Ketika Self-Care Jadi Jalan Bertahan: Kesehatan Mental Gen Z dan Tekanan Digital
Info Terkini | 2026-01-11 02:40:18Oleh: Muhammad Fakhri Fahrezi
Di era digital yang serba cepat dan penuh tuntutan saat ini, masalah kesehatan mental semakin sering dibicarakan, terutama di kalangan Generasi Z. Praktik perawatan diri kini dianggap penting dan wajar, mulai dari berhenti menggunakan media sosial hingga mendapatkan bantuan profesional.
Gen Z lebih mudah berbicara tentang masalah mental dari generasi sebelumnya yang lebih sering menyimpannya. Kualitas hidup seseorang saat ini terdiri dari kesehatan mental, bukan lagi hal yang berputar-putar.
Gen Z tumbuh bersama internet dan media sosial. Hampir setiap aspek kehidupan mereka terhubung dengan layar: belajar, bekerja, bersosialisasi, hingga mencari pengakuan. Sayangnya, kondisi ini juga membawa tekanan besar. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa 1 dari 7 remaja di dunia mengalami gangguan kesehatan mental, kecemasan dan depresi sebagai masalah utama.
Sementara itu, American Psychological Association (APA) menyebut Gen Z sebagai generasi dengan tingkat stres tertinggi, terutama karena tekanan akademik, ekonomi, dan media sosial. Di Indonesia, Kementerian Kesehatan melalui Survei Kesehatan Indonesia menunjukkan bahwa sekitar 15 persen remaja dan dewasa muda mengalami gangguan mental emosional. Angka ini terus meningkat, seiring tingginya paparan media sosial dan gaya hidup serba cepat.
Media sosial juga memperkuat persaingan budaya. Kehidupan yang ditampilkan sering kali terlihat sempurna produktif, bahagia, dan sukses. Tanpa disadari, standar semu ini membuat banyak anak muda yang merasa tertinggal, gagal, dan tidak cukup baik.
Fenomena perawatan diri tidak muncul begitu saja. Dalam kajian komunikasi, Teori Framing menjelaskan bagaimana media membentuk cara kita memandang suatu isu. Menurut Robert N. Entman, framing adalah proses memilih dan menonjolkan aspek-aspek tertentu dari realitas agar dapat dipahami dengan cara tertentu.
Media digital saat ini membingkai perawatan diri sebagai tanda kepedulian pada diri sendiri, langka bijak untuk mencegah stres dan kelelahan, bagian dari gaya hidup sehat.
Framing ini perlahan mengubah stigma lama bahwa masalah mental adalah kelemahan. Saat ini, menjaga kesehatan mental disamakan dengan menjaga kesehatan fisik. Istirahat, membatasi media sosial, atau beralih ke psikologi tidak lagi dianggap berlebihan, melainkan kebutuhan yang berlebihan. Karena framing inilah, perawatan diri menjadi semakin populer dan diterima secara luas, terutama dikalangan Gen Z.
Di satu sisi, media digital membantu meningkatkan kesadaran kesehatan mental. Informasi mudah diakses, komunitas berani tumbuh, dan ruang berbagi pengalaman semakin terbuka.
Banyak Gen Z merasa lebih aman dalam mengekspresikan perasaannya di ruang digital. Namun di sisi lain, muncul masalah baru. Konten self-diagnosis dan romantisasi gangguan mental semakin marak. Tidak semua informasi di media sosial akurat. Tanpa pendampingan profesional, pencarian jawaban secara mandiri justru bisa menambah kecemasan.
Perawatan diri seharusnya tidak berarti menangani semuanya sendirian. Justru, mengetahui kapan harus meminta bantuan adalah bagian penting dari merawat diri. Tren perawatan diri di kalangan Gen Z adalah sinyal positif. Ini menunjukkan bahwa generasi muda mulai berani jujur pada diri sendiri dan menolak budaya “sibuk terus” yang melelahkan.
Merawat diri adalah langkah awal agar bisa peduli pada orang lain, tetapi masalah kesehatan mental tidak dapat dibebankan sepenuhnya pada individu. Jika tidak, pengobatan pribadi hanya akan menyelesaikan masalah sistemik , tetapi sekolah, kampus, tempat kerja, media, dan negara harus bertanggung jawab untuk menciptakan lingkungan mental yang lebih baik.
Tanggung jawab kesehatan mental generasi Z bukan sekadar tren media sosial, itu berasal dari tekanan yang ada di era digital dan diperkuat oleh cara media menimbulkan masalah kesehatan mental dengan media. mengisyaratkan bahwa percakapan ini sehat dan berbasis data akan menjadi tantangan berikutnya. Perawatan diri dapat menjadi budaya baru yang lebih bermanfaat bagi semua generasi, bukan hanya Gen Z.
Penulis merupakan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nuswantoro
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
