Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Ardiansah

Beban Ganda Generasi Sandwich pada Pemuda

Eduaksi | 2026-01-20 19:13:28
Ilustrasi generasi sandwich ( Foto: Unsplash )

Saat ini, banyak anak muda merasa gaji bulanan mereka seolah hanya "numpang lewat". Fenomena ini terjadi bukan karena mereka boros atau sering belanja, melainkan karena besarnya beban finansial yang harus ditanggung dari dua arah sekaligus. Jika dibiarkan, tekanan ekonomi yang berat ini bisa menjadi ancaman serius bagi kesehatan mental para pemuda tersebut.

Kondisi tersebut dikenal dengan istilah Generasi Sandwich atau generasi roti lapis. Istilah ini menggambarkan posisi anak muda yang terjepit di tengah: mereka harus membiayai orang tua atau generasi di atasnya, sembari tetap mencukupi kebutuhan adik, anak, atau dirinya sendiri sebagai generasi di bawahnya. Peran ganda inilah yang membuat mereka sulit mencapai kemandirian finansial.

Masalah ini bukan muncul tanpa alasan. Akar utamanya adalah ketimpangan antara pendapatan dan biaya hidup yang terus melonjak, mulai dari harga pangan hingga cicilan rumah. Akibatnya, uang yang seharusnya bisa ditabung untuk masa depan justru habis untuk kebutuhan mendesak keluarga, seperti biaya kesehatan orang tua atau sekolah adik. Kondisi "mode bertahan hidup" ini memaksa anak muda mengorbankan keamanan finansial mereka sendiri di masa tua.

Mengutip pernyataan Timothy Ronald yang sering menekankan bahwa "investasi adalah kunci kekayaan di masa muda," realitanya bagi generasi sandwich, hal itu jauh lebih sulit dilakukan daripada sekadar teori. Masalahnya bukan karena mereka tidak melek finansial atau malas menabung, melainkan karena porsi gaji yang seharusnya bisa diinvestasikan sudah habis duluan untuk menjadi "dana darurat" keluarga. Seperti yang sering dibahas di berbagai media sosial, tekanan untuk sukses di usia muda sering kali berbenturan dengan kenyataan pahit di mana kenaikan upah tidak pernah sebanding dengan lonjakan biaya hidup dan harga rumah.

Dampaknya pun merembet ke urusan mental. Rasa cemas dan stres karena harus selalu memenuhi ekspektasi keluarga sering kali memicu tekanan hingga depresi. Beban ini makin terasa berat dengan adanya tekanan media sosial yang menuntut mereka tampil sukses, padahal realitanya mereka sedang berjuang keras menambal kebutuhan sana-sini. Stigma bahwa ini adalah "bakti mulia" sering kali membuat mereka sungkan untuk mengeluh, padahal ini adalah krisis yang nyata.

Sebenarnya, ini adalah masalah struktural. Lemahnya sistem jaminan pensiun di Indonesia membuat orang tua terpaksa menjadikan anak sebagai "dana darurat" mereka. Tanpa intervensi pemerintah, seperti pemberian keringanan pajak atau subsidi perumahan yang tepat sasaran bagi penanggung beban ganda, lingkaran ini akan sulit diputus.

Penting untuk dipahami bahwa beban yang dipikul generasi muda saat ini jauh berbeda dengan generasi orang tua kita dulu. Saat ini, kita berhadapan dengan fenomena gaya hidup mewah yang dipicu oleh lingkungan digital, namun di sisi lain, upah riil justru jalan di tempat jika dibandingkan dengan kenaikan harga properti yang gila-gilaan.

Beban ini diperparah oleh stigma sosial di Indonesia yang menganggap membicarakan uang dalam keluarga adalah hal yang tabu atau tidak sopan. Akibatnya, banyak pemuda memilih diam dan menahan stres sendirian demi menjaga label "anak berbakti", padahal di dalam hati mereka sedang mengalami tekanan yang hebat. Jika kita terus membiarkan kondisi ini tanpa adanya intervensi dari negara seperti sistem jaminan sosial lansia yang lebih layak—maka kita sebenarnya sedang membiarkan masa depan ekonomi nasional ikut terancam karena generasi produktifnya tidak lagi mampu berinvestasi dan berinovasi.

Sering kali kita mendengar komentar dari orang-orang sekitar bahwa memikul beban finansial keluarga adalah bentuk "bakti anak yang mulia" yang sudah semestinya dilakukan. Namun, kita perlu melihatnya dengan lebih jujur: mengorbankan kesehatan mental dan masa depan pribadi demi menambal lubang ekonomi adalah harga yang terlalu mahal untuk dibayar. Masalah ini bukan muncul karena anak muda sekarang tidak pandai berhemat atau malas menabung, melainkan akibat kegagalan sistem jaminan pensiun yang memaksa mereka menjadi "bank darurat" bagi keluarga. Pandangan masyarakat yang hanya menganggap ini sebagai kewajiban mutlak tanpa melihat krisis di baliknya justru sering kali membuat para pemuda merasa terjebak dan sendirian.

Sebagai langkah awal, komunikasi yang jujur di tingkat keluarga sangatlah penting. Orang tua dan anak perlu duduk bersama untuk mengatur batas kemampuan finansial agar tidak ada pihak yang merasa dikorbankan. Dengan keberanian berkomunikasi dan kebijakan pemerintah yang berpihak pada pemuda, mata rantai beban generasi sandwich ini barulah bisa kita putus bersama.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image