Pendidikan Telah Mati di Negeri Ini
Sastra | 2026-01-19 18:01:07Ketika pendidikan dilecehkan, ia tidak dibunuh secara diam-diam. Ia justru ditelanjangi di depan publik, dipaksa berdiri tanpa martabat, lalu disuruh tersenyum seolah itu kemajuan. Gelar akademik menjadi ornamen usang, ratusan esai, jurnal, dan karya tulis berubah menjadi debu administratif.
Pengetahuan tidak lagi diukur dari pemahaman, melainkan dari angka, grafik, dan seberapa laku ia dijual di pasar gaya hidup.
Maka tidak mengherankan bila seorang pria bergelar magister harus membanting tulang sebagai sopir dan kurir makanan. Ia bangun pagi untuk mencari nafkah, pulang malam untuk menuntut ilmu, hidup di antara kelelahan dan harapan yang terus diperas. Sementara itu, seorang perempuan mantan model majalah dewasa diangkat menjadi staf khusus pemerintah. Bukan karena kompetensi, bukan karena rekam jejak, melainkan karena citra, sensasi, dan keberanian sistem untuk menertawakan akal sehat.
Ketimpangan itu nyata dan telanjang. Tidak lagi disembunyikan, tidak lagi dipermalukan. Negeri ini tampaknya tidak membutuhkan kecakapan yang kredibel. Yang dibutuhkan hanyalah wajah-wajah yang siap melacur dengan gimik, patuh pada kamera, dan mengikuti arus tren berbusana. Hubungan emosional lebih berharga daripada kemampuan. Kepatuhan lebih penting daripada kecerdasan. Mereka yang hidup di atas kursi hanya orang-orang yang dianggap famili
Negeri ini kehilangan kewarasan. Penyakitnya tidak lagi ringan; ia telah meradang menjadi tumor yang hampir pecah.
Seorang pria yang bekerja keras, belajar dengan disiplin, dan memelihara adab serta moral, harus dikalahkan oleh pria lain yang rela menjadikan lidahnya alas kaki para petinggi. Wajahnya tak lagi mengenal malu, bahasanya tak lagi mencerminkan etika. Namun justru ia yang diangkat menjadi manajer, komisaris, atau pejabat. Dalam logika terbalik semacam ini, integritas dianggap beban.
Borok negeri ini begitu bau. Namun alih-alih mengobati, negara justru menambahkan belatung berkali-kali. Skandal ditumpuk di atas skandal, kebijakan bodoh dilapisi konten media, dan semua itu disebut stabilitas. Pendidikan dan moral tak lagi berarti. Keduanya ditelanjangi oleh modernisasi yang salah arah, dibunuh oleh pemujaan pada angka, lalu dikubur rapi dalam sejarah versi penguasa.
Yang tersisa hanyalah sistem yang memproduksi kebisingan dan mematikan makna. Sekolah menjadi pabrik sertifikat, universitas menjadi pasar reputasi, dan negara menjadi panggung tempat kebohongan tampil tanpa rasa takut. Dalam keadaan seperti ini, pertanyaannya memang sederhana—dan justru karena itu menakutkan: apalagi yang tersisa sebagai alasan untuk hidup lebih lama di sini, selain kebiasaan untuk bertahan dan ketakutan untuk pergi?Jika hidup hanya berarti menyesuaikan diri dengan kebodohan yang dilembagakan, maka bertahan hidup pun berubah menjadi bentuk kepatuhan paling sunyi. Dan barangkali, itulah kemenangan terbesar dari sistem yang telah lama berhenti berpikir.
Orang-orang tidak lagi menghamba pada kebenaran, tetapi pada tren. Angka-angka dijadikan kitab suci baru, jumlah pengikut, statistik popularitas—sementara isi kepala dianggap gangguan. Berpikir terlalu dalam dicurigai, mempertanyakan terlalu jauh dianggap tidak produktif. Dalam sistem semacam ini, pendidikan hanya dihargai sejauh ia bisa dipamerkan, bukan dipraktikkan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
