Cokelat Dilan di Bangku Paling Depan
Sastra | 2026-01-05 12:11:31
Cerpen ini mengisahkan perjalanan inspiratif Daffa Nabil Mubarak, seorang mahasiswa program studi Tadris Bahasa Indonesia di UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo, dalam mengejar ambisi akademis yang unik: melakukan presentasi mandiri (solo) di depan kelas. Bagi Daffa, berbicara sendirian di depan umum bukanlah sebuah beban, melainkan sebuah tantangan yang ia sukai untuk menguji batas kemampuan diri, keberanian, dan kreativitasnya.
Alur cerita mengikuti perjuangan Daffa yang penuh dinamika sejak semester pertama. Penantiannya sempat diwarnai kekecewaan pada semester ketiga ketika kesempatan presentasi solo pada mata kuliah Psikologi Pendidikan dibatalkan akibat perubahan kebijakan teknis. Namun, kegagalan tersebut tidak memadamkan semangatnya. Berkat ketekunan dan komunikasi yang baik dengan Penanggung Jawab (PJ) mata kuliah, momentum yang dinanti akhirnya tiba di semester lima pada mata kuliah Analisis Kesalahan Berbahasa Indonesia.
Puncak cerita menggambarkan keberhasilan Daffa dalam menyampaikan materi secara lugas dan profesional, yang diakhiri dengan selebrasi sederhana berupa pembagian Cokelat Dilan kepada teman-teman sekelasnya sebagai wujud syukur. Cerpen ini ditutup dengan pesan moral (koda) yang kuat bahwa keberhasilan sejati bukan terletak pada upaya menghindari kegagalan, melainkan pada keberanian untuk mengubah sudut pandang dan mencintai setiap tantangan sebagai sarana pendewasaan diri.
Semenjak hari pertama menapakkan kaki di Universitas Islam Negeri (UIN) Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo, tepatnya di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Daffa Nabil Mubarak—mahasiswa angkatan 2023 program studi Tadris Bahasa Indonesia—telah menanamkan sebuah tekad dalam dirinya. Ia berharap suatu saat nanti dapat berdiri sendiri di depan kelas dan berbicara dengan lugas tanpa bergantung pada siapa pun saat presentasi. Hal tersebut bukan berarti ia antipati terhadap kerja kelompok; justru ia sangat gemar berkolaborasi. Namun, ada satu hal yang ingin ia wujudkan: ia sangat menyukai tantangan yang muncul setiap kali namanya dipanggil oleh dosen untuk memaparkan makalah. Di antara rekan-rekannya, Daffa dikenal sebagai sosok yang haus akan pengalaman berbicara di depan umum. Baginya, ruang kelas adalah arena yang tepat untuk menguji kemampuan diri.
Semester pertama perkuliahan berlalu dengan sangat cepat. Daffa mengamati teman-temannya dengan rasa kagum. Beberapa di antara mereka, terutama yang memiliki pengalaman berorganisasi atau aktif dalam kegiatan sekolah, tampak sangat percaya diri saat melakukan presentasi. Bahkan, terdapat mahasiswa yang mendapatkan kesempatan presentasi secara mandiri, sementara yang lain melakukannya secara berpasangan.
Suatu sore di kantin kampus, Daffa sedang menikmati es teh sembari memperhatikan sekelompok teman yang tengah berdiskusi mengenai presentasi mata kuliah Akhlak Tasawuf.
"Apakah kalian tahu? Rina sangat luar biasa. Ia melakukan presentasi seorang diri!" ujar seorang mahasiswi.
"Benar, aku juga melihatnya. Padahal mahasiswa yang lain melakukannya secara berpasangan," sahut temannya.
Daffa menyimak percakapan tersebut dengan saksama. Dalam benaknya, ia mulai berpikir, "Tampaknya presentasi mandiri sangat menarik. Hal itu pasti sangat menantang."
Malam harinya, Daffa merebahkan diri di tempat tidur indekosnya. Ia menatap langit-langit kamar sembari membayangkan dirinya berdiri di depan kelas, menjelaskan materi dengan lancar, serta menjawab pertanyaan-pertanyaan kompleks dari dosen.
"Tampaknya akan sangat berkesan jika bisa melakukan presentasi mandiri," gumamnya pelan. "Hal itu pasti dapat mengasah keberanian, kreativitas, dan melatih kemampuan berpikir cepat."
Pada akhir semester satu, Daffa semakin yakin bahwa kesempatan presentasi mandiri adalah sesuatu yang istimewa. Ia memandangnya sebagai tantangan yang dapat membantunya berkembang, baik secara akademis maupun personal. Ia pun bertekad bahwa pada semester-semester berikutnya, ia akan berusaha mendapatkan kesempatan tersebut. Baginya, tantangan adalah bahan bakar yang memacu dirinya untuk terus melangkah maju dan menjadi lebih baik.
"Aku harus mampu!" tekadnya dalam hati. "Aku harus menyambut tantangan ini dan membuktikan kepada diri sendiri bahwa aku memiliki kemampuan yang mumpuni!"
Semester demi semester berlalu, namun keinginan itu belum juga menemukan jalannya. Hingga pada semester tiga, harapan tersebut tumbuh dengan begitu kuat.
Pagi itu, pada mata kuliah Psikologi Pendidikan, suasana grup kelas daring tampak ramai. Dosen mengirimkan pesan kepada Aisyah, mahasiswi penanggung jawab (PJ) mata kuliah, untuk segera membagi seluruh mahasiswa ke dalam 11 kelompok. Aturannya jelas: anggota laki-laki dan perempuan tidak boleh digabung.
Daffa yang sedang menyimak pesan tersebut langsung bertanya-tanya dalam hati, “Sebelas kelompok ya? Apakah masing-masing kelompok terdiri atas dua orang?”
Tak lama kemudian, Roni, teman Daffa, menimpali, “Jika dibagi menjadi 11 kelompok, berarti ada satu orang yang akan sendirian, bukan? Mengingat jumlah mahasiswa kita hanya 21 orang.”
Daffa mengangguk setuju. “Benar juga. Namun, kira-kira siapa yang akan tampil sendirian?”
“Sepertinya mahasiswa laki-laki. Sebab, jumlah laki-laki ganjil, yaitu lima orang,” jawab Roni sambil berpikir.
Daffa semakin penasaran. Ia membayangkan dirinya menjadi satu-satunya mahasiswa yang melakukan presentasi secara mandiri. “Wah, jika aku yang terpilih untuk tampil solo, pasti akan sangat menantang,” gumamnya dalam hati. Sebagai pribadi yang sangat menyukai tantangan, bayangan tampil tanpa rekan kelompok membuatnya sangat bersemangat.
Saat jam istirahat tiba, Aisyah mengumumkan pembagian kelompok. Dengan jantung berdebar, Daffa membuka dokumen yang dikirimkan. Matanya langsung tertuju pada kelompok 3. Benar saja, di sana tertulis namanya sendiri: Daffa Nabil Mubarak (Solo).
“Alhamdulillah!” seru Daffa dalam hati. “Akhirnya keinginan ini terwujud!”
Ia merasa sangat senang. Keinginannya untuk menguji kemampuan diri melalui presentasi mandiri akhirnya tercapai. Ia pun segera menghubungi Roni untuk berbagi kabar gembira tersebut.
“Ron, kamu tahu tidak? Aku mendapatkan kelompok solo di mata kuliah Psikologi Pendidikan!” seru Daffa penuh semangat.
“Wah, benarkah? Selamat, Daff! Aku sudah menduga bahwa kamu yang akan terpilih,” jawab Roni.
“Mengapa kamu bisa menduga hal itu?” tanya Daffa penasaran.
“Tentu saja. Kamu adalah orang yang paling menyukai tantangan seperti ini. Lagipula, aku dengar Aisyah sempat bingung menentukan siapa yang akan tampil solo. Teman-teman kemudian menyarankan namamu karena mereka tahu kamu sangat menyukai momen kompetisi dengan diri sendiri,” jelas Roni.
Daffa tersenyum lebar. Ternyata, teman-temannya memahami motivasinya yang selalu ingin mencoba hal-hal baru dan sulit. Ia pun semakin bersemangat mempersiapkan presentasi mandirinya.
“Terima kasih atas dukungannya, Ron. Mohon doanya agar presentasiku lancar nanti,” ucap Daffa.
“Tentu, Daff! Pasti lancar. Semangat!” balas Roni.
Dada Daffa berdesir. Ada rasa puas yang sulit ia sembunyikan. Ia membayangkan dirinya berdiri sendiri di depan kelas, menjelaskan materi dengan lugas, dan menjawab pertanyaan tanpa bergantung pada rekan kelompok. Malam-malamnya mulai dipenuhi rencana dan bayangan keberhasilan yang terasa sudah sangat dekat.
Namun, hidup memang penuh kejutan. Seminggu kemudian, di grup WhatsApp mata kuliah tersebut, muncul pesan dari dosen pengampu yang cukup mengejutkan: “Assalamualaikum wr. wb. Ada perubahan sedikit terkait pembagian kelompok. Penanggung jawab mata kuliah, mohon bagi mahasiswa ke dalam 10 kelompok, dengan aturan tidak bercampur laki-laki dan perempuan. Terima kasih.”
Tak lama kemudian, Aisyah mengirimkan daftar kelompok hasil revisi. Daffa dengan cepat mencari kelompok 3. Betapa terkejutnya ia saat melihat namanya tidak lagi sendirian. Di sana tertulis:
Kelompok 3:
- Daffa Nabil Mubarak
- Fahri
- Hasan
“Mengapa menjadi bertiga?” Daffa langsung menghubungi Aisyah untuk mencari penjelasan.
“Assalamu’alaikum, Aisyah. Maaf mengganggu. Aku ingin bertanya perihal pembagian kelompok Psikologi Pendidikan. Mengapa kelompok 3 menjadi bertiga? Bukankah kemarin aku dijadwalkan solo?” tanya Daffa melalui pesan singkat.
Aisyah segera membalas, “Wa’alaikumsalam, Daff. Iya, mohon maaf sekali. Kemarin dosen mengatakan 11 kelompok, tetapi tadi pagi beliau meralatnya menjadi 10 kelompok. Jadi, kelompok yang kekurangan anggota terpaksa digabungkan. Maaf, ya.”
Daffa menghela napas panjang. Ternyata, dua mahasiswa laki-laki yang sebelumnya berada di kelompok 11 digabungkan ke kelompoknya. Kesempatan untuk menikmati tantangan presentasi solo yang sudah di depan mata kini sirna.
“Oh, begitu rupanya. Baiklah, Aisyah. Tidak apa-apa. Terima kasih informasinya,” balas Daffa, berusaha menyembunyikan kekecewaannya.
Setelah menutup ponselnya, Daffa terdiam. Ada rasa kecewa yang menyesakkan dada. Ia merasa kehilangan kesempatan berharga untuk menguji batas kemampuannya. Namun, ia berusaha tetap tenang dan menerima keadaan.
“Sudahlah, mungkin belum rezekiku,” gumamnya pelan. “Mungkin ada hikmah di balik semua ini.”
Di hadapan teman-temannya, Daffa tetap bersikap biasa. Ia tersenyum dan menerima keputusan itu seolah tidak terjadi apa pun. Padahal, jauh di dalam lubuk hatinya, ia belajar satu hal: tidak semua rencana berjalan mulus. Namun, satu hal yang pasti, semangatnya untuk mencari tantangan baru tidak akan pernah padam. Baginya, setiap perubahan rencana adalah ujian fleksibilitas yang akan membuatnya semakin bijaksana.
Waktu terus berjalan hingga semester empat tiba. Meski belum ada kesempatan presentasi solo, Daffa tetap semangat mengikuti perkuliahan. Ia percaya bahwa momen untuk memuaskan jiwanya yang menyukai tantangan pasti akan datang.
Suatu malam, saat melihat status WhatsApp Aisyah, Daffa melihat keluhan temannya itu mengenai mata kuliah Semantik. Daffa membalasnya secara spontan: “Semangat, Aisyah! Semoga kelak aku mendapatkan kesempatan tugas atau presentasi solo saat yang lain berkelompok.”
Tak lama, Aisyah membalas: “Aamiin. Aku juga ingin mencobanya, Daff, asalkan materinya tidak terlalu sulit.”
Daffa tersenyum, lalu menceritakan kembali kekecewaannya pada mata kuliah Psikologi Pendidikan sebelumnya. “Iya, aku mengerti, Daff. Pasti sangat mengecewakan. Namun bersabarlah, mungkin belum waktunya. Nanti pasti ada momen yang tepat,” balas Aisyah hangat.
Daffa merasa lega. Ada seseorang yang memahami motivasinya dalam mengejar tantangan intelektual. “Terima kasih, Aisyah. Dukunganmu sangat berarti,” balasnya tulus.
Pada hari terakhir perkuliahan semester empat, Daffa mengunggah status WhatsApp berisi ucapan terima kasih kepada teman-teman dan dosen, sembari menyematkan doa untuk semester depan.
“Terima kasih semuanya. Sampai jumpa semester depan. Semoga segala doa dan keinginan tercapai. Aamiin,” tulis Daffa.
Aisyah membalas dengan cepat: “Aamiin. Semoga kamu bisa presentasi solo semester depan ya, Daff! ????”
Daffa membalas dengan antusias: “Aamiin yaa rabbal 'alamiin. Terima kasih doanya, Aisyah!”
Daffa merasakan motivasi yang membara. Dukungan Aisyah menjadi pengingat bahwa ia tidak berjuang sendirian. Ia bertekad, pada semester lima nanti, ia akan berusaha maksimal untuk mendapatkan kesempatan presentasi solo. Baginya, momen itu adalah puncak dari kegemarannya mengejar tantangan.
“Aku pasti bisa!” tekadnya mantap. “Aku harus membuktikan pada diri sendiri bahwa aku mampu melampaui batas kemampuanku!”
Semester lima semakin dekat. Daffa mempersiapkan diri dengan matang: membaca referensi, mencari informasi tambahan secara daring, dan berlatih berbicara di depan cermin. Ia ingin tampil total saat momen yang dinantikannya itu tiba.
Memasuki semester lima, kegiatan Magang 1 di sebuah sekolah di Ponorogo (4 Agustus 2025–5 September 2025) menyita waktu mereka. Selama masa magang, perkuliahan dilaksanakan secara daring. Daffa duduk dengan saksama di depan layar ponselnya untuk mengikuti mata kuliah Analisis Kesalahan Berbahasa Indonesia. Mata kuliah ini terasa sangat spesial bagi Daffa—seolah menjadi jawaban atas penantiannya selama ini.
Pagi itu, melalui Google Meet, dosen pengampu, Bapak Ahmad, menyampaikan bahwa terdapat 14 materi yang akan dibahas semester ini. Beliau meminta Penanggung Jawab (PJ) mata kuliah—yang kembali dijabat oleh Aisyah—untuk membagi kelompok presentasi.
Di tengah perkuliahan, Daffa mengirim pesan melalui WhatsApp kepada Aisyah: "Is, untuk presentasinya nanti, setiap kelompok tampil berapa kali? Satu atau dua kali?"
Aisyah membalas dengan cepat: "Belum tahu, Daff."
Daffa: "Satu kali saja sudah cukup bagus, hehe."
Aisyah: "Kalau begitu, nanti akan ada mahasiswa yang tampil secara mandiri?"
Daffa: "Iya, benar. ????"
Aisyah menggoda: "Sepertinya kamu bersemangat sekali. Wkwk."
Daffa tersenyum. Aisyah sangat memahami motivasi Daffa yang selalu menyukai tantangan baru.
Aisyah kemudian bertanya kepada dosen: "Mohon izin bertanya, Pak. Untuk presentasi, apakah setiap kelompok tampil satu atau dua kali?" Bapak Ahmad menjawab: "Silakan diatur saja, yang penting seluruh materi dapat dibahas dengan baik."
Usai perkuliahan, Aisyah melakukan pemungutan suara di grup WhatsApp kelas: satu kali atau dua kali? Mayoritas mahasiswa memilih satu kali.
Akhirnya, Aisyah membagi kelas menjadi 14 kelompok untuk 21 mahasiswa—itu berarti akan ada 7 mahasiswa yang tampil secara mandiri. Daffa tentu mendapatkan kuota mandiri tersebut karena ia telah memintanya terlebih dahulu kepada Aisyah.
Saat daftar kelompok muncul di grup, Daffa membalas: "Bagus sekali, terima kasih banyak, Is! ????" Ia kemudian mengunggah sebuah status: "Alhamdulillah, akhirnya mendapatkan kesempatan untuk presentasi secara mandiri! ????"
Dalam hati, Daffa bersyukur. Penantiannya membuahkan hasil yang manis. Dengan penuh semangat, ia membayangkan dirinya berdiri di depan kelas—menghadapi audiens dengan penuh percaya diri.
"Aku pasti bisa! Aku akan memberikan performa terbaik karena aku sangat menyukai tantangan ini!" tekadnya membara.
Beberapa hari kemudian, saat jam istirahat perkuliahan, Daffa, Fikri, dan Rina berkumpul di Warung Kafka untuk mengerjakan tugas kelompok Statistik Pendidikan. Tempat itu merupakan lokasi favorit mahasiswa UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo. Sambil menikmati kopi hitam dan kudapan, mereka membahas materi presentasi kelompok yang akan datang.
"Eh, Daff, kamu bersemangat sekali ingin presentasi solo," celetuk Rina sambil tersenyum lebar.
Daffa tertawa kecil. "Tentu saja, Rin. Aku sangat menyukai tantangan. Tampil sendirian itu membuat adrenalin meningkat!"
"Memangnya ada pengalaman apa sebelumnya?" tanya Fikri penasaran, sembari menyantap tempe mendoan.
Daffa kemudian menceritakan kejadian pada mata kuliah Psikologi Pendidikan di semester tiga. Awalnya ia mendapat jadwal presentasi solo, namun dosen membatalkan rencana tersebut dan mengubahnya menjadi tugas kelompok bertiga. Ia membuka galeri ponselnya dan menunjukkan tangkapan layar pembagian kelompok sebelum dan sesudah revisi. "Lihat ini, dari rencana awal yang solo, menjadi ramai karena revisi dosen!"
Rina terbahak melihat foto tersebut. "Kasihan sekali! Tapi memang benar, kamu sangat menyukai tantangan solo. Sudah seperti gladiator di kelas presentasi."
Fikri menyahut, "Iya, Daffa memang tipe orang yang haus tantangan. Waktu itu kukira benar-benar akan solo, ternyata hanya harapan kosong dari dosen," ujarnya diiringi tawa.
Daffa hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum lebar. Ia merasa senang karena teman-temannya memahami sifatnya yang selalu mencari adrenalin dalam tantangan presentasi solo.
Sejak saat itu, hari-hari Daffa diisi dengan persiapan yang matang. Makalah disusun dengan sangat teliti, referensi dicari hingga tuntas, dan ia berlatih berbicara di depan cermin hingga hafal setiap gerak tubuhnya. Kali ini tidak ada toleransi bagi kesalahan—semua bergantung pada kemampuannya sendiri. Tantangan solo yang ia dambakan akhirnya sudah di depan mata.
Tanggal 2 Oktober 2025—hari yang telah dinantikan selama dua tahun. Pagi itu, Daffa sudah berada di kelas satu jam lebih awal. Meski jemarinya sedikit bergetar, ia tetap tenang menyiapkan salindia berjudul "Kesalahan dalam Korpus Bahasa Indonesia" di meja depan. Komputer jinjing telah menyala, proyektor sudah diuji, dan detak jantungnya kian kencang. Namun, adrenalin dari sebuah tantangan justru membuatnya semakin fokus.
Fikri menjadi rekan yang datang pertama kali. "Menjadi gladiator tunggal hari ini, ya, Daff?" godanya sembari menepuk pundak Daffa.
"Benar, Fik. Saya sangat menantikan momen ini. Mohon doanya!" balas Daffa dengan mantap.
Aisyah muncul membawa termos berisi teh hangat. "Presentasi perdana secara mandiri! Kamu pasti sangat bersemangat, bukan?" serunya sambil memberikan jempol.
"Tentu, Is! Tantangan seperti inilah yang membuat hidup lebih bermakna," jawab Daffa sembari menarik napas panjang, menikmati debaran rasa antusiasnya.
Bapak Ahmad memasuki ruangan. Kelas seketika hening. Beliau menyampaikan bahwa agenda hari ini adalah presentasi satu makalah tunggal. Beliau memulai sesi dengan memanggil daftar hadir satu per satu; setiap mahasiswa menyahut dengan tertib. Setelah selesai, beliau menatap Daffa. "Daffa Nabil Mubarak, silakan maju ke depan." Daffa pun melangkah maju dan segera memulai sesinya. Beberapa teman tampak mengabadikan momen tersebut menggunakan kamera ponsel.
Daffa berdiri tegak dan menatap teman-temannya secara langsung. "Assalamualaikum wr. wb. Hari ini kita akan membahas 'Kesalahan dalam Korpus Bahasa Indonesia'. Mari kita mulai..."
Salindia pertama muncul. Daffa menjelaskan definisi korpus serta contoh kesalahan teks pada mahasiswa UIN. Suaranya terdengar stabil saat ia berjalan mendekati proyektor untuk menunjukkan poin penting. "Contohnya: 'Anak belajar giat supaya naik kelas'—terdapat redundansi karena frasa 'belajar giat' sudah mengimplikasikan adanya progres."
Teman-teman sekelas tampak mengangguk tanda mengerti. Fikri memberikan jempol secara diam-diam. Lima belas menit berlalu dengan lancar. Daffa memasuki tahap analisis: morfologi (kesalahan afiksasi), sintaksis (struktur kalimat), dan semantik. Contoh korpus yang diambil dari berita di Ponorogo membuat materi yang disampaikan terasa lebih konkret.
Sesi Tanya Jawab:
Rina mengangkat tangan. "Daffa, apakah kesalahan semantik pada dialek Jawa Timur seperti kata 'ndeso' dibandingkan dengan 'kampung' masuk ke dalam kategori tertentu?"
Daffa menatap Rina dengan yakin. "Pertanyaan yang bagus, Rin. Itu termasuk dalam semantik konotatif. Kata 'ndeso' memiliki konotasi negatif secara kultural, sedangkan 'kampung' cenderung netral. Seorang guru harus sensitif terhadap variasi regional tersebut."
Budi ikut bertanya, "Apa solusi praktis bagi para pengajar?"
Daffa beralih ke salindia solusi. "Pelatihan berbasis korpus (corpus-based training). Siswa dapat membangun korpus mini dari tulisan mereka sendiri untuk mengidentifikasi pola kesalahan secara mandiri. Hal ini bersifat sangat aplikatif."
Setelah tidak ada pertanyaan lagi, Daffa menutup sesinya. "Demikian presentasi dari saya. Wassalamualaikum wr. wb." Tepuk tangan riuh memenuhi ruangan. Ia kembali ke tempat duduknya dengan perasaan lega.
Bapak Ahmad memberikan umpan balik. "Penyampaian Anda sangat jelas, strukturnya rapi, dan contohnya relevan. Namun, ada satu tambahan: kesalahan pragmatik sangat krusial dalam korpus bahasa Indonesia—seperti ujaran yang tidak santun atau kegagalan implikatur. Anda belum menyinggung hal tersebut."
Daffa mencatat poin tersebut dengan cepat. "Benar, Pak. Seperti contoh ungkapan 'Silakan makan' yang dapat bermakna perintah halus. Saya akan menambahkannya dalam revisi makalah."
"Bagus, respons yang cepat. Skor sementara Anda adalah A. Silakan kumpulkan revisinya besok," kata dosen tersebut sambil mengangguk puas.
Kelas pun berakhir. Teman-temannya menghampiri sejenak. "Sangat keren, Daff!" puji Aisyah. "Kamu benar-benar menjadi pemain terbaik di kelas hari ini!" tambah Fikri.
Siang harinya, Daffa memperbarui status WhatsApp: "Alhamdulillah! Presentasi mandiri Analisis Kesalahan Berbahasa Indonesia berjalan sukses. Lega dan terharu. Minggu terakhir sebelum UTS yang sangat manis! Terima kasih atas doa semuanya! ????"
Dalam hati, Daffa bersyukur. Penantian selama dua tahun berbuah manis. Tantangan untuk tampil sendiri adalah bukti bahwa antusiasme terhadap tantangan mampu menghasilkan performa maksimal.
"Saya berhasil melakukannya. Ini hanyalah awal," gumamnya sembari menatap langit Ponorogo yang cerah.
Satu minggu kemudian, Daffa datang ke kelas membawa kantong plastik sederhana berisi cokelat merek Dilan dengan kemasan biru muda—merek favoritnya. Tidak ada perayaan besar; ia hanya berniat membagikan rasa syukur kepada teman sekelasnya. Ponsel di sakunya telah siap untuk mengabadikan momen tersebut.
Saat jam istirahat tiba, Daffa mulai membagikan cokelat tersebut satu per satu. Rina menerima cokelatnya dengan mata yang membelalak penasaran. "Daffa, tidak biasanya membawa cokelat? Ada acara apa?"
Budi menimpali dengan cengiran jahil. "Jangan-jangan kamu baru saja menjalin hubungan spesial, ya?"
Daffa menggelengkan kepala sambil memberikan cokelat kepada Fikri. "Bukan. Ini hanya syukuran kecil. Akhirnya saya berhasil melaksanakan presentasi solo pada mata kuliah Analisis Kesalahan Berbahasa Indonesia kemarin."
Aisyah yang langsung memahami maksud Daffa, mengambil bagiannya sembari menjelaskan kepada rekan yang lain. "Benar, Daffa sudah menantikan momen presentasi solo ini sejak semester tiga. Pada mata kuliah Psikologi Pendidikan dahulu ia hampir mendapatkannya, namun dosen mengubah sistem menjadi kelompok berisi sepuluh orang. Baru kemarin impiannya terwujud, makanya ia berbagi cokelat."
Fikri menepuk pundak Daffa. "Selamat, Bro! Luar biasa bisa tampil solo seperti itu."
Roni mengangguk setuju. "Benar, semoga ilmunya bermanfaat secara berkelanjutan."
Daffa tersenyum lebar sembari membagikan sisa cokelat ke baris belakang. "Terima kasih banyak atas dukungannya. Tanpa kalian, pencapaian ini tidak akan terasa selengkap ini."
Aisyah membalas sembari membuka bungkus cokelatnya. "Sama-sama, Daffa. Kami turut bangga."
Suasana kelas terasa hangat. Tawa ringan pecah saat Budi menggigit cokelatnya sambil berujar, "Enak sekali, syukurannya terasa premium!" Daffa merekam momen tersebut: tampak senyum Rina dengan pose thumbs up, Fikri dengan tanda peace, dan Aisyah memberikan jempol ganda.
"Alhamdulillah, semoga bisa presentasi solo lagi, ya, Daf!" doa seorang teman dari baris belakang.
"Aamiin!" jawab seluruh kelas serempak.
Sepulang kuliah, Daffa menyunting video berdurasi lima belas detik yang menampilkan momen pembagian cokelat dan ucapan selamat dari teman-temannya. Ia mengunggahnya ke TikTok dengan takarir: "Syukuran presentasi solo setelah dua tahun menanti dan sempat tertunda saat semester tiga! Alhamdulillah ???? #UINPonorogo #PresentasiSolo"
Tanpa disangka, video tersebut menjadi viral secara organik. Unggahan itu mendapatkan lebih dari 500 suka dan banjir komentar: "Keren, Kak! Semangat terus!" "Solo presentation goals! ????" "Sangat memotivasi mahasiswa yang menyukai tantangan baru di depan kelas!"
Daffa membaca komentar tersebut sambil tersenyum. Rasa syukurnya berlipat ganda: dari ruang kelas hingga ke dunia maya. Bagi Daffa, tantangan berbicara sendirian di depan kelas bukanlah sesuatu yang melelahkan, melainkan bahan bakar baru untuk terus berkembang.
"Alhamdulillah. Saya siap untuk tantangan berikutnya," gumamnya sembari menyimpan ponsel.
Di bangku paling depan, Daffa duduk dengan senyum tipis yang tersungging di bibirnya. Ia menyadari bahwa perjuangan kecilnya bukan sekadar mengenai presentasi tunggal, melainkan tentang kesabaran menanti momentum selama dua tahun, keberanian mengajukan permintaan kepada Aisyah, dan keikhlasan dalam menerima revisi dari dosen. Cokelat Dilan berwarna biru muda itu menjadi saksi: keberhasilan tidak selamanya memerlukan perayaan besar—cukup dengan membagikan rasa syukur kepada teman-teman sekelas.
Dari pengalaman tersebut, Daffa mempelajari bahwa tantangan adalah guru terbaik. Ia tidak lagi melihat hambatan sebagai momok yang harus ditakuti, melainkan sebagai sebuah proses yang dinikmati. Alih-alih berusaha keras menaklukkan rasa takut, Daffa memilih untuk mulai menyukai tantangan itu sendiri. Baginya, setiap kesulitan adalah medan latihan harian; mulai dari kegagalan pada mata kuliah Psikologi Pendidikan di semester tiga, hingga pencapaian sebagai mahasiswa terbaik pada mata kuliah Analisis Kesalahan di semester lima. Cokelat Dilan tersebut kini menjadi simbol bahwa impian kecil, jika dikejar dengan ketekunan, pasti akan menemukan jalannya sendiri.
"Tantangan berikutnya, aku siap," gumamnya sembari menatap papan tulis kosong, bersiap mencatat pelajaran hidup yang baru.
Hidup bukan tentang seberapa sering kita berhasil menghindari kegagalan, melainkan tentang bagaimana kita mengubah sudut pandang untuk mencintai setiap tantangan yang hadir sebagai batu loncatan menuju kedewasaan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
