Senyum di Balik Perjuangan Dilan Melawan Leukimia
Kisah | 2026-01-20 13:51:24
DTPEDULI.ORG | SEMARANG - Menatap wajah Dilan seolah mengajak siapapun melupakan sejenak bahwa di dalam tubuh mungilnya, sebuah badai besar sedang berkecamuk. Bocah kelas 1 SD ini adalah wujud nyata dari ketabahan yang melampaui usianya. Di saat teman sebaya seusianya mungkin menangis hanya karena mainan yang patah, Dilan justru menyambut jarum suntik dengan senyum yang tetap merekah setiap pekan.
Dilan adalah seorang pejuang. Diagnosis Leukimia memaksanya menempuh perjalanan panjang dari Grobogan menuju Semarang demi menjalani kemoterapi rutin.
Jalanan panjang yang melelahkan itu kini menjadi saksi bisu betapa kerasnya hidup yang harus ia jalani, sembari melihat tabungan orang tuanya yang kian menipis demi menjemput kesembuhan buah hati mereka.
Di tengah perjuangan yang sunyi itu, sebuah ketukan hangat menyapa pintu rumahnya pada Rabu (3/12/2025). Tim DT Peduli Jawa Tengah datang membawa amanah dari para "tangan-tangan langit". Kehadiran mereka bukan sekadar mengantar bantuan materiil, melainkan untuk membisikkan doa dan pesan cinta bahwa Dilan tidak akan pernah dibiarkan berjuang sendirian.
Ada sesuatu yang luar biasa dari sosok Dilan. Ia sama sekali tidak tampak seperti anak yang sedang didera penyakit mematikan. Tubuhnya masih bergerak lincah, wajahnya segar, dan matanya berbinar penuh harap.Seolah-olah, Dilan memiliki kesepakatan rahasia dengan rasa sakitnya: ia tak akan membiarkan sakit itu mencuri keceriaannya. Bagi siapa pun yang baru mengenalnya, mustahil percaya bahwa bocah selincah ini sedang bertaruh nyawa melawan kanker darah.
"Dilan anaknya sangat kuat. Sesakit apa pun setelah kemoterapi, ia hanya diam dan tetap tegar. Yang selalu ia tanyakan cuma satu: 'Kapan Dilan bisa sekolah lagi?'" tutur ibundanya dengan suara parau dan mata yang mulai berkaca-kaca.
Hari itu, bantuan berupa susu, pampers, dan tisu diserahkan untuk menyokong kebutuhan hariannya. Senyum syukur yang terukir di wajah Dilan saat menerima kunjungan tersebut menjadi pengingat bahwa kepedulian adalah obat yang paling mujarab bagi jiwa yang sedang berjuang.
Ketegaran Dilan mengajarkan bahwa jiwa yang besar tidak diukur dari usia, melainkan dari seberapa sering tersenyum di tengah rasa sakit. Perjalanan Dilan masih panjang, namun selama kasih sayang masih mengalir, semangatnya tidak akan pernah padam (Karina Rahma/Agus ID)
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
