Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Syarifudin Brutu

Dari Batu Panas ke Meja Makan: Sejarah Panjang di Balik Semangkuk Sup

Sejarah | 2026-01-03 10:06:11

Sejarah semangkuk sup adalah narasi panjang tentang kecerdikan manusia dalam bertahan hidup dan menciptakan kenyamanan yang membentang sejak zaman prasejarah. Jauh sebelum manusia mengenal panci logam atau keramik, nenek moyang kita sudah mulai bereksperimen dengan teknik memasak cair sekitar 20.000 tahun yang lalu. Tanpa wadah tahan api, mereka memanfaatkan lubang di tanah yang dilapisi kulit binatang atau kulit kayu yang kedap air. Di sana, mereka memasukkan air bersama potongan daging atau tumbuhan, lalu melemparkan batu-batu yang telah dibakar hingga membara ke dalamnya agar air mendidih. Inovasi sederhana ini memungkinkan mereka mengekstrak nutrisi dan rasa dari bahan-bahan yang sebelumnya sulit dikunyah.

Seiring berjalannya waktu, penemuan tembikar tanah liat sekitar 9.000 tahun yang lalu menjadi titik balik besar bagi evolusi sup. Kehadiran wadah yang bisa diletakkan langsung di atas api memungkinkan proses memasak perlahan atau slow cooking. Teknik ini terbukti sangat efisien karena mampu melunakkan akar-akaran yang keras serta tulang binatang, sehingga semua sari pati makanan tidak terbuang percuma ke dalam api melainkan menyatu di dalam kaldu. Pada masa ini, sup menjadi hidangan yang sangat demokratis; ia bisa memberi makan banyak orang hanya dengan sedikit bahan tambahan yang tersedia di alam.

Memasuki abad pertengahan di Eropa, konsep sup memiliki hubungan erat dengan roti. Secara etimologis, kata sup berasal dari bahasa Prancis kuno soupe yang merujuk pada sepotong roti yang digunakan untuk menyerap kuah kaldu. Pada masa itu, sup bukanlah hidangan encer yang dimakan dengan sendok, melainkan lebih mirip dengan roti yang direndam hingga lunak agar mudah disantap. Hal ini juga menjadi asal-usul istilah supper atau makan malam, yang secara harfiah berarti waktu untuk menyantap roti yang direndam tersebut.

Peran sup dalam peradaban manusia semakin menguat pada abad ke-18 di Paris, Prancis, di mana sup melahirkan institusi yang kita kenal sekarang sebagai restoran. Kata "restoran" sendiri berasal dari kata restoratifs, yakni sejenis sup kaldu kental yang dianggap sebagai obat mujarab untuk memulihkan stamina bagi mereka yang kelelahan. Penjual sup pertama, seperti Boulanger, mulai menawarkan hidangan ini sebagai penambah tenaga, hingga akhirnya koki-koki istana mulai mengadopsi dan menyempurnakannya menjadi hidangan mewah seperti consommé yang jernih atau bisque yang kental untuk kaum bangsawan.

Revolusi Industri kemudian membawa sup ke dalam era modern melalui penemuan sup kaleng pada akhir abad ke-19 oleh Dr. John T. Dorrance. Inovasi sup pekat ini memungkinkan hidangan bergizi tersebut didistribusikan secara massal, tahan lama, dan terjangkau bagi kelas pekerja yang sibuk. Sejak saat itu, sup terus berkembang mengikuti arus zaman, mulai dari sup instan yang praktis hingga kembalinya tren sup artisanal yang menggunakan bahan-bahan organik. Hingga hari ini, sup tetap menjadi bahasa universal tentang kenyamanan; sebuah warisan kuno yang tetap hangat di meja makan setiap budaya di seluruh dunia.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image