Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Indah Kartika Sari

Waspada Game Online: Menjadi Inspirasi Kekerasan Pembunuhan

Agama | 2026-01-02 17:45:16

Dunia digital hari ini tidak lagi sekadar menjadi ruang hiburan, melainkan telah bertransformasi menjadi laboratorium perilaku yang berbahaya. Fenomena miris yang belakangan ini menghiasi tajuk berita nasional menjadi alarm keras bagi kita semua: anak-anak dan remaja kini tidak hanya bermain dengan layar, tapi juga bermain-main dengan maut.

Ketika Layar Menjadi Nyata

Kasus tragis di Medan pada akhir Desember 2025 menjadi bukti tak terbantahkan. Seorang anak tega menghabisi nyawa ibu kandungnya sendiri hanya karena persoalan yang bermula dari kecanduan game online. Tak berselang lama, publik kembali dikejutkan oleh penetapan tersangka seorang mahasiswa dalam kasus teror bom di sepuluh sekolah di Depok. Jejak digital menunjukkan adanya kaitan erat antara obsesi terhadap konten kekerasan dalam platform digital dengan keberanian melakukan tindakan kriminal nyata.

Kekerasan ini tidak muncul dari ruang hampa. Game online modern saat ini menawarkan grafis yang sangat realistis dengan mekanik permainan yang menghargai agresivitas. Anak-anak yang emosinya belum stabil mendapatkan akses tanpa batas terhadap konten sadisme, perundungan (bullying), hingga instruksi-instruksi tak langsung mengenai terorisme. Paparan terus-menerus ini merusak kesehatan mental, mengikis empati, dan membuat perilaku kekerasan dianggap sebagai solusi normal atas masalah hidup.

Jebakan Kapitalisme di Balik Platform Digital

Kita harus menyadari bahwa platform digital tidaklah netral. Di balik desainnya yang menarik, terdapat algoritma yang dirancang untuk menciptakan adiksi. Nilai-nilai liberalisme yang mengagungkan kebebasan tanpa batas dikemas dalam bentuk tantangan permainan yang destruktif.

Secara sistemik, ruang digital saat ini dieksploitasi oleh kapitalisme global. Bagi para raksasa teknologi, keselamatan generasi adalah nomor sekian; yang utama adalah engagement dan keuntungan ekonomi. Mereka meraup triliunan rupiah dari pembelian fitur dalam game, sementara kerusakan mental dan nyawa manusia dianggap sebagai efek samping yang bisa diabaikan.

Tragisnya, negara seolah kehilangan taringnya. Regulasi yang ada seringkali hanya bersifat reaktif dan tidak menyentuh akar masalah. Selama prinsip kebebasan ekonomi dan pasar bebas masih dijunjung tinggi, negara akan selalu kalah dari kepentingan korporasi teknologi global. Ketidakmampuan negara dalam melakukan sensor ketat dan menyediakan alternatif hiburan yang sehat telah membiarkan generasi muda kita "dididik" oleh kekerasan layar kaca.

Mengembalikan Kedaulatan dan Perlindungan

Untuk memutus rantai kekerasan ini, kita memerlukan paradigma baru yang fundamental. Dalam pandangan Islam, negara memiliki kewajiban mutlak untuk menjaga dan melindungi rakyatnya, terutama generasi muda, dari segala bentuk kerusakan fisik maupun pemikiran.

Langkah pertama yang harus diambil adalah melawan hegemoni digital kapitalisme global. Kita membutuhkan kedaulatan digital. Negara tidak boleh hanya menjadi pasar, tetapi harus memiliki kendali penuh atas konten yang masuk ke wilayah kedaulatannya. Segala bentuk game yang mengandung unsur kekerasan dan unsur amoral yang merusak harus ditutup aksesnya secara total tanpa kompromi.

Namun, regulasi saja tidak cukup. Kerusakan generasi hanya bisa ditangkal dengan sinergi Tiga Pilar Perlindungan:

 

  1. Ketakwaan Individu: Membentuk pola pikir dan pola sikap anak melalui pendidikan agama yang kokoh, sehingga mereka mampu menyaring mana yang bermanfaat dan mana yang membahayakan bagi dirinya.


  2. Kontrol Masyarakat: Budaya saling menasihati dan kepedulian sosial yang kuat harus dihidupkan kembali. Masyarakat tidak boleh apatis terhadap perilaku menyimpang di lingkungannya.


  3. Perlindungan Negara: Negara menerapkan sistem politik, ekonomi, dan pendidikan yang berasaskan aqidahIslam. Negara menyediakan sarana kreativitas yang positif dan memberikan sanksi tegas bagi pelanggar aturan yang mengancam keselamatan generasi.

Game online yang berbasis kekerasan bukan sekadar permainan, melainkan racun yang sedang menggerogoti masa depan bangsa. Melepaskan generasi muda dari jeratan ini membutuhkan lebih dari sekadar nasihat orang tua; ia membutuhkan perubahan sistemik yang berani memprioritaskan nyawa dan moral di atas keuntungan materi. Hanya dengan kembali pada fungsi negara sebagai pelindung sejati, kita dapat memastikan tidak ada lagi ibu yang kehilangan nyawa atau sekolah yang terancam bom akibat inspirasi semu dari dunia digital.

Bahan Bacaan

https://regional.kompas.com/read/2025/12/29/185359278/kronologi-anak-bunuh-ibu-di-medan-berawal-dari-game-online

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20251226154219-12-1310888/polisi-tetapkan-1-mahasiswa-jadi-tersangka-teror-bom-10-sekolah-depok

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image