Hikmah Isra Mikraj, Segalanya Menjadi Mungkin Atas Kuasa Allah
Agama | 2026-01-15 14:44:27
Isra Mikraj adalah peristiwa dahsyat yang bisa membedakan antara keimanan dengan kekafiran. Bagaimana tidak, peristiwa perjalanan Nabi Muhammad Saw dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang berjarak lebih dari 1.400 km, kemudian ke Sidratul Muntaha ditempuh dalam waktu kurang dari semalam. Diriwayatkan oleh Aisyah bahwa sebelum tidur Rasulullah Saw berada di sampingnya dan setelah bangun Rasulullah Saw juga masih disampingnya. Artinya perjalanan Isra Mikraj kurang dari semalam.
Sidratul Muntaha sendiri berada di langit ke tujuh dimana ilmu pengetahuan saat ini pun tidak mampu menjangkaunya. Sedangkan jarak terjauh ujung semesta yang bisa diamati yaitu 27 milyar tahun cahaya. Kecepatan Rasulullah Saw jauh melebihi kecepatan cahaya. Kecepatan cahaya sendiri adalah 300.000 km per detik. Mayoritas ulama meyakini bahwa perjalanan tersebut terjadi baik dengan ruh maupun jasad. Padahal secara teori benda yang mencapai kecepatan cahaya akan terbakar.
Sungguh tidak rasional peristiwa Isra Mikraj, hingga sebagian muslim pada waktu itu keluar dari Islam atau kembali kepada kekafiran. Sebagian yang lain tetap beriman. Inilah mengapa Isra Mikraj menjadi pembeda antara keimanan dan kekafiran.
Kebenaran Isra Mikraj tidak bisa diperoleh dengan jalan akal karena keterbatasan akal manusia dalam menjangkaunya. Keimanan terhadapnya disandarkan pada keimanan kepada Rasulullah Saw. Sebagaimana Abu Bakar ra. ketika ditanya oleh sahabat yang lain tentang Isra Mikraj, beliau mengatakan percaya dengan peristiwa tersebut. Bahkan jika Nabi Saw mengatakan lebih dari itu beliau akan tetap percaya karena memang Rasulullah Saw tidak pernah berbohong. Apapun yang disampaikan oleh Rasulullah Saw adalah kebenaran.
Dari peristiwa tersebut, kita juga mengimani kemahakuasaan Allah yang atas izin-Nya mampu memperjalankan hamba-Nya dengan perjalanan yang mustahil menurut akal manusia. Namun tidak ada yang tidak mungkin dengan kuasa Allah Swt.
Sebagai seorang muslim kita harus meyakini bahwa Allah Maha Kuasa. Keyakinan tersebut sangat penting diimplementasikan dalam kehidupan. Misal dalam menghadapi ujian hidup. Segala ujian pasti ada solusinya atas kuasa Allah Saw. Setiap ujian yang menimpa kita pasti ada jalan keluar. Dan tidak ada masalah besar jika Allah Maha Kuasa. Dan sebaliknya, masalah akan menjadi besar jika tidak tahu jalan keluarnya.
Allah Yang Maha Kuasa, Allah juga Maha Pengatur. Allah menciptakan manusia, memberinya ujian, dan Allah juga memberinya solusi berupa ajaran Islam. Islam tidak sekedar agama ritual. Namun lebih dari itu, Islam adalah pedoman hidup. Islam mengatur seluruh aspek kehidupan, baik di level individu hingga negara.
Sebagai contoh, banyaknya bencana alam saat ini yang merupakan ujian berat bagi sebagian dari kita. Penyebabnya ulah manusia sendiri, sedangkan alam hanya bereaksi sesuai dengan bagaimana manusia memperlakukannya. Bencana banjir dan tanah longsor terjadi akibat deforestasi yang dilegalkan oleh undang-undang. Maka solusinya dalam Islam adalah mengembalikan kepemilikan hutan sebagaimana Allah mengaturnya. Bahwa hutan adalah milik umum tidak boleh dikuasai oleh individu maupun korporasi, bahkan negara sekalipun. Haram bagi individu maupun korporasi untuk menguasainya dalam skala besar. Negara yang menerapkan syariat Islam harus memberinya sanksi sesuai dengan kerusakan yang ditimbulkan.
Jadi, syariat Islam adalah solusi. Manusia hanya perlu untuk menerapkannya saja baik di level individu, masyarakat, dan negara. Justru berbagai persoalan hidup baik berupa bencana alam maupun bencana sosial kemanusiaan yang terjadi karena tidak diterapkannya syaiat Islam. Saat ini hukum-hukum Islam yang diterapkan masih di level individu, itupun hanya sebagian kecil. Seperti syariat dalam sholat, puasa, ibadah haji, dan sodaqoh. Sedangkan hukum Islam di level negara belum diterapkan seperti sistem sanksi, sistem politik pemerintahan, sistem pendidikan, sistem kesehatan, sistem ekonomi, dan sistem sosial kemasyarakatan, dan media.
Inilah yang disebut sekularisme. Menggunakan Islam hanya untuk urusan ibadah spiritual. Sedangkan dalam kehidupan, syariat Islam ditinggalkan. Manusia lebih memilih membuat aturan sendiri dengan akalnya yang terbatas. Jargon kedaulatan ada di tangan rakyat menjadikan legitimasi para penguasa maupun wakil rakyat untuk membuat aturan. Padahal sejatinya Allah-lah yag berhak berdaulat atas manusia, alam semesta, dan kehidupan. Allah-lah yang berhak mengatur manusia.
Dibutuhkan persatuan umat untuk menerapkan syariat Allah Swt di level negara. Umat Islam harus satu suara menyerukan tegaknya Islam di muka bumi ini. Perjuangan menyatukan umat demi tegaknya Islam dengan dakwah adalah kewajiban. Sedangkan terwujudnya cita-cita tersebut adalah keniscayaan atas kuasa Allah Swt. Jika syariat Islam diterapkan seluruhnya (kaffah) maka keberkahan akan turun dari langit dan dari bumi. Selamatlah manusia di dunia dan di akhirat.
Maka hendaknya peristiwa Isra Mikraj tidak sekedar diperingati secara seremonial saja atau sekedar menceritakan sejarahnya yang diulang-ulang tiap tahun tanpa mengambil hikmah darinya. Umat muslim hendaknya bersegera menerapkan risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. Tidak ada yang tidak mungkin atas kuasa Allah Swt.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
