Antara Tren dan Tata Bahasa di Media Sosial
Teknologi | 2026-01-03 08:44:43
Perkembangan media sosial telah mengubah cara masyarakat berkomunikasi secara signifikan. Platform seperti Instagram, TikTok dan WhatsApp kini menjadi ruang utama pertukaran gagasan sekaligus pembentuk kebiasaan berbahasa. Dalam praktiknya, penggunaan Bahasa Indonesia di media sosial kerap dipengaruhi oleh tren, seperti singkatan berlebihan, bahasa gaul, pencampuran bahasa asing, serta pengabaian ejaan dan struktur kalimat. Kondisi ini menimbulkan dilema antara mengikuti tren agar komunikasi terasa santai dan menarik, atau mematuhi tata bahasa demi kejelasan dan ketertiban berbahasa.
Sebagai bahasa persatuan, Bahasa Indonesia memiliki peran strategis dalam menjaga identitas nasional dan kualitas literasi masyarakat. Ketika media sosial menjadi ruang komunikasi yang dominan, cara berbahasa di dalamnya ikut menentukan mutu penggunaan bahasa secara luas. Oleh karena itu, persoalan tren dan tata bahasa perlu diposisikan secara seimbang, bukan dipertentangkan.
Tren berbahasa di media sosial muncul sebagai respons atas tuntutan kecepatan dan kedekatan. Batasan karakter, ritme cepat, serta budaya viral mendorong pengguna memilih kata singkat dan ekspresif. Bahasa gaul dan campuran bahasa asing sering dianggap lebih relevan dengan identitas kelompok tertentu. Dalam konteks ini, tren berbahasa dapat dipahami sebagai bentuk kreativitas dan adaptasi terhadap medium digital.
Namun, kebiasaan tersebut membawa konsekuensi. Penggunaan bahasa yang jauh dari kaidah secara terus-menerus berpotensi membentuk pola berbahasa yang keliru. Bagi pelajar dan generasi muda yang masih berada pada tahap pemerolehan dan pengembangan bahasa, paparan bahasa tidak baku dapat memengaruhi kemampuan menulis dan berbicara secara formal. Kesalahan ejaan, struktur kalimat yang tidak efektif, dan pemilihan kata yang kurang tepat kerap terbawa ke ranah akademik.
Di sisi lain, tata bahasa berfungsi menjaga kejelasan makna dan etika komunikasi. Kaidah bahasa bukanlah pembatas kreativitas, melainkan pedoman agar pesan tersampaikan secara tepat. Dalam ruang digital yang luas dan beragam, kejelasan menjadi kunci untuk menghindari salah tafsir. Ketika tata bahasa diabaikan, risiko kesalahpahaman meningkat, terutama pada isu sensitif yang mudah memicu konflik.
Media sosial juga memiliki potensi besar sebagai sarana pembelajaran bahasa. Banyak konten edukatif yang menyajikan materi kebahasaan secara menarik dan kontekstual. Figur publik, pendidik, dan kreator konten berperan strategis sebagai teladan dalam menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan santun. Keteladanan ini dapat menumbuhkan kesadaran bahwa bahasa yang tepat tidak harus kaku, dan kreativitas tidak harus menabrak kaidah.
Selain itu, literasi digital menjadi kunci dalam menyeimbangkan tren dan tata bahasa. Literasi digital mencakup kemampuan memilih ragam bahasa sesuai konteks: santai di ruang informal dan baku di ruang formal. Pendidikan dan pembiasaan berbahasa yang kontekstual perlu ditanamkan sejak dini agar pengguna mampu berkomunikasi efektif dan beretika di ruang digital. Pada akhirnya, tren dan tata bahasa di media sosial tidak perlu dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan beriringan apabila disertai kesadaran berbahasa dan literasi digital yang memadai. Kreativitas tetap penting untuk menjaga dinamika komunikasi, namun kaidah bahasa diperlukan untuk memastikan kejelasan, kesantunan, dan kualitas literasi. Menjaga Bahasa Indonesia di media sosial berarti menjaga identitas dan martabat bangsa di era digital.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
