Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Batir Comp

Laptop Bekas Jadi Alternatif di Tengah Melonjaknya Harga Perangkat Baru

Teknologi | 2026-01-09 06:54:37

Oleh: Samsul Bahari

Kenaikan harga laptop baru dalam beberapa tahun terakhir mendorong masyarakat mencari alternatif yang lebih terjangkau tanpa mengorbankan fungsi dan kualitas. Salah satu pilihan yang kini semakin diminati adalah laptop bekas atau rekondisi, yang dinilai mampu menjawab kebutuhan komputasi dengan harga lebih ramah di kantong.

Berdasarkan pantauan di sejumlah pusat penjualan perangkat teknologi, harga laptop baru mengalami peningkatan signifikan akibat berbagai faktor, mulai dari naiknya harga komponen global, fluktuasi nilai tukar, hingga biaya distribusi yang semakin tinggi. Kondisi tersebut membuat sebagian konsumen, khususnya pelajar, mahasiswa, dan pelaku usaha mikro, harus berpikir ulang sebelum membeli perangkat baru.

Di tengah situasi itu, laptop bekas hadir sebagai solusi alternatif. Laptop kategori ini umumnya merupakan perangkat eks-kantoran, eks-perusahaan, atau unit pameran yang masih memiliki performa layak pakai. Dengan proses pengecekan dan peremajaan tertentu, laptop bekas mampu menjalankan aktivitas harian seperti pengolahan dokumen, pembelajaran daring, hingga pekerjaan administrasi dan desain ringan.

Pengamat teknologi menilai meningkatnya minat terhadap laptop bekas tidak lepas dari perubahan pola konsumsi masyarakat yang kini lebih rasional. Konsumen tidak lagi terpaku pada produk baru, melainkan lebih fokus pada fungsi dan nilai guna. Selama spesifikasi masih memadai dan kondisi perangkat terjamin, laptop bekas dianggap pilihan yang masuk akal.

Selain faktor harga, ketersediaan spesifikasi juga menjadi daya tarik tersendiri. Dengan dana yang sama, konsumen bisa mendapatkan laptop bekas dengan spesifikasi lebih tinggi dibandingkan laptop baru di kelas harga serupa. Misalnya, laptop bekas kelas bisnis dengan prosesor generasi menengah, RAM besar, dan material bodi yang kokoh sering kali dibanderol jauh lebih murah dibandingkan laptop baru entry-level.

Di sisi lain, tren laptop bekas juga dinilai berkontribusi pada upaya keberlanjutan lingkungan. Dengan memperpanjang usia pakai perangkat elektronik, jumlah limbah elektronik dapat ditekan. Hal ini sejalan dengan konsep ekonomi sirkular yang mendorong pemanfaatan ulang barang layak pakai demi mengurangi dampak lingkungan.

Meski demikian, konsumen tetap diimbau untuk bersikap cermat dalam memilih toko laptop bekas. Beberapa aspek penting yang perlu diperhatikan antara lain kondisi fisik, kesehatan baterai, fungsi komponen utama, serta kejelasan garansi. Membeli dari penjual atau toko yang memiliki reputasi baik menjadi langkah penting untuk meminimalkan risiko.

Sejumlah penjual laptop bekas kini juga meningkatkan standar layanan dengan memberikan garansi toko, layanan purna jual, hingga opsi pengembalian barang. Langkah tersebut bertujuan membangun kepercayaan konsumen sekaligus menghapus stigma negatif terhadap produk bekas yang selama ini dianggap kurang layak.

Pemerhati pendidikan menilai keberadaan laptop bekas sangat membantu siswa dan mahasiswa, terutama di daerah yang daya belinya terbatas. Akses terhadap perangkat teknologi yang lebih terjangkau diyakini mampu mendukung pemerataan pendidikan dan literasi digital di berbagai wilayah.

Dengan kondisi harga laptop baru yang belum menunjukkan tren penurunan, laptop bekas diperkirakan akan terus menjadi pilihan utama masyarakat dalam beberapa tahun ke depan. Selama kualitas tetap terjaga dan konsumen mendapatkan informasi yang transparan, laptop bekas tidak lagi sekadar alternatif, melainkan solusi realistis di tengah tantangan ekonomi dan kebutuhan teknologi yang terus berkembang.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image