Mengapa Tangan Terasa Kesat Usai Pakai Sabun
Eduaksi | 2026-01-16 19:04:21
Oleh: Muhammad Ridlo'i Firdiansyah, Program Studi Rekayasa Industri, Universitas Sunan Gresik
* Penulis korespondensi (ridloifirdiansyah@gmail.com)
Abstrak
Sensasi tangan yang terasa kesat setelah mencuci tangan dengan sabun adalah hal yang sering dialami banyak orang. Banyak yang mengira rasa kesat ini menandakan tangan sudah benar-benar bersih. Padahal, jika dilihat dari sisi kimia, kondisi tersebut terjadi karena adanya interaksi antara sabun, minyak alami pada kulit, dan udara. Sabun berfungsi sebagai surfaktan yang mampu mengangkat kotoran dan lemak, termasuk minyak alami kulit atau sebum yang sebenarnya berperan menjaga kelembapan. Saat minyak alami ini terangkat, kulit menjadi lebih kering sehingga muncul rasa kesat.
Artikel ini membahas alasan mengapa tangan terasa kaku setelah memakai sabun dengan penjelasan kimia yang sederhana dan mudah dipahami, serta sekitarnya dengan contoh pemberitaan di media bold. Selain itu, artikel ini juga menyoroti kesalahan ejaan yang masih sering ditemukan dalam berita untuk melihat sejauh mana tepatnya penggunaan bahasa Indonesia di media massa. Diharapkan pembahasan ini bisa membantu masyarakat lebih memahami fenomena kimia sehari-hari sekaligus lebih peduli terhadap penggunaan bahasa yang baik dan benar.
Kata Kunci: Sabun, tangan kesat, minyak alami kulit, surfaktan, fenomena kimia sehari-hari
Abstrak
Sensasi tangan kasar atau kering setelah mencuci dengan sabun adalah pengalaman umum dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang berasumsi bahwa perasaan ini menunjukkan bahwa tangan sudah benar-benar bersih. Namun, dari perspektif kimia, fenomena ini berkaitan dengan interaksi antara sabun, air, dan minyak alami pada kulit. Sabun bertindak sebagai surfaktan yang menghilangkan kotoran dan lemak, termasuk sebum, yang berperan penting dalam menjaga kelembapan kulit. Ketika minyak alami ini dihilangkan, kulit menjadi lebih kering, sehingga menimbulkan sensasi kasar atau kencang. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan mengapa tangan terasa kasar setelah menggunakan sabun melalui penjelasan kimia sederhana dan dengan menghubungkan pembahasan dengan artikel berita online. Selain itu, artikel ini menganalisis kesalahan ejaan yang ditemukan dalam laporan berita terkait untuk mengevaluasi keakuratan penggunaan bahasa Indonesia di media online. Pembahasan ini diharapkan dapat membantu pembaca lebih memahami fenomena kimia sehari-hari sekaligus meningkatkan kesadaran akan penggunaan bahasa yang tepat di media.
Kata kunci: Sabun, tangan kasar, minyak kulit alami, surfaktan, kimia sehari-hari
PENDAHULUAN
Mencuci tangan dengan sabun merupakan salah satu kebiasaan hidup bersih yang penting dan sudah lama dianjurkan oleh berbagai otoritas kesehatan untuk mencegah penyebaran penyakit dan infeksi (Wikipedia, 2023). WHO dan berbagai lembaga kesehatan bahkan merekomendasikan mencuci tangan setidaknya selama 20 detik dengan sabun dan air yang mengalir untuk memastikan kebersihan optimal.
Namun demikian, tidak sedikit orang merasakan fenomena yang cukup umum: setelah mencuci tangan dengan sabun, permukaan kulit terasa kesat, kasar, atau tidak mulus meskipun secara visual tangan tampak sudah bersih. Sensasi ini sering kali menimbulkan anggapan yang salah bahwa tangan belum bersih, padahal penyebabnya berbeda. Fenomena ini berkaitan dengan pengaruh sabun terhadap kulit, perubahan pH kulit, hilangnya minyak alami kulit, residu sabun, dan bahkan sifat air yang digunakan saat mencuci. Fenomena serupa juga sering dibahas dalam konteks wajah yang terasa ketarik setelah cuci muka, yang menunjukkan bahwa sensasi fisik setelah mencuci sering disalahartikan sebagai pertanda bersih atau kotor.
Oleh karena itu, Artikel ini melakukan pengkajian atau analisis berdasarkan sumber berita online dan artikel kesehatan populer untuk menjelaskan fenomena tersebut secara komprehensif — baik dari segi mekanisme kimia kulit maupun praktik sehari-hari kebersihan.
METODE ANALISIS
Dalam penyusunan artikel ini, penulis menggunakan beberapa Langkah analisis yaitu:
1. Review konten berita dan artikel kesehatan online yang membahas efek mencuci tangan dan pengalaman fisik setelahnya.
2. Analisis literatur populer dan penjelasan ilmiah online mengenai interaksi sabun dengan kulit dan udara (mis. pH kulit, residu sabun).
3. Sintesis dari informasi-informasi tersebut dengan pendekatan yang ditujukan untuk pembaca umum agar mudah dipahami.
Metode ini difokuskan pada informasi yang dipublikasikan secara bebas di internet, tanpa eksperimen laboratorium.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1 Sabun dapat menghilangkan minyak alami kulit tangan
Sabun bekerja dengan memecah lemak dan minyak di permukaan kulit sehingga kotoran dan mikroba bisa terangkat. Namun, proses ini tidak hanya menghilangkan kotoran, tetapi juga dapat mengikis lapisan minyak alami yang berfungsi sebagai pelindung kulit, sehingga setelah mencuci, kulit tangan bisa terasa kering dan kasar (Unilever, 2022)
Menurut laporan kesehatan, kebiasaan mencuci tangan yang terlalu sering, terutama dengan sabun berbasis deterjen yang kuat, dapat mengikis pelindung lipid (minyak alami) pada kulit. Ketika minyak ini hilang, kulit menjadi lebih kering dan terasa “kesat” atau kasar.
Efek ini serupa dengan fenomena pada kulit wajah yang terasa ketarik setelah memakai pembersih wajah — bukan karena kulit menjadi bersih sempurna, tetapi karena kelembapan dan pH alami kulit terganggu oleh produk pembersih.
2 sabun pH berbeda dengan pH kulit — ini mengubah sensasi setelah mencuci tangan
Kulit manusia pada umumnya memiliki pH sedikit asam sekitar 4,5–5,5, sedangkan kebanyakan sabun tradisional memiliki pH yang lebih tinggi (lebih basa). Ketika sabun bersentuhan dengan kulit, ia dapat mengubah keseimbangan pH kulit, membuat lapisan pelindung alami kulit terganggu dan kulit terasa berbeda setelahnya (Halodoc, 2021).
Akan tetapi Perubahan pH ini tidak membuat tangan menjadi lebih bersih atau kotor, tetapi dapat mempengaruhi lapisan minyak pelindung kulit dan membuatnya terasa tidak halus.
3 Residu sabun yang tidak terbilas sepenuhnya dapat meninggalkan sensasi kesat
Jika sabun tidak sepenuhnya dibersihkan saat pembilasan, sisa sabun atau bahan-bahan tambahan di sabun dapat tetap berada di permukaan kulit. Residu ini dapat memberikan sensasi lengket atau kesat setelah tangan dikeringkan. Sebuah artikel kesehatan internasional menjelaskan bahwa sensasi lengket setelah cuci tangan bisa disebabkan oleh sisa bahan sabun atau kelembapan yang tertinggal, terutama jika sabun tidak dibilas sepenuhnya.
Penjelasan ini mirip dengan fenomena “soap scum” atau residu sabun yang dikenal dalam pembersihan lain, dimana partikel sabun yang tidak larut ikut tertinggal di permukaan kulit dan udara dapat menimbulkan sensasi tidak nyaman hingga terasa kesat ketika disentuh.
4 Air keras (hard water) atau mineral dalam air dapat memperparah sensasi
Meskipun topik air keras jarang dibahas secara khusus dalam artikel berita di Indonesia, berbagai sumber internasional menjelaskan adanya fenomena yang dikenal sebagai buih sabun, yaitu pengendapan yang terbentuk ketika sabun bereaksi dengan mineral seperti kalsium dan magnesium dalam udara. Reaksi ini dapat menghasilkan lapisan sangat tipis yang menempel di permukaan kulit dan tidak selalu hilang hanya dengan satu kali pembilasan. Hasilnya, setelah tangan dikeringkan, kulit dapat terasa lebih kasar atau kesat, meskipun secara kebersihan tangan sudah benar-benar bersih dari kotoran.
5 Sering mencuci tangan tanpa perawatan lanjutan meningkatkan efek kesat atau kering
Artikel kesehatan juga menekankan bahwa mencuci tangan terus menerus tanpa menggunakan produk pembap dapat membuat kulit kehilangan kelembapan ekstra, sehingga terasa lebih kering dan kasar dari waktu ke waktu.
Masalah ini bertambah buruk jika sabun yang dipakai bersifat terlalu keras atau efeknya bersifat iritan bagi kulit sensitif.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis saya dari berbagai sumber berita dan artikel kesehatan bold, dapat disimpulkan bahwa sensasi tangan terasa kesat setelah menggunakan sabun bukan merupakan tanda tangan belum bersih, melainkan akibat interaksi antara sabun, udara, dan kondisi alami kulit. Sabun bekerja dengan mengangkat kotoran sekaligus minyak alami kulit, sehingga menyebabkan kulit kehilangan kelembapan dan terasa kasar setelah mencuci tangan.
Selain itu, perbedaan pH antara sabun yang cenderung basa dengan pH alami kulit yang sedikit asam dapat mengganggu lapisan pelindung kulit secara sementara dan mempengaruhi tekstur permukaan kulit. Faktor lain seperti residu sabun yang tidak terbilas sempurna serta kandungan mineral dalam air juga dapat memperkuat sensasi kesat tersebut. Dengan demikian, fenomena ini bersifat normal dan dapat diminimalkan dengan membilas tangan secara menyeluruh, memilih sabun yang lebih lembut, serta menggunakan pelembap setelah mencuci tangan untuk menjaga kesehatan dan kenyamanan kulit.
DAFTAR PUSTAKA
Alodokter. (2022). Penyebab tangan kering setelah sering mencuci tangan.
JustAnswer. (2021). Mengapa sabun meninggalkan rasa lengket di tangan?
SimPureLife. (2020). Penyebab kulit lengket setelah mandi.
Forum Pembuatan Sabun. (2019). Diskusi tentang residu sabun dan kerak air sadah.
Unilever Indonesia. (2021). Pengaruh sabun dan air terhadap minyak alami kulit.
Wikipedia. (2023). Mencuci tangan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
