Dari Petilasan Pangeran Diponegoro ke Penghasilan: Kisah Gunung Mijil Gandekan
Wisata | 2026-01-16 03:46:21Bantul – Warga Desa Gandekan, Guwosari, Pajangan, Kabupaten Bantul, sukses mengelola Bukit Gunung Mijil petilasan Pangeran Diponegoro menjadi desa wisata berkelanjutan. Melalui pendekatan partisipatif, lokasi bersejarah ini kini melestarikan nilai Perang Jawa sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat, dari pedagang kecil hingga pemuda kreatif.
Secara geografis, bukit setinggi ideal untuk pengintaian ini termasuk Perbukitan Sentolo, berdekatan dengan Goa Selarong. Warga telah membangun fasilitas pendukung seperti area parkir luas, wifi gratis, dan panggung terbuka, yang menarik wisatawan sambil menciptakan lapangan kerja lokal.
Peran Aktif Warga dalam Pengelolaan
Pengelolaan Desa Wisata Gunung Mijil murni digerakkan masyarakat. Bu Imah, pedagang jajanan ringan di sekitar area tersebut, berbagi cerita, “Sejak 2020 saya dan warga lain berjualan di sini. Malam hari paling ramai, terutama anak muda yang nongkrong sambil mengerjakan tugas berkat Wi-Fi gratis. Penghasilan kami naik setelah jadi desa wisata,” ujarnya.
Pemuda desa berkontribusi lewat kelompok kreatif, mempromosikan spot ini via Instagram dan TikTok, serta menggelar event bersama perangkat desa. Isti, ibu rumah tangga, ikut menemani anaknya berlatih menari. “Dekat rumah, fasilitas lengkap, dan anak bisa mendapat eksposur digital,” ujarnya. Warga juga mengelola angkringan malam, memadukan wisata sejarah dengan kuliner murah yang laris di kalangan wisatawan Yogyakarta.
Prestasi dan Prospek Masa Depan
Upaya ini berbuah manis. Tahun 2023, Desa Wisata Gunung Mijil meraih Juara 3 Lomba Desa Wisata Daerah Istimewa Yogyakarta kategori Desa Berkualitas. Penghargaan itu memperkuat komitmen warga menjaga budaya lokal, termasuk rutin menggelar merti dusun sebagai sarana pelestarian tradisi dan silaturahmi.
Desa Wisata Gunung Mijil jadi bukti nyata: pemberdayaan masyarakat bisa menyatukan warisan sejarah dengan ekonomi modern, menciptakan model desa wisata inklusif di Yogyakarta.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
