Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Windari Syntia

Menata Kata, Merawat Makna: Komunikasi dalam Perspektif Islam

Agama | 2026-01-19 07:50:02

Komunikasi tidak pernah berdiri sebagai aktivitas yang netral. Ia selalu membawa nilai, sikap, dan cara pandangan seseorang terhadap orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari, cara berbicara, menanggapi, atau bahkan lebih memilih diam kerap kali menjadi penentu kualitas relasi sosial. Di sinilah komunikasi tidak lagi sekedar soal menyampaikan pesan, melainkan soal merawat relasi kemanusiaan.

Perkembangan teknologi membuat komunikasi berlangsung semakin cepat. Media sosial menjadi ruang utama bertemunya beragam pendapat, emosi, dan sebuah kepentingan. Laporan We Are Social tahun 2024 mencatat bahwa jumlah pengguna aktif media sosial di Indonesia mencapi lebih dari 167 juta orang. Angka ini menunjukkan betapa padatnya lalu lintas komunikasi digital. Namun, kecepatan ini sering kali tidak diiringi dengan kedewasaan berpikir. Banyak percakapan seringkali berubah menjadi saling menyerang, penuh prasangka, dan minim empati.

Dalam konteks ini, nilai-nilai komunikasi Islam menemukan relevansinya. Nilai tersebut tidak selalu tampil dalam bentuk symbol keagamaan, tetapi hadir melalui sikap, kehati-hatian dalam berbicara, kesadaran akan dampak kata0kata, serta tanggung jawab moral atas setiap ucapan. Komunikasi yang berangkat dari nilai ini menempatkan manusia sebagai objek yang harus dihormati, bukan sekedar lawan debat yang harus dikalahkan.

Salah satu persoalan komunikasi hari ini adalah kecenderungan yang reaktif. Banyak orang merasa perlu segera merespons, seolah diam adalah kelemahan. Padahal, dalam nilai keislaman, pengendalian diri justru menjadi kekuatan. Tidak semua hal harus dikomentari dan tidak semua perbedaan harus diperdebatkan. Ada kalanya menahan kata lebih bermakna daripada mengumbar pendapat yang kian memperkeruh suasana.

Selain berbicara, mendengar juga menjadi bagian penting dari komunikasi. Mendengar bukan sekadar menunggu giliran bicara, melainkan Upaya memahami proses orang lain. Banyak konflik sosial tidak lahir dari perbedaan yang tajam, tetapi dari kegagalan mendengar secara utuh. Ketika seseorang merasa didengar, ruang dialog terbuka. Sebaliknya, ketika suara diabaikan, kekecewaan mudah berubah menjadi kemarahan.

Nilai komunikasi Islam juga menekankan keseimbangan antara kejujuran dan kebijaksanaan. Menyampaikan kebenaran tidak harus dengan cara yang melukai. Kritik tetap diperlukan, terutama dalam kehidupan sosial dan akademik, tetapi kritik yang tidak mempertimbangkan adab justru kehilangan maknanya. Kata-kata disampaikan dengan cara yang tepat memiliki peluang lebih besar untuk diterima dan dipahami.

Pada akhirnya, komunikasi bukan sekadar alat bertuka informasi, melainkan cermin dari nilai yang dianut seseorang. Di tengah ruang publik yang semakin ramai, komunikasi yang berangkat dari kesadaran nilai keislaman dapat menjadi peneduh. Ia mengajak manusia untuk berbicara secukupnya, mendengar lebih dalam, dan menempatkan kata-kata sebagai jembatan, bukan senjata. Dari sanalah komunikasi menemukan kembali fungsinya, yaitu membangun pengertian, bukan membangun kesalahpahaman.

Penulis: Ahmad Tamrin Sikumbang dan Windari Syntia

Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image