Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Majelis Pustaka Informasi PCM Wiradesa

Dari Kauman, Belajar Mengubah Harta Menjadi Jejak Kebaikan

Khazanah | 2026-01-13 08:45:39

Di tengah kehidupan yang kian diukur oleh capaian materi, pengajian yang digelar Ikatan Wali Murid (IKWAM) bersama alumni Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) Kauman justru mengingatkan kita pada satu pertanyaan mendasar: untuk apa harta sebenarnya dikumpulkan? Apakah sekadar menjadi simbol keberhasilan duniawi, ataukah dapat diubah menjadi jejak kebaikan yang terus hidup bahkan setelah pemiliknya tiada?

Pertanyaan inilah yang secara tersirat dijawab dalam pengajian IKWAM dan alumni MIM Kauman yang berlangsung di Masjid Sabilurrahman Kauman. Mengusung tema “Amal Jariyah: Mengubah Harta Menebar Kebaikan”, kegiatan ini bukan sekadar forum keagamaan rutin, melainkan ruang refleksi bersama tentang makna kepemilikan, kepedulian, dan tanggung jawab sosial.

Hadir sebagai penceramah, Dr. Ibnu Sholeh, M.A., M.PI., mengajak jamaah melihat amal jariyah bukan hanya sebagai konsep normatif dalam teks keagamaan, tetapi sebagai praktik hidup yang konkret. Amal jariyah, menurutnya, adalah cara umat Islam mengalihkan orientasi harta dari sekadar konsumsi pribadi menuju kebermanfaatan sosial yang berkelanjutan. Dari pendidikan, fasilitas ibadah, hingga program kemanusiaan, harta menemukan nilai sejatinya ketika ia mengalir untuk kemaslahatan orang banyak.

Yang menarik, pengajian ini mempertemukan lintas generasi: wali murid kelas 1 hingga kelas 6, para alumni, guru, dan karyawan MIM Kauman. Pertemuan ini mencerminkan bahwa amal jariyah bukan proyek individual, melainkan gerakan kolektif. Ketika sekolah, orang tua, dan alumni duduk bersama dalam satu majelis, di situlah ekosistem kebaikan dibangun secara nyata.

Kepala MIM Kauman, Muhammad Sukron, S.Pd.I., dalam sambutannya menegaskan bahwa pengajian semacam ini memiliki makna strategis bagi kemajuan sekolah. Tidak hanya mempererat silaturahmi, tetapi juga menanamkan nilai keikhlasan, kepedulian, dan semangat berbagi kepada seluruh keluarga besar MIM Kauman. Sekolah, dalam konteks ini, tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu, tetapi juga pusat pembentukan karakter dan kesadaran sosial.

Di tengah tantangan zaman yang sering memisahkan institusi pendidikan dari masyarakat sekitarnya, pengajian IKWAM dan alumni MIM Kauman menunjukkan model sebaliknya. Sekolah justru hadir sebagai simpul kebersamaan, ruang spiritual, dan motor penggerak kepedulian. Alumni tidak tercerabut dari akar, wali murid tidak sekadar menjadi “pengantar anak”, dan guru tidak berdiri sendiri dalam mendidik.

Lebih dari itu, pengajian ini mengajarkan bahwa amal jariyah tidak selalu menunggu kelimpahan. Ia bisa dimulai dari kesadaran, niat, dan kebersamaan. Ketika nilai-nilai ini ditanamkan sejak lingkungan pendidikan dasar, maka yang tumbuh bukan hanya generasi cerdas, tetapi juga generasi yang memahami bahwa hidup terbaik adalah hidup yang memberi.

Dari Kauman, kita belajar bahwa mengubah harta menjadi jejak kebaikan bukanlah wacana besar yang sulit diwujudkan. Ia bisa dimulai dari majelis kecil, niat tulus, dan komitmen bersama untuk menjadikan kebermanfaatan sebagai tujuan hidup. Sebab pada akhirnya, yang akan dikenang bukan seberapa banyak yang kita miliki, melainkan seberapa luas manfaat yang kita tinggalkan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image