Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image AZKA M IKHWAN

Ketika Influencer Turun Tangan: Lebih dari Sekadar Konten, Ini Soal Kebersamaan

Info Terkini | 2026-01-12 13:33:26

Belakangan ini, media sosial lagi-lagi dipenuhi kabar tentang banjir dan longsor di beberapa wilayah Sumatra. Scroll sedikit di Instagram, TikTok, atau X, kita langsung ketemu video rumah terendam air, kondisi pengungsian, sampai ekspresi lelah para korban. Tapi di balik derasnya informasi itu, ada satu hal menarik yang ikut mencuri perhatian: banyak influencer nggak cuma update berita, tapi juga turun tangan langsung bantu para korban.

Kita bisa lihat sendiri, ada influencer yang buka donasi, ngumpulin bantuan logistik, bahkan datang langsung ke lokasi buat bagi-bagi sembako. Konten yang mereka unggah juga bukan cuma soal sedih-sedihan, tapi lebih ke ajakan buat ikut peduli dan bergerak bareng. Dari sini muncul pertanyaan seru: sebenarnya seberapa besar sih pengaruh influencer dalam menggerakkan kepedulian publik?

Kalau dilihat dari kacamata teori behaviorisme, perilaku ini cukup masuk akal. Teori ini bilang kalau perilaku manusia bisa dibentuk lewat stimulus dan respons. Jadi, ketika influencer ngasih stimulus berupa ajakan donasi, cerita empati, atau contoh aksi nyata, audiens pun merespons dengan tindakan yang mirip: ikut berdonasi, share informasi, atau tergerak buat bantu sesama.

Sekarang, media sosial bukan cuma tempat hiburan, tapi juga ruang buat membentuk sikap dan kebiasaan sosial. Influencer punya posisi strategis karena mereka dekat secara emosional dengan followers-nya. Ketika sosok yang kita percaya menunjukkan kepedulian, pesannya terasa lebih personal dibanding sekadar imbauan resmi dari lembaga atau pemerintah. Nggak heran kalau respons publik jadi lebih cepat dan ramai.

Yang menarik lagi, banyak konten kemanusiaan kali ini nggak dibuat lebay atau terlalu dramatis. Alih-alih mengeksploitasi penderitaan korban, mereka lebih fokus ke solidaritas, transparansi penyaluran bantuan, dan edukasi soal kebutuhan di lapangan. Ini menunjukkan ada pergeseran mindset: dari sekadar cari engagement, jadi benar-benar ingin memberi dampak nyata.

Walaupun begitu, kita tetap perlu kritis. Nggak bisa dipungkiri, ada juga potensi konten kemanusiaan dipakai buat pencitraan. Kamera tetap nyala, logo tetap muncul, dan jumlah views tetap jadi perhatian. Di sini, publik perlu lebih jeli membedakan mana kepedulian yang tulus dan mana yang sekadar cari popularitas. Tapi selama aksinya benar-benar membantu korban, dampak positifnya tetap layak diapresiasi.

Kalau balik lagi ke behaviorisme, yang paling penting adalah hasil akhirnya. Kalau konten influencer bisa bikin banyak orang tergerak berdonasi, lebih peduli soal kesiapsiagaan bencana, dan bantuan bisa lebih cepat sampai, berarti stimulus komunikasinya berhasil. Respons kolektif ini membuktikan kalau media sosial bisa jadi alat perubahan sosial, bukan cuma tempat hiburan.

Fenomena ini juga nunjukin kalau generasi digital cenderung mudah terinspirasi oleh figur yang mereka kagumi. Influencer bisa jadi role model dalam membentuk kebiasaan berbagi dan empati. Ketika membantu sesama jadi tren positif, perilaku peduli pun ikut menguat. Lama-lama, rasa empati bukan lagi sesuatu yang dipaksakan, tapi jadi kebiasaan.

Meski begitu, tanggung jawab moral tetap penting buat para influencer. Transparansi donasi, laporan yang jujur, dan menghormati privasi korban harus jadi prioritas. Konten kemanusiaan seharusnya nggak menjadikan penderitaan orang lain sebagai bahan sensasi.

Sebagai pengguna media sosial, kita juga punya peran. Kita bukan cuma penonton, tapi bagian dari rantai komunikasi itu sendiri. Kita bisa memilih buat menyebarkan hal-hal positif, ikut membantu sesuai kemampuan, dan nggak gampang terpancing konten yang manipulatif.

Bencana di Sumatra seharusnya jadi momentum buat memperkuat solidaritas. Kehadiran influencer yang aktif membantu membuktikan kalau popularitas dan teknologi bisa dipakai untuk tujuan baik. Kalau yang disebarkan adalah kepedulian, maka respons yang muncul pun empati dan aksi nyata.

Pada akhirnya, media sosial bukan soal siapa yang paling viral, tapi siapa yang paling berdampak. Ketika konten bisa berubah jadi gerakan sosial, di situlah kekuatan komunikasi benar-benar terasa: membentuk perilaku, menumbuhkan empati, dan menghadirkan harapan di tengah musibah.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Terpopuler di

 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image