Syahwat Kekuasaan di Balik Tabir Organisasi
Bisnis | 2026-01-12 22:58:26
Dalam diskursus manajemen modern, kita sering mendengar para pemimpin organisasi mendengungkan diktum "kekeluargaan" sebagai ruh perusahaan. Namun, di balik narasi yang tampak teduh itu, sering kali terselip patologi yang akut. Apa yang dalam teori organisasi disebut sebagai pendekatan neoklasik upaya memanusiakan manusia dalam kerja kini justru kerap mengalami simplifikasi yang menyesatkan. Ia berubah menjadi instrumen kontrol untuk meredam nalar kritis karyawan.
Sejatinya, organisasi di negeri ini sedang mengidap dualitas yang ganjil. Di satu sisi, mereka memuja efisiensi ala Teori Klasik mekanistik, kaku, dan memuja hirarki. Di sisi lain, mereka menuntut loyalitas tanpa batas layaknya ikatan darah. Akibatnya, lahir sebuah struktur yang kami sebut sebagai "Birokrasi Rasa Feodal". Di sini, profesionalisme sering kali dikalahkan oleh sentimen emosional yang manipulatif.
Fetisisme Slogan
Eksploitasi atas nama keluarga adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah kepemimpinan. Ketika seorang atasan menggunakan alasan "solidaritas" untuk memangkas hak istirahat atau mengaburkan kompensasi, ia sebenarnya sedang menghancurkan organisasi dari dalam. Organisasi bukan lagi dipandang sebagai Sistem Terbuka yang adaptif dan transparan, melainkan menjadi ruang gelap di mana keputusan diambil berdasarkan syahwat kekuasaan, bukan meritokrasi.
Kita perlu mengembalikan organisasi pada khitahnya sebagai ruang kolaborasi yang bermartabat. Profesionalitas tidak boleh mati karena sungkan, dan hak tidak boleh gugur karena alasan "pengabdian". Dalam perspektif keadilan, kesejahteraan karyawan adalah indikator utama keberhasilan sebuah sistem, bukan sekadar angka-angka di laporan neraca yang kering.
Menuju Organisasi Beradab
Membangun organisasi yang beradab menuntut keberanian untuk menghancurkan tembok-tembok birokrasi yang membelenggu kreativitas. Kepemimpinan harus diletakkan kembali sebagai pelayanan, bukan perbudakan modern berselubung keramahan. Tanpa adanya batasan etis yang tegas antara ruang privat dan ruang kerja, organisasi hanya akan menjadi mesin penghasil kelelahan mental yang masif.
Sudah saatnya kita berhenti bersandiwara dengan slogan-slogan kosong. Organisasi yang unggul adalah ia yang mampu meletakkan keadilan di atas kepentingan sesaat, dan menghargai setiap keringat karyawannya sebagai bagian dari martabat kemanusiaan yang luhur. Sebab, di atas segala teori manajemen yang canggih, etika tetaplah menjadi kompas tertinggi.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
