Ramai di Media Sosial, Sunyi Empati dalam Komunikasi Digital
Eduaksi | 2026-01-13 12:54:49
Pernah merasa lelah setelah membaca kolom komentar di media sosial? Bukan karena topiknya berat, melainkan karena emosi yang saling bertabrakan. Media sosial memang membuat komunikasi berlangsung cepat dan masif, namun sering kali mengorbankan empati. Percakapan yang seharusnya menjadi ruang bertukar gagasan justru berubah menjadi sumber salah paham dan kelelahan emosional.
Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan komunikasi digital tidak semata-mata terletak pada teknologi, melainkan pada cara manusia mengelola emosi saat berinteraksi. Tanpa intonasi suara, ekspresi wajah, dan bahasa tubuh, pesan berbasis teks mudah ditafsirkan secara keliru. Ketika respons diberikan secara tergesa-gesa tanpa refleksi, konflik pun menjadi sulit dihindari.
Media sosial memungkinkan setiap orang menjadi komunikator sekaligus komunikan. Namun, kecepatan interaksi sering membuat pengguna lupa bahwa di balik layar terdapat individu dengan emosi dan latar belakang yang berbeda. Tanpa kesadaran tersebut, komunikasi dengan mudah berubah menjadi ajang pelampiasan emosi, bukan ruang dialog yang sehat.
Dalam kajian ilmu komunikasi, kondisi ini dapat dipahami melalui Teori Komunikasi Hati. Teori ini memandang komunikasi sebagai proses yang berawal dari olah pikir dan olah rasa. Pesan yang disampaikan tanpa pengelolaan emosi berpotensi memicu respons defensif dan memperpanjang konflik. Sebaliknya, komunikasi yang dilandasi empati mampu menciptakan interaksi yang lebih sehat dan saling memahami.
Komunikasi digital menuntut kemampuan refleksi sebelum merespons. Mengendalikan emosi, memilih kata dengan cermat, serta memahami dampak pesan yang disampaikan menjadi kunci dalam menjaga kualitas interaksi. Tanpa kesadaran tersebut, media sosial berisiko menjadi ruang yang melelahkan secara emosional.
Dengan meningkatnya kesadaran emosional dalam berkomunikasi, media sosial dapat dimaknai sebagai ruang dialog, bukan sekadar tempat bereaksi. Tantangan komunikasi digital saat ini bukan soal teknologi yang semakin canggih, melainkan kemampuan manusia untuk tetap berempati di tengah arus komunikasi yang serba cepat.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
