji ucapan ulang tahun pada 4 April, Nesa selalu bermanuver menghindar. Ia persis pembalap yang sengaja keluar jalur demi menghindari kontak fisik, meninggalkan aku dalam ketidakpastian yang getir.
“Daffa, aku ini kenapa ya? Aku sangat ceroboh...” ucapnya melalui telepon suatu hari di tahun 2024, saat ia sedang tertimpa masalah peretasan akun. Saat itu, aku merasa menjadi sosok yang paling diandalkan. Aku merasa menang. Namun, kemenangan itu semu. Begitu masalahnya usai, ia kembali ke mode pengabaian. Output dari hubungan ini tidak pernah seimbang. Aku memacu adrenalin di lintasan kenangan seperti Bastianini yang mengejar podium, sementara ia sudah memilih untuk parkir di pit stop Bogor dan menutup pintu rapat-rapat.
Kini, menatap tanggal 17 Desember 2025 di kalender, aku menyadari bahwa rasa cinta dan kepedulian itu telah pudar. Lirik lagu yang sering kudengar di radio seolah menjadi kenyataan: Kurasakan pudar dalam hatiku, rasa cinta yang ada untuk dirimu. Kulelah dengan semua yang ada, inginku lepas semua. Aku menyadari bahwa selama ini aku hanya mencintai bayang-bayang rivalitas Martin-Bastianini yang aku ciptakan sendiri. Nesa bukanlah orang yang tepat untuk menerima seluruh dedikasiku.
Memasuki tahun 2024, ketidakseimbangan itu bukan lagi sekadar firasat, melainkan luka yang menganga. Aku terjebak dalam labirin emosi yang menguras logika. Di satu sisi, aku sadar Nesa telah menjadi orang asing, namun di sisi lain, setan dalam hatiku terus ikut bicara, menghasutku dengan narasi-narasi semu. Ia berbisik bahwa pengabaian Nesa adalah ujian kesetiaan, bahwa aku harus terus bertahan karena dialah satu-satunya "rival" yang sepadan.
Suatu malam di bulan April 2024, tepat pada hari ulang tahunku yang ke-20, aku menatap layar ponsel hingga mataku perih. Tidak ada notifikasi dari Nesa. Padahal, aku sudah memberikan clue berkali-kali sejak Maret.
"Nes, kamu lihat statusku tadi? Aku sedang merayakan syukuran kecil-kecilan," tulisku akhirnya, merendahkan harga diri demi sebuah pengakuan.
Dua jam kemudian, balasan itu datang: "Oh, maaf Daffa, aku baru bangun tidur. Selamat ulang tahun ya, semoga makin sukses."
Hanya itu. Tanpa emotikon api yang dulu sering ia kirim, tanpa analisis tajam tentang masa depanku. Hatiku mencelos. Setan dalam hati kembali berbisik, "Bagaimana kalau kau cari pelarian saja? Kau punya banyak teman wanita di organisasi, kenapa harus terpaku pada satu orang yang menganggapmu beban?" Namun, sisi obsesifku menjawab, "Tidak, hanya Nesa yang mengerti arti rivalitas Martin dan Bastianini. Hanya dia."
Ketegangan mencapai puncaknya saat aku memutuskan untuk melakukan perjalanan singkat ke Bogor pada pertengahan 2024 dengan alasan urusan organisasi, padahal tujuanku hanya satu: ingin melihat apakah frekuensi kami masih bisa diselamatkan secara tatap muka. Aku mengirim pesan saat tiba di Stasiun Bogor.
Daffa: "Nes, aku sedang di Bogor. Ada waktu untuk sekadar minum kopi? Aku ingin memberikan oleh-oleh dari Ponorogo."
Nesa: "Waduh, aku sedang sibuk sekali, Daf. Ada acara keluarga. Lain kali saja ya."
Jawaban itu seperti highside crash di tikungan tajam. Aku berdiri di tengah riuhnya Kota Hujan, merasa seperti penonton gelap di sirkuit hidupnya sendiri. Aku melihatnya mengunggah Instagram Story beberapa jam kemudian; bukan acara keluarga, melainkan foto dua cangkir kopi dengan caption yang ambigu. Saat itulah lirik lagu itu terngiang hebat di kepalaku: Kurasakan pudar dalam hatiku... kulelah dengan semua yang ada.
"Kenapa kau tidak selingkuh saja dari perasaanmu ini, Daffa?" bisik setan itu lagi, makin nyaring. "Lihatlah, dia bahkan tidak menghargai kehadiranmu yang sudah menempuh ratusan kilometer."
Aku mencoba melawan. "Tapi dia pernah mengandalkanku saat akun Telegram-nya diretas! Dia bilang hanya aku yang bisa ia percaya!"
Namun, memoriku segera menampar kenyataan itu. Setelah peretasan itu beres, Nesa kembali menghilang. Ia hanya mencariku saat butuh technical support atau pelampiasan rasa cerobohnya. Aku bukan sahabat, aku hanyalah service area yang ia datangi saat motornya mogok. Begitu mesinnya kembali menyala, ia melesat pergi meninggalkan kepulan asap yang menyesakkan dadaku.
"Nes," aku mengirim pesan terakhir malam itu di Bogor, "Apakah aku masih dianggap sahabat? Karena rasanya belakangan ini aku seperti bicara dengan dinding."
Nesa: "Daffa, jangan berlebihan. Aku memang jarang buka ponsel. Kamu terlalu overthinking."
Overthinking. Kata sakti yang selalu ia gunakan untuk membungkam keresahanku. Ia tidak amanah terhadap janjinya untuk mencatat "nomor balap" ultahku, ia sulit diajak kompromi untuk sekadar berbagi cerita sepuluh menit, dan ia selalu bermanuver menghindar setiap kali aku menuntut kejelasan frekuensi.
Puncaknya adalah saat Gibran mengirimkan tangkapan layar akun private Nesa yang tidak bisa kuakses. Di sana, ia berpose mesra dengan seorang lelaki sambil memegang helm—helm yang bukan merek favorit Jorge Martin, melainkan merek yang pernah ia ejek dulu.
"Daf, lepaskan saja," ucap Gibran melalui telepon. "Dia sudah membangun sirkuit baru. Dia tidak lagi peduli pada starting grid yang kau susun dengan susah payah."
Mendengar itu, setan dalam hatiku tiba-tiba bungkam. Kegaduhan di kepalaku digantikan oleh kesunyian yang mencekam. Aku menyadari bahwa pengabaiannya selama ini bukan karena ia sibuk, melainkan karena aku sudah tidak lagi terdaftar dalam jadwal balapannya. Aku telah kalah secara telak, bukan karena Martin lebih cepat dari Bastianini, tapi karena aku memacu motor di lintasan yang sudah ia tutup sejak September 2021.
Aku menatap hujan Bogor dari balik jendela hotel murah. Rasa cinta itu benar-benar pudar, menyisakan kelelahan yang luar biasa. Aku ingin lepas semua. Aku tidak ingin lagi menjadi tawanan kenangan masa pandemi yang usang.
Malam itu, 17 Desember 2025, menjadi saksi bisu atas runtuhnya sebuah obsesi yang telah kupupuk selama lima tahun. Aku duduk di sudut kamar indekosku di Ponorogo, mengamati smartphone yang tergeletak pasif di atas meja kayu. Tidak ada lagi pesan manis, tidak ada lagi ucapan selamat ulang tahun untuk Nesa yang kuketik dengan jari gemetar. Di dalam dadaku, sebuah pertempuran hebat sedang berlangsung antara ego yang keras kepala dan kenyataan yang dingin.
"Ayo, Daffa," bisik setan dalam hatiku dengan suara yang serak dan menghasut. "Bagaimana kalau kau selingkuh saja dari rasa sakit ini? Kau punya banyak teman wanita di organisasi, bukan? Ada Alfiyah, ada Anggun, ada Icha. Kenapa kau harus meratapi satu gadis Bogor yang bahkan tidak peduli kau masih bernapas atau tidak? Sepertinya kau akan lebih bahagia jika mencari pengganti sekarang juga."
Aku memejamkan mata, membiarkan lirik lagu Rossa itu bergema di tempurung kepalaku seperti raungan mesin Ducati di lintasan lurus. Setan dalam hati ikut bicara, bagaimana kalau kuselingkuh saja... Namun, kali ini aku tidak membiarkan bisikan itu menang. Aku tahu, berselingkuh dari perasaan atau mencari pelarian hanya akan membuatku tetap terjebak dalam siklus yang sama.
"Cukup," gumamku pada kesunyian. "Aku tidak butuh pelarian. Aku butuh pelepasan."
Aku membuka kembali pesan-pesan lama kami. Aku melihat bagaimana Nesa selalu melakukan maneuver menghindar setiap kali aku mencoba menyinkronkan frekuensi. Ia tidak pernah amanah terhadap janjinya untuk mencatat tanggal 4 April sebagai "nomor balap" ultahku. Ia adalah sosok yang sangat sulit diajak kompromi; ia hanya hadir saat butuh technical support untuk akun Telegram-nya yang diretas, atau saat ia merasa ceroboh karena kehilangan dompet. Begitu badainya reda, ia kembali menjadi orang asing yang abai.
"Kau benar-benar sudah pudar, Nes," bisikku getir.
Tiba-tiba, ponselku bergetar. Sebuah notifikasi muncul, namun bukan dari Nesa. Itu dari Ibnu.
"Daf, jangan lihat Instagram Story Nesa malam ini. Aku serius."
Tentu saja, larangan itu justru menjadi magnet. Dengan tangan yang sedikit dingin, aku membuka aplikasi berlogo kamera itu. Di sana, Nesa mengunggah foto kue ulang tahun dengan takarir: "Terima kasih untuk kejutan manisnya, Sayang. Kamu memang yang paling tahu cara membuatku bahagia."
Deg. Rasanya seperti mengalami highside crash yang melemparku jauh dari aspal sirkuit. Selama ini, aku merasa menjadi sosok yang paling mengerti dia karena sejarah MotoGP kami. Ternyata, aku hanyalah penonton di tribun paling belakang sementara ada orang lain yang sudah berada di paddock hatinya.
"Mestinya kau cari pengganti diriku saja, karena kita sudah tak saling bicara," lirik itu menusuk tepat di jantungku. Benar. Kami memang sudah tidak saling bicara dalam bahasa yang sama sejak September 2021. Aku bicara tentang starting grid, dia bicara tentang melupakan. Aku bicara tentang komitmen, dia bicara tentang overthinking.
Dalam puncak klimaks emosional itu, aku mengambil sebuah langkah drastis. Aku tidak akan memaki, aku tidak akan menagih janji yang tidak amanah itu lagi. Aku menekan tombol unfollow dengan gerakan mantap. Klik. Seketika, beban seberat mesin Desmosedici seolah terangkat dari bahuku.
"Daffa, apa yang kau lakukan?" setan di hatiku menjerit panik. "Kau akan kehilangan satu-satunya koneksi dengan 'Martin'-mu!"
"Tidak," jawabku tegas dalam batin. "Aku bukan sedang kehilangan. Aku sedang mengembalikan harga diriku. Aku lelah dengan semua yang ada. Inginku lepas semua."
Aku menyadari bahwa kebahagiaan autentik tidak ditemukan melalui validasi dari seseorang yang menganggap kehadiranmu sebagai beban. Kedewasaan ini menuntutku untuk menerima bahwa beberapa orang hanya ditakdirkan menjadi bab singkat, bukan seluruh isi buku. Aku mulai menghapus folder foto-foto tangkapan layar percakapan kami yang selama ini kusimpan sebagai artefak kesetiaan semu.
Esok paginya, 18 Desember 2025, aku terbangun dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Aku tidak lagi mengecek last seen WhatsApp miliknya. Aku melangkah keluar kamar, menghirup udara Ponorogo yang segar, dan tersenyum melihat Bapak yang sedang memanaskan motor.
"Sudah selesai balapannya, Le?" tanya Bapak seolah mengerti badai semalam.
"Sudah, Pak. Saya sudah sampai di garis finis. Tapi bukan untuk menang darinya, melainkan untuk menang atas diriku sendiri," jawabku mantap.
Aku memutuskan untuk fokus pada hal-hal yang lebih nyata: tugas akhir kuliah, program Magang 1 yang memberiku perspektif baru tentang dunia pendidikan, dan menghabiskan waktu bersama sahabat-sahabat sejati seperti Rofiq dan Gibran yang frekuensinya tidak pernah memudar. Aku memarkirkan kenangan tentang Nesa di pit stop masa lalu secara permanen. Kini, aku siap memacu gas menuju masa depan, menjemput takdir yang benar-benar satu frekuensi—tanpa bisikan setan, tanpa janji yang dikhianati, dan tanpa rasa lelah yang sia-sia.
Malam semakin larut di Ponorogo, namun mataku belum juga terpejam. Tanggal 18 Desember 2025 telah tiba, menandai berakhirnya siklus tahunan yang dulu begitu menyiksaku. Aku duduk di bangku teras rumah, menatap langit yang bersih setelah diguyur hujan. Di tanganku, sebuah cokelat Kalpa berwarna biru—sisa dari pembagian syukuranku waktu itu—masih terbungkus rapi. Aku membukanya perlahan, menikmati tiap gigitannya sebagai simbol kemenangan kecil atas egoku sendiri.
Setan dalam hatiku, yang selama bertahun-tahun berteriak agar aku berselingkuh dari kenyataan atau mencari pelarian instan, kini hanya terdengar seperti bisikan lemah yang kian menjauh.
"Daffa," panggil Bapak yang tiba-tiba muncul dan duduk di sampingku. Beliau membawa dua cangkir kopi hitam yang mengepulkan uap tipis.
"Belum tidur, Pak?" tanyaku sambil membenarkan posisi duduk.
"Bapak tahu, malam ini ada beban yang baru saja kamu letakkan di jalanan," jawab Bapak filosofis. Beliau menyesap kopinya, lalu menatapku tajam. "Bagaimana rasanya tidak mengirim ucapan itu?"
Aku tersenyum tipis, sebuah senyuman yang benar-benar jujur. "Rasanya seperti berhasil melakukan overtaking di tikungan terakhir Mugello, Pak. Plong. Ternyata, selama ini saya hanya takut kehilangan label 'sahabat sefrekuensi' itu, padahal output-nya nol besar. Nesa benar-benar tidak amanah dengan janjinya sendiri."
Bapak mengangguk-angguk. "Itulah pendewasaan, Le. Self-growth itu sakit karena kita harus mencabut akar yang sudah terlanjur dalam. Kamu sudah benar menarik rem. Kalau dipaksakan terus, mesinmu bisa engine blow."
Aku teringat lirik lagu Rossa yang dulu selalu menghantuiku. Kini, bagian terakhirnya terasa seperti doa pelepasan: Maafkan aku jika kau kecewa, cintamu bukanlah untuk diriku. Jika memang semua kan jadi cerita, kutahu kau semakin terluka. Bedanya, kali ini aku tidak merasa terluka. Aku merasa bebas.
Ponselku bergetar. Sebuah pesan masuk dari Rofiq.
Rofiq: "Daf, besok jadi ngopi di tempat biasa, kan? Aku sudah siapkan daftar film sci-fi terbaru yang harus kita bedah. Jangan terlambat!"
Daffa: "Siap, Ro! Aku bawa narasi baru tentang bagaimana memenangkan balapan hidup tanpa harus punya rival. Sampai ketemu besok!"
Aku menutup aplikasi pesan itu dengan mantap. Aku menyadari bahwa frekuensiku kini telah selaras dengan orang-orang yang benar-benar ada di garis start bersamaku. Tidak ada lagi maneuver menghindar, tidak ada lagi pesan yang hanya berakhir menjadi centang dua abu-abu.
Keesokan paginya, aku terbangun dengan semangat yang berbeda. Aku membantu Ibu menyapu halaman, lalu bersiap berangkat ke kampus untuk mengurus administrasi skripsi. Di tengah jalan, aku berpapasan dengan Gibran.
"Oi, Daf! Wajahmu cerah sekali. Habis menang lotre ya?" goda Gibran sambil menepuk bahuku.
"Lebih dari itu, Bran. Aku baru saja memenangkan harga diriku kembali," jawabku sambil tertawa.
"Baguslah! Omong-omong, grup sedang ramai. Martin resmi pindah tim dan Bastianini makin gacor. Kamu sudah baca update-nya?"
Aku menggeleng pelan. "Aku akan baca nanti. Tapi sekarang, aku mau menikmati perjalananku sendiri dulu. Martin dan Bastianini punya lintasan mereka, dan aku punya lintasanku. Kita tidak perlu lagi menghubungkan hidup kita dengan nomor balap orang lain, kan?"
Gibran tertegun sejenak, lalu mengacungkan jempol. "Tepat sekali. Selamat datang di dunia nyata, kawan."
Aku melanjutkan langkah dengan keyakinan penuh. Kenangan tentang Nesa Bogor—gadis yang dahulu kuanggap sebagai oasis namun ternyata hanyalah fatamorgana—kini telah benar-benar pudar. Ia telah menjadi bagian dari pastikan cerita tentang kita yang telah lalu, hanya ada dalam ingatan hatimu.
Aku tidak lagi butuh validasi atau janji yang tidak amanah. Di bawah langit Ponorogo yang mulai membiru, aku memacu gas menuju masa depan. Aku tahu, di depan sana, di salah satu tikungan hidup yang tak terduga, jodoh yang benar-benar satu frekuensi sedang menungguku. Seseorang yang tidak perlu diingatkan untuk peduli, dan seseorang yang akan selalu menjaga komitmennya tanpa perlu diminta.
Balapan panjang itu telah usai. Dan untuk pertama kalinya, aku keluar sebagai juara bagi diriku sendiri.
Malam di penghujung Desember 2025 itu menjadi saksi bisu dari sebuah proses self-growth yang paripurna. Aku duduk di balkon indekos, menatap gemerlap lampu kota Ponorogo yang sesekali terbias oleh sisa air hujan di kaca jendela. Tidak ada lagi debar jantung yang menyakitkan, tidak ada lagi jemari yang gemetar menunggu notifikasi dari Bogor. Ponselku tergeletak di meja, menampilkan layar yang gelap—sebuah kontras dari tahun-tahun sebelumnya di mana layar itu adalah "pusat semesta" yang melelahkan.
Setan dalam hatiku, yang dulu begitu lantang menghasutku untuk mencari pelarian atau berselingkuh dari rasa sakit, kini telah kehilangan suaranya. Ia telah bungkam oleh kenyataan bahwa aku telah memilih untuk "melepaskan semua" demi harga diri yang lebih tinggi. Lirik lagu Rossa itu kini bukan lagi sebuah ratapan, melainkan sebuah proklamasi kemerdekaan: Kurasakan pudar dalam hatiku, rasa cinta yang ada untuk dirimu. Kulelah dengan semua yang ada, inginku lepas semua.
Tiba-tiba, pintu kamar diketuk. Ibnu masuk dengan membawa dua bungkus martabak manis.
"Masih merenung, Daf? Aku kira kamu sedang sibuk mengetik pesan panjang untuk 'Si Martinator' itu," goda Ibnu sambil duduk di kursi plastik.
Aku tertawa, sebuah tawa yang lepas dan tanpa beban. "Tidak, Bran. Aku baru saja menghapus draf ucapan ulang tahun yang sempat tersimpan di memori otakku. Tahun ini, tidak ada warming up, tidak ada balapan sepihak. Aku sudah finish."
Ibnu menatapku dengan binar lega. "Alhamdulillah. Akhirnya kamu sadar kalau output hubungan itu tidak bisa dipaksakan. Kamu sudah terlalu sering kena highside crash karena mengejar orang yang bahkan tidak ingat jadwal balapanmu sendiri."
"Benar," balasku sambil mengambil sepotong martabak. "Nesa itu memang sulit diajak kompromi. Dia tidak pernah amanah dengan janjinya untuk mencatat tanggal 4 April sebagai 'nomor balap' ultahku. Setiap kali aku menuntut kejelasan frekuensi, dia selalu bermanuver menghindar secara lihai. Sekarang aku sadar, dia hanya menjadikanku service area saat dia sedang trouble. Begitu mesinnya hidup, dia melesat pergi."
Aku teringat kembali pada momen pahit di April 2025, saat status ulang tahunku bahkan tidak ia lihat. Obsesiku pada rivalitas Martin-Bastianini telah membuatku buta, menganggap pengabaiannya sebagai bagian dari 'dinamika balap', padahal itu adalah tanda nyata bahwa aku sudah tidak ada dalam starting grid hidupnya. Kini, semuanya telah benar-benar pudar.
Keesokan paginya, aku berkunjung ke rumah Rofiq, sahabat masa kecilku. Kami duduk di teras, membahas hal-hal yang jauh lebih substantif daripada sekadar menunggu centang biru.
"Daf, aku bangga padamu," ucap Rofiq sembari menyeruput kopi hitamnya. "Kamu yang sekarang jauh lebih aktif. Kamu tidak lagi menjadi 'tawanan smartphone'. Ternyata, setelah kamu melepas obsesi itu, kamu jadi lebih sering hadir untuk teman-teman nyata dan keluarga."
"Aku hanya belajar satu hal, Ro," jawabku mantap. "Bahwa kebahagiaan autentik tidak ditemukan melalui validasi orang lain atau fanatisme buta. Kita tidak perlu menghubungkan hidup kita dengan nomor balap orang lain jika mereka sendiri tidak ingin kita ada di sirkuitnya."
Aku kini telah memperbarui manajemen diriku. Aku tidak lagi memacu adrenalin di lintasan kenangan yang sudah ditutup sejak September 2021. Nesa Bogor hanyalah sebuah bab lama, sebuah cerita tentang kita yang telah lalu, yang kini hanya ada dalam ingatan hati tanpa perlu lagi diratapi.
Saat aku pulang, aku melihat Bapak sedang duduk di ruang tamu. Beliau menatapku dan tersenyum. "Bagaimana harimu, Le? Sudah siap menjemput masa depan?"
"Sangat siap, Pak," jawabku mantap. "Saya sudah memarkirkan motor di pit stop masa lalu secara permanen. Sekarang, saya fokus menyelesaikan skripsi dan menikmati setiap detik bersama orang-orang yang benar-benar satu frekuensi dengan saya."
Epilog ini bukan hanya tentang berakhirnya sebuah hubungan daring yang toksik, melainkan tentang lahirnya kembali seorang Daffa yang baru. Seseorang yang tahu kapan harus menarik rem sedalam-dalamnya dan kapan harus memacu gas menuju jodoh yang benar-benar nyata. Di bawah langit Ponorogo yang mulai cerah, aku berjalan menuju masa depan dengan satu keyakinan: bahwa di tikungan hidup yang tepat, aku akan bertemu dengan seseorang yang tidak perlu diingatkan untuk peduli, dan seseorang yang akan selalu menjaga komitmennya tanpa perlu diminta.
Balapan itu memang sudah usai, dan aku, akhirnya, keluar sebagai pemenang sejati bagi hidupku sendiri.
Sirkuit imajiner itu kini telah benar-benar gelap, lampu-lampu tribun telah dipadamkan, dan raungan mesin Desmosedici yang selama lima tahun bising di dalam kepalaku perlahan senyap. Aku berdiri di garis finish yang kubangun sendiri, bukan sebagai pecundang yang tertinggal satu putaran, melainkan sebagai pemenang yang berhasil menaklukkan egonya sendiri. Setan dalam hati yang dahulu begitu gencar membisikkan narasi perselingkuhan emosional—menghasutku untuk mencari pelarian instan demi menambal lubang yang ditinggalkan Nesa—kini telah benar-benar kehilangan taringnya. Aku menyadari bahwa mencari pengganti hanya untuk membalas dendam atau melupakan kepedihan adalah bentuk pengkhianatan terhadap proses pendewasaan diriku sendiri.
Amanat terbesar dari perjalanan ini adalah tentang keberanian untuk melakukan cut-loss emosional. Kita sering kali terjebak dalam sunk cost fallacy, di mana kita terus menginvestasikan perasaan, waktu, dan energi pada seseorang hanya karena merasa "sudah terlanjur lama" atau "sudah terlalu banyak berkorban". Daffa yang lama menganggap bahwa loyalitasnya pada Nesa adalah sebuah kebajikan, padahal itu hanyalah obsesi yang unhealthy. Hubungan yang sehat membutuhkan interdependence yang seimbang, bukan ketergantungan sepihak yang melelahkan. Ketika Nesa menunjukkan sikap yang tidak amanah terhadap janjinya dan terus melakukan maneuver menghindar, itu adalah sinyal mekanis bahwa mesin hubungan tersebut sudah rusak secara permanen.
Pelajaran penting lainnya adalah mengenai self-validation. Kebahagiaan autentik tidak boleh digantungkan pada seberapa cepat seseorang membalas pesan atau apakah mereka mengingat hari lahir kita. Saat aku berhenti "menagih" perhatian Nesa, aku memberikan ruang bagi diriku untuk tumbuh secara organic. Aku belajar bahwa menjadi demisioner bukan hanya soal jabatan di organisasi, melainkan juga tentang mendemisionerkan perasaan-perasaan toksik yang menghambat self-growth. Aku kini lebih menghargai quality time bersama keluarga dan sahabat nyata seperti Rofiq dan Ibnu, yang frekuensinya tidak pernah membutuhkan booster pengingat atau drama centang dua.
Lirik lagu Rossa yang menjadi latar belakang kisah ini kini bermetamorfosis menjadi sebuah doa pelepasan yang tenang. Kurasakan pudar dalam hatiku bukan lagi sebuah ratapan kesedihan, melainkan sebuah pengakuan jujur bahwa energi itu memang telah habis. Kedewasaan adalah saat kita mampu menatap masa lalu tanpa amarah, menerima bahwa Nesa Bogor dengan segala kecerobohannya hanyalah sebuah variabel sementara dalam rumus panjang pencarian jati diri. Aku telah memperbarui manajemen diri secara total; tidak ada lagi tempat bagi seseorang yang tidak bisa diajak kompromi dalam menjaga amanah sebuah pertemanan.
Kini, di bawah langit Ponorogo yang mulai membiru, aku melangkah dengan mindset yang jauh lebih taktis dan tenang. Aku tidak lagi memacu motor di lintasan yang sudah ditutup. Biarlah cerita tentang kita yang telah lalu menjadi artefak pembelajaran di sudut ingatan. Aku siap menjemput masa depan, di mana jodoh yang sejati bukan ditemukan melalui kefanatikan buta pada sebuah idola, melainkan melalui keselarasan nilai dan komitmen yang nyata. Balapan panjang itu memang sudah usai, dan di podium tertinggi hidupku, aku berdiri tegak menghirup udara kebebasan yang paling murni.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
