Satu Abad Gontor: Warisan Pemikiran, Pendidikan, dan Semangat Kemajuan
Pendidikan dan Literasi | 2025-12-30 17:16:53Melihat gerakan kebangkitan Islam hari ini, kita seakan menapaktilasi perjalanan panjang sejarah umat. Bersama satu abad Gontor, satu abad Muhammadiyah, dan hampir satu abad Nahdlatul Ulama, tampaklah kesinambungan tradisi keilmuan, dakwah, dan pembaruan yang membentuk wajah keislaman Indonesia. Pesantren telah lama menjadi ruang pengabdian bagi agama dan bangsa—menguatkan jati diri, menumbuhkan kemandirian, dan menjaga kedamaian yang jarang kita temui di banyak negara Muslim lain. Syukur atas satu abad perjalanan Gontor bukan sekadar syukur atas usia, melainkan atas jejak pengabdian yang telah ikut membesarkan bangsa.
Pendidikan selalu menjadi tema penting dalam perjalanan itu. Ia tidak hanya menyiapkan kebutuhan hari ini, melainkan memandang jauh ke depan: satu, dua, hingga tiga dekade mendatang. Setiap generasi menghadapi tantangan yang berbeda; apa yang disebut modern satu abad lalu mungkin kini dianggap usang. Karena itu, pendidikan dituntut untuk dinamis—membaca zaman, menyerap perubahan, dan tetap berpijak pada nilai keimanan, keilmuan, dan kemanusiaan.
Di titik inilah Gontor menunjukkan keteguhan tradisi sekaligus kelenturan dalam perubahan. Ukuran keberhasilan pendidikan dapat dilihat dari alumninya—mereka yang mengisi ruang-ruang strategis di ranah sosial, diplomasi, politik, pendidikan, dan pelayanan publik, baik di pusat maupun di daerah. Peran itu bukan sekadar angka, tetapi wujud kontribusi nyata bagi masyarakat.
Namun zaman terus bergerak. Kebutuhan umat berubah dari masa ke masa: dari pembaruan cara berpikir pada masa kolonial, hingga pencarian sintesis antara modernitas, spiritualitas, dan ilmu pengetahuan di era kini. Kehidupan keberagamaan umat tampak semakin semarak—masjid ramai, ibadah menguat, animo berhaji meningkat—namun tantangan besar justru hadir di bidang ekonomi. Tanpa kemandirian ekonomi, umat berisiko menjadi mayoritas secara jumlah tetapi minoritas dalam peran. Di sinilah pendidikan, etos kerja, dan semangat kemajuan menemukan relevansinya.
Zakat, doa, dan spiritualitas tidak berhenti pada ritual, tetapi menuntun pada tanggung jawab membangun kesejahteraan bersama. Kebaikan di dunia adalah jalan menuju kebaikan akhirat; karenanya, pendidikan harus menumbuhkan keberanian berkarya, berproduksi, dan berperan dalam ilmu, perdagangan, dan pembangunan peradaban.
Bagi banyak keluarga, Gontor bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan tempat menitipkan harapan. Dari generasi ke generasi, ia menanamkan cara berpikir moderat, rasional, dan berkemajuan—termasuk di daerah-daerah yang pernah dilanda konflik, tempat pendidikan menjadi penuntun rekonsiliasi dan persatuan.
Satu abad Gontor mengajarkan bahwa modernitas bukan hanya soal penampilan, melainkan cara berpikir, bekerja, dan bertindak berbasis ilmu pengetahuan. Di tengah perubahan zaman, pesantren ini terus mengajak umat memasuki ruang-ruang yang masih lengang—menguatkan peran, meneguhkan keilmuan, dan membangun masa depan bersama.
Semoga warisan amal para pendiri, guru, dan pengasuhnya menjadi amal jariyah yang terus mengalir, dan satu abad perjalanan ini menjadi hikmah bagi umat, bagi generasi muda, dan bagi Indonesia. shah wa
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
