Kehidupan di Luar Timeline
Gaya Hidup | 2026-01-19 15:50:07
Sabtu sore, 17 Januari 2026, di bangku Taman Kota Bekasi, aku mendengar sesuatu yang membuatku berpikir panjang. Bukan sekadar tentang apa yang dikatakan, tetapi bagaimana ucapan itu memotret paradoks zaman kita: seorang perempuan muda, cerdas, sederhana, dan punya kehidupan yang membuatnya bahagia, tapi kemudian dianggap “tidak punya kehidupan” oleh teman-teman kampusnya.
Apa yang membuat seseorang dipandang punya kehidupan berarti hariannya harus diisi dengan cerita digital yang heboh? Story WhatsApp yang ramai, konten TikTok yang viral, atau sekadar jam terbuang untuk scroll tanpa henti?
Cerita kawan perempuanku itu sederhana. Ia tidak main game online, tidak mendownload aplikasi TikTok, jarang buka Instagram, tak mengikuti tren kekinian, bahkan ponselnya masih menggunakan charger tipe mikro, sebuah fakta kecil yang entah kenapa menjadi semacam stigma sosial di lingkungannya. Namun ia melek dengan isu dan apa yang terjadi di sekelilingnya saat ini.
Bahkan aku sendiri memiliki kebiasaan yang hampir serupa: main game hanya untuk refreshing sesekali, tidak larut dalam Instagram, tidak punya TikTok, dan tetap setia dengan ponsel sederhana sampai ia tak lagi mampu mendukung kebutuhanku.
Namun kita berdua “hidup”. Dan itulah yang membuatku bertanya, mengapa sebagian generasi muda kini menilai kehidupan seseorang dari seberapa sering orang itu memperbarui dunianya di media sosial?
Dunia Digital sebagai Cermin Kehidupan atau Ilusi Dominan?
Dalam dua dekade terakhir, media sosial telah menjadi bagian yang tak terelakkan dari kehidupan anak muda. Platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube menawarkan ruang ekspresi diri, interaksi sosial, dan konektivitas.
Banyak penelitian menemukan bahwa penggunaan media sosial bisa memberikan dukungan sosial, memperluas hubungan, bahkan meningkatkan rasa kebersamaan dalam komunitas tertentu. Sebuah studi dari jurnal frontiers (2023) menunjukkan penggunaan mobile social media dapat terkait positif dengan life satisfaction atau kepuasan hidup dalam beberapa konteks, terutama ketika interaksi tersebut bermakna dan memberikan rasa makna dalam hidup seseorang.
Namun di saat yang sama, media sosial juga menciptakan tekanan sosial yang kuat. Tren viral, “likes”, dan jumlah pengikut sering kali dijadikan ukuran kepopuleran sosial, yang kemudian membentuk harapan budaya bahwa semakin banyak keterlibatan digital berarti semakin “hidup” seseorang.
Budaya ini kemudian memicu fear of missing out (FOMO), sebuah ketakutan akan tertinggal jika tidak terhubung setiap saat, yang tidak hanya membuat seseorang merasa perlu selalu online, tetapi juga memaksa narasi bahwa kehidupan yang bermakna adalah kehidupan yang terdokumentasi secara digital.
Di sisi lain, riset tersebut menunjukkan efek media sosial terhadap kesejahteraan psikologis tidak semudah yang sering digembar-gemborkan. Aktivitas di media sosial tidak secara langsung menentukan kebahagiaan atau kepuasan hidup secara drastis; banyak faktor psikologis lain yang jauh lebih menentukan.
Dalam studi longitudinal yang saya kutip dari laman bigthink, para peneliti bahkan menemukan bahwa 99,75% variasi kepuasan hidup remaja tidak terkait dengan seberapa sering mereka menggunakan media sosial dalam setahun.
Ini menunjukkan bahwa hubungan antara kehidupan nyata dan representasi digital itu kompleks, bukan sekadar lebih banyak konten = hidup lebih berarti. Realitas di luar timeline ternyata lebih luas dan kaya.
Ketergantungan Media Sosial dan Tekanan Sosial
Walaupun efek penggunaan media sosial pada kebahagiaan individu tidak terlalu besar dalam data longitudinal, ada fenomena lain yang tak bisa diabaikan: ketergantungan digital. Banyak survei generasi muda menunjukkan mereka sering merasa cemas bila tidak terhubung, atau merasa bosan ketika tidak ada ponsel di tangan.
Bahkan ada laporan dari thetimes.com yang menyebut sebagian besar Gen Z merasa media sosial beracun, adiktif, dan berbahaya bagi kesehatan mental.
Fenomena ini bukan sekadar soal pilihan konten. Media sosial dirancang untuk mempertahankan perhatian. Infinite scroll, notifikasi yang terus muncul, dan algoritma yang secara halus mendorong kita untuk kembali lagi dan lagi. Dalam situasi seperti itu, seseorang yang memilih tidak mengikuti tren atau mengurangi penggunaan platform bisa dianggap aneh oleh lingkungan yang sudah terbiasa dengan pola perilaku intens ini. Padahal, tidak terjebak dalam rantai digital bukan berarti tidak punya kehidupan. Justru seringkali sebaliknya.
Ketika Kehidupan Nyata Terpinggirkan oleh Kehidupan Digital
Cerita pengalaman di Taman Kota Bekasi itu membuka mata tentang betapa rapuhnya definisi “hidup” yang banyak diyakini generasi kini. Bagi sebagian anak muda, kehidupan yang bermakna tampak diukur dari seberapa sering terlihat online. Story WhatsApp menjadi semacam bukti eksistensi; trending dance di TikTok menjadi semacam paspor sosial; follower banyak menjadi semacam indikator nilai.
Padahal, kehidupan yang dilihat dari lensa kamera atau detik demi detik video pendek itu seringkali hanya fragmen, bahkan bisa jadi ilusi dari kehidupan seseorang yang sesungguhnya.
Ada sesuatu yang hilang ketika kita mulai menilai kehidupan orang lain dari jumlah likes atau views. Kita lupa bahwa kehidupan bukanlah pertunjukan. Kehidupan adalah apa yang kita rasakan, jalani, dan bangun di dunia nyata.
Hubungan dengan keluarga, teman yang tulus, pekerjaan yang membuat kita bangga, kegiatan yang memberi kita rasa makna, serta momen sederhana yang tidak perlu disiarkan untuk mendapatkan validasi sosial.
Kawan perempuanku itu memiliki kehidupan yang tenang, tanpa gemerlap digital. Ia berinteraksi dengan orang sekitar secara langsung, punya aktivitas yang memuaskan secara personal, dan memiliki ritme hidup yang membuatnya merasa utuh. Itu tidak kalah nyata dibandingkan kehidupan “glamor” yang sering dipamerkan di media sosial.
Hidup di Era Perbandingan Sosial
Setauku, dalam sebuah diskusi kecil yang pernah kuhadiri ketika di Solo, dalam psikologi sosial juga mengenal istilah “social comparison” atau perbandingan sosial. Sebuah kecenderungan manusia membandingkan dirinya dengan orang lain.
Media sosial memperbesar hal ini secara dramatis. Ketika kita banyak melihat highlight reels orang lain mengenai liburan, pencapaian, hubungan cinta yang tampak sempurna, kita cenderung merasa kehidupan kita kurang berarti. Padahal, kita sering tidak melihat bloopers, jatuh bangun, atau perjuangan yang tersembunyi di balik layar.
Perbandingan semacam ini memang bisa memengaruhi persepsi diri, tetapi tidak serta merta menunjukkan bahwa kehidupan di luar media sosial lebih buruk. Sesungguhnya, banyak orang yang lebih puas dengan kehidupan yang dijalani secara offline. Hubungan nyata, rutinitas yang bermakna, dan kedamaian batin yang tidak diukur dari berapa banyak pengikut yang mereka punya.
Reorientasi Makna Kehidupan
Mungkin titik reflektif yang perlu kita raih sebagai generasi muda bukanlah memperbesar atau memperkecil peran media sosial dalam kehidupan kita, tetapi memahami peran yang sesungguhnya. Media sosial seharusnya menjadi alat, bukan ukuran dari pengalaman hidup.
Ia bisa memperkaya hubungan sosial, menawarkan inspirasi, dan membuka ruang ekspresi. Namun ketika media sosial menjadi satu-satunya tolok ukur kepemilikan kehidupan, kita kehilangan pola hidup yang lebih luas dan dalam.
Cara hidup sederhana kawan perempuanku yang mungkin dianggap “kurang hidup” oleh sebagian orang itu, justru menyimpan makna yang jauh lebih dalam. Ia tidak terjebak dalam tuntutan untuk selalu tampil menarik di depan kamera digital, tidak tergantung pada tuntutan tren kekinian, dan tidak diukur oleh algoritma. Ia mengarungi hari-harinya dengan cara yang memberi kepuasan personal, yang membuatnya merasa utuh sebagai individu.
Kehidupan bukanlah angka di layar ponsel. Kehidupan bukanlah rangkaian story Instagram yang menunggu like. Kehidupan adalah bagaimana kita memperlakukan diri sendiri dan orang lain di dunia nyata. Bagaimana kita membangun hubungan bermakna. Bagaimana kita berdiri dengan integritas dan ketenangan batin. Dan bagaimana kita menemukan kebahagiaan yang tak perlu disiarkan.
Generasi kita boleh jadi hidup di era digital, tetapi kita tidak perlu dibentuk sepenuhnya oleh dinamika digital. Ia (kawan perempuanku) menunjukkan bahwa bisa hidup tanpa harus terdigitalisasi sepenuhnya bukanlah kekurangan, justru itu bisa menjadi bentuk kebebasan. Dan dalam kebebasan itulah, kehidupan yang sesungguhnya dapat ditemukan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
