Di Antara Angka, Ada Doa yang Bergerak ke Sumatra
Humaniora | 2026-01-07 08:49:49
Pagi itu, Sumatra tidak hanya menerima logistik; ia menerima harapan.
Di balik angka Rp 47 miliar bantuan yang tertera rapi dalam infografik, ada ribuan tangan yang pernah menengadah, ribuan dada yang sempat sesak oleh cemas, dan ribuan doa yang akhirnya menemukan jalannya. Bukan lewat keajaiban instan, melainkan melalui kerja sunyi lembaga-lembaga zakat yang memilih bergerak ketika banyak orang hanya bisa menatap dari kejauhan.
Bencana tidak pernah menunggu kesiapan. Ia datang tiba-tiba, merobohkan rumah, memadamkan listrik, dan membuat dapur-dapur sunyi. Namun di saat yang sama, ia juga membuka satu ruang kemanusiaan: ruang kolaborasi. Di ruang inilah, empati diuji bukan lewat niat, tetapi lewat kehadiran.
Di Sumatra, ruang itu diisi bersama.
Beragam lembaga zakat hadir dengan pendekatan dan kapasitas masing-masing. Ada yang menurunkan dapur umum, ada yang menyediakan air bersih, layanan medis, tenda darurat, hingga perlengkapan sekolah. Tidak tampak kompetisi di lapangan; yang ada adalah kesadaran kolektif bahwa korban bencana tidak boleh dibiarkan menghadapi hari esok sendirian.
Dalam barisan tersebut, LAZISMU menjadi salah satu aktor penting yang kehadirannya konsisten terlihat. Bukan semata karena besaran kontribusi dana yang mencapai puluhan miliar rupiah, tetapi karena pola kerja yang relatif terstruktur dan berkelanjutan. Dengan jaringan yang luas dan pengalaman panjang dalam kerja-kerja kebencanaan, intervensinya hadir dari hulu ke hilir—dari respons darurat hingga pemulihan awal.
Namun, kekuatan gerakan ini tidak lahir dari satu lembaga semata. LAZISMU berjalan beriringan dengan lembaga zakat lain, memperlihatkan bahwa kerja kemanusiaan justru menemukan daya ungkitnya ketika dikelola secara kolaboratif. Lebih dari 54 ribu penerima manfaat bukan sekadar data statistik, melainkan penanda bahwa gotong royong sosial masih bekerja dalam situasi paling genting sekalipun.
Di titik ini, zakat tidak lagi berhenti sebagai kewajiban ritual individual. Ia menjelma menjadi energi sosial yang nyata. Dana umat berubah wujud menjadi air bersih di tengah krisis sanitasi, menjadi nasi hangat di dapur pengungsian, menjadi selimut di malam yang lembap, dan menjadi layanan medis bagi luka yang tak selalu tampak di permukaan.
Tentu, kerja-kerja kemanusiaan tidak pernah tanpa tantangan. Distribusi bantuan, koordinasi lintas lembaga, hingga tuntutan transparansi publik menjadi pekerjaan rumah yang terus menuntut pembenahan. Namun justru di sinilah nilai profesionalisme diuji—dan empati menemukan bentuk dewasanya. Keduanya tidak perlu dipertentangkan, sebab pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa keduanya bisa saling menguatkan.
Mungkin sebagian dari kita tidak pernah berjumpa langsung dengan para penyintas di Sumatra. Tetapi melalui lembaga zakat, jarak itu dipangkas. Donasi menjelma menjadi jembatan sosial. Dan di ujung jembatan itu, ada senyum kecil yang mengatakan bahwa mereka tidak sepenuhnya dilupakan.
Pada akhirnya, angka-angka besar dalam laporan bantuan hanya akan bermakna jika dibaca sebagai jejak dari iman yang bekerja. Zakat menemukan relevansinya bukan karena nilainya yang tercantum, melainkan karena dampaknya yang terasa. Ketika lembaga-lembaga zakat mampu menjaga kepercayaan publik melalui kerja nyata—bukan slogan—maka solidaritas tidak berhenti sebagai wacana, melainkan terus bergerak sebagai praktik. Dalam konteks itulah, bantuan terbaik bukan hanya yang sampai, tetapi yang benar-benar hadir.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
