Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Trimanto B. Ngaderi

Sistem Pangan di Kabupaten Mandailing Natal: Antara Sawah, Sungai, dan Samudera

Consumer Goods | 2026-01-16 15:30:44

Sistem Pangan di Kabupaten Mandailing Natal: Antara Sawah, Sungai, dan Samudera

Tanah Berkelimpahan di kaki Bukit Barisan

Di ujung selatan Sumatera Utara, di mana dua sungai besar mengalir memeluk hamparan hijau yang subur, terbentang sebuah kabupaten yang namanya termaktub dalam Kitab Nagarakertagama sejak abad ke-14. Mandailing Natal, atau yang akrab disapa Madina, adalah sebuah mozaik kehidupan yang dirajut oleh tanah, air, dan tangan-tangan petani yang telah bekerja turun-temurun. Ini bukan sekadar cerita tentang pertanian—ini adalah narasi tentang bagaimana manusia dan alam berdialog dalam bahasa pangan.

Kabupaten yang terbentuk melalui pemekaran dari Tapanuli Selatan pada 1998 ini membentang seluas 6.620,70 km², dengan 23 kecamatan yang masing-masing menyimpan kisahnya sendiri tentang tanah dan hasil bumi. Dari ketinggian 450 hingga 1.600 meter di atas permukaan laut, tanah vulkanik yang kaya unsur hara ini telah menjadi lumbung pangan bagi wilayah sekitarnya.

Saya telah berkunjung ke daerah ini sebanyak dua kali. Saya meluangkan waktu untuk berkeliling ke huta-huta (desa-desa) untuk mengamati kehidupan keseharian penduduk local, terutama terkait mata pencaharian mereka. Bagaimana mereka mencukupi kebutuhan pangan keluarga sehari-hari dan sistem pengolahan yang mereka terapkan.

Saya melihat, selain mereka bercocok tanam padi, mereka juga memiliki perkebunan karet, cokelat, kelapa serta sedikit palawija dan sayur-sayuran. Di beberapa tempat, saya juga melihat ada tanaman kelapa sawit, kopi, pala, kayu manis, kemiri, aren, dll. Saya mengamati mereka dalam hal memanen, mengolah, menyimpan, dan menyajikan bahan pangan.

Potensi daerah Mandailing Natal. Sumber: https://info.madina.go.id/wp-content/uploads/2014/10/Potensi-Daerah-Mandailing-Natal.jpg

Padi, Simfoni Hijau di Lahan Rawa

Ketika fajar menyingsing di Kecamatan Siabu, hamparan sawah yang membentang seperti permadani hijau mulai bergerak. Para petani dengan caping mereka sudah siap di pematang, memulai ritual harian yang telah berlangsung ratusan tahun. Siabu bukan sekadar kecamatan biasa, ia adalah jantung produksi padi Mandailing Natal.

Menurut data tahun 2012 mencatat produksi padi di Siabu mencapai 47.342,54 ton, atau sekitar 26,33% dari total produksi padi kabupaten yang mencapai 179.829,54 ton. Angka-angka ini bukan sekadar statistik; mereka adalah bukti nyata bahwa tanah di Madina masih berbicara dengan murah hati kepada mereka yang mau mendengarkan.

Namun, tantangan selalu hadir. Program optimalisasi lahan rawa (Oplah) yang diluncurkan pemerintah menjadi jawaban atas keterbatasan lahan produktif. Pada 2024, program ini berhasil mengoptimalisasi 2.320 hektare lahan rawa, melampaui target awal 2.300 hektare. Kecamatan Siabu dan Panyabungan Utara menjadi fokus utama, dengan dukungan 15 Brigade Pangan yang dilengkapi teknologi modern seperti Rice Transplanter Portable dan Combine Harvester.

"Kami tidak lagi bergantung pada musim. Dengan teknologi dan kerja keras, kami bisa tanam dua kali setahun, bahkan tiga kali," ujar seorang petani di Desa Lumban Pasir, Panyabungan, saat menyaksikan gerak tanam bersama TNI dan Polri pada Desember 2024. Gerak tanam itu meliputi 9,5 hektare padi, sebuah upaya konkret mewujudkan ketahanan pangan nasional dari level paling bawah.

Tanaman Palawija, Jembatan Menuju Ketahanan Pangan

Di Desa Baringin Jaya, Panyabungan Utara, cerita berbeda tertulis di atas tanah. Jagung menjadi komoditas alternatif yang menjanjikan. Pada Desember 2024, lahan seluas 10 hektare ditanami jagung, sementara di lahan lain seluas 15 hektare, petani memanen jagung dengan produktivitas mencapai 5 ton per hektare.

Sedangkan di Kecamatan Natal, yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia, tercatat sebagai penghasil padi ladang tertinggi dengan produksi 30.101 ton, sekaligus menjadi pusat produksi kacang tanah, kedelai, dan kacang hijau terbesar di Mandailing Natal. Tanah di sana, yang diperkaya oleh endapan aluvial dari muara sungai (terutama Sungai Batang Natal), memiliki karakteristik unik yang cocok untuk palawija.

Pemda Madina aktif mendorong diversifikasi pangan. Wakil Bupati Atika Azmi Utammi Nasution dalam berbagai kesempatan menekankan pentingnya kemandirian pangan lokal, terutama untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG). "Selama kebutuhan bahan pangan masih bisa dipenuhi dari Madina, SPPG tidak akan mengambil bahan untuk MBG dari luar kabupaten," tegasnya pada Desember 2025.

Bantuan rutin dari Pemerintah Provinsi Sumatera Utara juga mengalir. Pada Desember 2025, puluhan kelompok tani di Kecamatan Panyabungan dan Panyabungan Barat menerima 11 ton benih padi, 10 ton bibit cabai merah, dan 5 ton bibit bawang merah, lengkap dengan pupuk cair dan organik.

Perkebunan, Emas Hijau dari Bukit ke Lembah

Jika padi adalah nafas, maka perkebunan adalah nadi ekonomi Mandailing Natal. Kelapa sawit mendominasi dengan luas 72.595,48 hektare dan produksi 655.000 ton pada 2013. Perkebunan karet membentang seluas 72.169,28 hektare dengan produksi 61.865,33 ton, menjadikan Mandailing Natal sebagai salah satu pusat karet rakyat terbesar di Sumatera Utara.

Kopi Mandailing—nama yang bergema hingga pasar Eropa dan Amerika—tumbuh di lereng-lereng bukit dengan ketinggian ideal. Bersama dengan kakao, aren, kelapa, kulit manis, dan kemiri, komoditas perkebunan ini membentuk tulang punggung perekonomian rakyat. United Nations Development Programme (UNDP) bahkan mengirim tim khusus ke Madina untuk menyiapkan program Food System, Land Use, dan Restoration, khususnya untuk sistem produksi kopi dan kelapa sawit yang berkelanjutan.

Namun di balik angka-angka produksi, ada cerita manusia. Jutaan keluarga petani kecil yang mengelola lahan terbatas, setiap pagi berangkat ke kebun dengan harapan hasil panen bisa dipakai untuk membayar sekolah anak, membeli obat untuk orang tua, dan menyisihkan sedikit untuk masa depan. Di Kecamatan Panyabungan, Pak Taufik, seorang petani karet berusia 52 tahun, menyadap pohon karet sejak subuh. "Getah ini bukan sekadar cairan putih. Ini keringat kami, harapan kami," katanya sambil memasang mangkuk penampung di batang karet.

Parrodang, Nelayan Air Tawar yang Terlupakan

Ada satu kelompok masyarakat yang hampir tidak pernah terdengar dalam narasi besar pertanian Mandailing Natal yaitu Parrodang, begitu ia disebut. Pekerjaan ini identik dengan para pencari ikan di kawasan Rodang Tinapor, hamparan rawa besar. Rodang ini membentang mulai dari Desa Huraba, Siabu, Bonandolok, Simangambat, Hutapuli dan batas muara Batang Gadis di sebelah barat (Mandailing Natal) hingga ke batas Sayur Matinggi di sebelah utara (Tapanuli Selatan). Ratusan keluarga menggantungkan hidup dari menangkap ikan tawar.

Setiap malam, nelayan mendayung perahu mereka menyusuri rawa yang gelap, ditemani lampu teplok yang bergoyang, menghadapi buaya, ular berbisa dan binatang buas lainnya. Namun di balik bahaya itu, ada rezeki berupa ikan keting, ikan gabus, lele, dan puluhan jenis ikan tawar lainnya yang kemudian dijual di pasar-pasar Siabu, Panyabungan, hingga Padangsidimpuan.

"Kami yang sepanjang tahun mensuplai kebutuhan ikan tawar di daerah ini," tutur seorang nelayan yang enggan disebut namanya. Pada 2007, produksi perikanan air tawar dari perairan umum mencapai 167 ton, sementara hasil budidaya mencapai 753 ton. Angka yang tidak terlalu besar, namun vital bagi protein hewani masyarakat lokal.

Samudera yang Memanggil, Perikanan Laut Mandailing Natal

Di ujung barat Mandailing Natal, di mana Samudera Hindia menghempas pantai sepanjang 170 kilometer, kehidupan berlangsung dengan ritme yang berbeda. Nelayan Kecamatan Batahan, Natal, dan Muara Batang Gadis melaut dengan perahu motor di bawah 5 GT, menangkap ikan dengan cara tradisional yang telah diwariskan leluhur.

Berdasarkan data tahun 2007, mencatat produksi perikanan laut mencapai 14.969 ton dengan nilai produksi Rp 95,38 miliar. Wilayah laut seluas 1.789 km² dengan 252 unit perahu motor dan 1.055 alat tangkap menopang kehidupan 1.548 rumah tangga nelayan. Namun kehidupan nelayan tidak pernah mudah. Pada Agustus 2023, kapal KM Mika dengan 14 ABK karam diterjang ombak setinggi rumah, mengingatkan bahwa laut adalah pemberi sekaligus penguji.

Konflik pun kerap terjadi. Pada Oktober 2021, 16 nelayan Batahan diamankan Dinas Kelautan dan Perikanan Sumatera Barat karena menggunakan pukat trawl —alat tangkap yang merusak ekosistem laut – di perairan Air Bangis. Insiden ini menunjukkan betapa kompleksnya persoalan pengelolaan sumber daya perikanan, antara kebutuhan ekonomi nelayan dan keberlanjutan ekosistem.

Lahan tambak seluas 1.500 hektare yang tersebar di pesisir menjadi potensi besar yang belum dioptimalkan. Dengan teknologi budidaya modern seperti yang dikembangkan di tempat lain, tambak-tambak Mandailing Natal sebenarnya bisa menjadi penghasil udang, bandeng, dan rumput laut berkualitas ekspor.

Tantangan di Tengah Keberlimpahan

Sistem pangan Mandailing Natal tidak lepas dari berbagai tantangan struktural. Keterbatasan modal, rendahnya tingkat pendidikan dan keterampilan petani-nelayan, serta minimnya sarana dan prasarana menjadi hambatan klasik yang belum sepenuhnya teratasi. Di Kecamatan Batahan, misalnya, baru 22,27% rumah tangga yang teraliri listrik pada tahun-tahun sebelumnya, sebuah ironi di tengah potensi alam yang melimpah.

Infrastruktur jalan yang menghubungkan sentra produksi dengan pasar juga masih menjadi masalah. Jalan dari Natal ke Batahan yang belum memadai membuat biaya distribusi hasil panen dan bahan pangan membengkak, sehingga petani mendapat harga jual rendah sementara konsumen membayar mahal.

Bencana alam, terutama banjir dari luapan Sungai Batang Batahan, menjadi ancaman tahunan. Ketika curah hujan tinggi di akhir tahun, air meluap dan menghanyutkan hasil panen. Namun paradoksnya, banjir yang sama juga membawa kesuburan dari endapan lumpur yang kaya unsur hara.

Perubahan iklim mulai dirasakan dampaknya. Musim yang tidak menentu, curah hujan yang tinggi, dan suhu yang menghangat mengubah pola tanam tradisional. Petani harus beradaptasi, dan ini tidak mudah tanpa pendampingan teknis yang memadai.

Transformasi Sistem Pangan yang Berkelanjutan

Namun bukan Mandailing Natal namanya jika tidak memiliki ketahanan menghadapi tantangan. Berbagai program transformasi mulai bergulir. Kolaborasi antara Dinas Pertanian Kabupaten Mandailing Natal dengan Kodim 0212/Tapanuli Selatan dalam perbaikan infrastruktur lahan rawa menunjukkan komitmen serius pemerintah daerah.

Program Brigade Pangan dengan alat-alat mekanis pertanian modern seperti traktor, rice transplanter, dan combine harvester mulai mengubah wajah pertanian. Generasi muda didorong terlibat melalui pendampingan teknologi dan pembukaan akses pasar.

Kabupaten ini juga mulai melihat potensi agrowisata. Dengan kombinasi hamparan perkebunan kopi dan kelapa sawit di kawasan perbukitan, persawahan hijau di dataran, hingga pantai-pantai eksotis, Mandailing Natal memiliki modal besar untuk mengembangkan pertanian berbasis pariwisata. Wisatawan tidak hanya datang untuk melihat, tetapi juga untuk belajar dan merasakan langsung kehidupan agraris yang autentik.

Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PAGI) Cabang Mandailing Natal juga aktif mendorong transformasi sistem pangan agar mampu menyediakan pola makan yang lebih sehat. Fokus mereka adalah memastikan bahwa kelompok rentan—anak-anak, ibu hamil, dan lansia—mendapat akses ke bahan pangan bergizi yang cukup.

Pangan sebagai Identitas

Sistem pangan Mandailing Natal adalah cerminan dari identitas daerah itu sendiri yaitu beragam, tangguh, dan kaya akan warisan. Dari areal persawahan Siabu yang membentang hijau, kebun kopi di lereng bukit, rawa Tinapor dengan nelayan tawarnya, hingga nelayan laut yang berjuang melawan ombak Samudera Hindia, semuanya adalah benang-benang yang merajut kehidupan.

Pangan di sini bukan sekadar komoditas ekonomi. Ia adalah budaya, ia adalah identitas, ia adalah narasi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ketika seorang ibu di Panyabungan menyajikan nasi panas dengan gulai ikan keting untuk keluarganya, ia tidak hanya menyajikan makanan, ia menyajikan sejarah tanah yang telah memberi makan para leluhurnya ratusan tahun lalu.

Dan ketika kita berbicara tentang ketahanan pangan nasional (food estate), jangan lupa bahwa fondasi itu dibangun di tempat-tempat seperti Mandailing Natal, di tangan petani yang bangun sebelum matahari terbit, di perahu nelayan yang melawan ombak, di kebun kopi di lereng bukit yang dirawat dengan cinta. Mereka adalah pahlawan pangan tanpa tanda jasa, penjaga sistem pangan yang sejati.

Mandailing Natal mengajarkan kita bahwa sistem pangan yang berkelanjutan adalah sistem yang menghormati tanah, menghargai petani, dan memahami bahwa kelimpahan hari ini adalah titipan untuk generasi mendatang. Di sinilah, antara sawah, sungai, dan samudera, masa depan pangan Indonesia sesungguhnya sedang dinarasikan.

Referensi:

Agricom.id (2025). "Mandailing Natal Tingkatkan Ketahanan Pangan Lewat Kolaborasi Infrastruktur Lahan Rawa". 13 Mei 2025.

Badan Pusat Statistik Kabupaten Mandailing Natal. (2017). Profil Kabupaten Mandailing Natal.

Diskominfo Mandailing Natal. "Welcome to the UNDP team and Welcome to Mandailing Natal". https://info.madina.go.id/

GoSumut.com (2025). "Puluhan Kelompok Tani Dua Kecamatan di Madina Dapat Bantuan Bibit Tanaman Reguler dari Sumut". 16 Desember 2025.

Koran Jakarta (2025). "Pemkab Mandailing Natal Ajak Warga Tingkatkan Penanaman Palawija untuk Kemandirian Pangan". 17 Mei 2025.

North Sumatra Invest. (2018). Profil Investasi Kabupaten Mandailing Natal.

Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal. "PARRODANG: Bertahan Sepanjang Zaman". https://madina.go.id/

Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal. Potensi Daerah. https://madina.go.id/selayang-pandang/potensi-daerah/

Persatuan Ahli Gizi Indonesia Cabang Mandailing Natal. https://pagimandailingnatal.id/

Repository IPB. "Kajian Kebijakan Perikanan Tangkap di Kabupaten Mandailing-Natal, Sumatera Utara".

Repository UIN Suska. "Gambaran Umum Lokasi Penelitian Kabupaten Mandailing Natal". https://repository.uin-suska.ac.id/

Teropongindonesia News (2024). "Dinas Pertanian Madina Bersama TNI-Polri Lakukan Gerak Tanam". 15 Desember 2024.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Terpopuler di

 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image