Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image haura Insiyah

Kepemimpinan Islam Global: Jalan Menuju Rahmatan lil Alamin

Update | 2026-01-19 07:38:35

Oleh: Ina Winahyu

Kehidupan umat manusia saat ini menghadapi berbagai persoalan serius yang tidak dapat diabaikan. Beragam krisis muncul silih berganti, mulai dari kemerosotan moral dan akhlak hingga ketimpangan dalam bidang politik, ekonomi, sosial budaya, dan pendidikan. Realitas ini menunjukkan bahwa sistem kehidupan global yang berjalan saat ini belum mampu menghadirkan keadilan dan kesejahteraan secara menyeluruh.

Di berbagai belahan dunia, ketidakadilan dan penderitaan masih menjadi kenyataan yang dirasakan oleh masyarakat, termasuk umat Islam. Banyak negeri Muslim berada dalam kondisi lemah dan bergantung pada kekuatan global, sehingga rentan terhadap intervensi. Kondisi ini tentu tidak sejalan dengan nilai Islam yang menjunjung tinggi keadilan, perlindungan jiwa, serta kehormatan manusia.

Tatanan global modern yang didominasi oleh sistem kapitalisme telah membentuk pola kepemimpinan dunia yang menempatkan kepentingan ekonomi dan kekuasaan sebagai pertimbangan utama. Dalam praktiknya, orientasi tersebut kerap melahirkan eksploitasi sumber daya alam, ketimpangan sosial, serta kerusakan lingkungan yang berdampak luas. Negara yang memiliki kekuatan besar cenderung menentukan arah kebijakan global, sementara negara yang lemah berada pada posisi yang dirugikan.

Berbagai konflik dan krisis kemanusiaan yang terjadi di sejumlah wilayah seperti Palestina, Afghanistan, Irak, Sudan, dan wilayah lainnya memperlihatkan rapuhnya perlindungan terhadap masyarakat sipil dalam sistem internasional saat ini. Korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta hilangnya rasa aman menjadi konsekuensi yang harus ditanggung oleh rakyat. Pada saat yang sama, mekanisme hukum internasional belum mampu memberikan keadilan yang efektif dan berkelanjutan.

Situasi ini mendorong umat Islam untuk melakukan refleksi yang mendalam. Islam tidak hanya hadir sebagai ajaran spiritual yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga sebagai pedoman hidup yang mengatur urusan sosial dan kemanusiaan. Dalam Islam, kehidupan manusia dipandang sebagai amanah yang harus dijaga dan dilindungi dengan penuh tanggung jawab.

Konsep kepemimpinan dalam Islam berlandaskan prinsip pengurusan dan tanggung jawab. Seorang pemimpin berkewajiban menjaga keselamatan jiwa, harta, dan kehormatan manusia, serta memastikan keadilan ditegakkan tanpa membedakan latar belakang. Oleh karena itu, gagasan kepemimpinan Islam global dipahami sebagai upaya menghadirkan sistem kepemimpinan yang berlandaskan nilai ilahiah dan kemanusiaan.

Kepemimpinan Islam global berorientasi pada penerapan syariat Allah sebagai pedoman dalam mengatur kehidupan. Tujuannya bukan semata untuk kepentingan umat Islam, melainkan untuk menghadirkan kemaslahatan bagi seluruh manusia. Prinsip keadilan, kasih sayang, dan perlindungan terhadap yang lemah menjadi fondasi utama dalam tata kelola kehidupan.

Allah SWT menegaskan misi universal Islam dalam firman Nya:

“Dan Kami tidak mengutus engkau Muhammad melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS Al Anbiya ayat 107)

Ayat ini menunjukkan bahwa Islam hadir untuk membawa rahmat, bukan ancaman. Rahmat tersebut terwujud ketika nilai Islam diterapkan secara benar, adil, dan penuh hikmah. Ketaatan kepada Allah dan Rasul Nya menjadi jalan untuk menghadirkan rahmat tersebut, sebagaimana firman Allah SWT:

“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul agar kamu diberi rahmat.” (QS Ali Imran ayat 132)

Dengan demikian, kepemimpinan Islam global dapat dipahami sebagai ikhtiar peradaban untuk menghadirkan keadilan dan kedamaian yang lebih luas. Ia bukan sekadar wacana politik, melainkan bagian dari tanggung jawab moral umat Islam dalam mewujudkan kehidupan dunia yang lebih manusiawi, adil, dan penuh rahmat sesuai dengan tujuan luhur Islam sebagai rahmatan lil alamin.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image