Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Auberta Naomi M.

Modernisasi Pertahanan Udara Indonesia Tidak Cukup dengan Membeli Drone ANKA

Teknologi | 2025-12-30 15:46:22

Akhir-akhir ini, topang modernisasi peralatan utama sistem persenjataan (alutsista) kembali muncul ke permukaan publik. Salah satu contohnya adalah keputusan TNI Angkatan Udara untuk mengakuisisi 12 unit drone ANKA dari Turki. Bagi beberapa kalangan, langkah ini mungkin sekadar dipandang sebagai pembelian alutsista baru. Akan tetapi, bila dianalisis lebih dalam, keputusan tersebut mengandung pertanyaan krusial: apakah modernisasi pertahanan udara Indonesia cukup hanya dengan membeli teknologi mutakhir dari luar negeri?

Mengingat luasnya wilayah udara Indonesia dan makin tingginya dinamika keamanan kawasan, penggunaan wahana udara nirawak memang semakin relevan. Drone menawarkan kemampuan pengawasan berkelanjutan, pengumpulan intelijen yang presisi, serta efisiensi dari segi biaya operasional dibanding pesawat berawak. Dalam kerangka ini, kehadiran drone ANKA jelas akan memperkuat kapasitas operasional TNI AU.

Namun, pengalaman pengadaan alutsista selama ini menunjukkan masalah yang berulang. Indonesia mampu membeli sistem persenjataan modern, tetapi masih menghadapi kendala dalam penguasaan teknologi, perawatan, dan pembaruan sistem. Ketergantungan pada negara produsen sering kali tak terelakkan. Jika pola ini terus berlanjut, modernisasi pertahanan berisiko hanya bersifat jangka pendek dan tidak menciptakan kemandirian strategis.

Pembelian drone ANKA sepatutnya dipahami sebagai sebuah peluang, bukan semata transaksi. Turki dikenal sebagai negara yang sukses membangun industri drone nasionalnya lewat investasi riset dan pengembangan teknologi secara konsisten. Kesuksesan ANKA dan Bayraktar di berbagai konflik regional menunjukkan bahwa drone telah menjadi elemen kunci dalam sistem pertahanan modern. Selain itu, Turki relatif terbuka dalam kerja sama industri pertahanan, termasuk dalam skema alih teknologi.

Indonesia sendiri tidak bermula dari titik nol. Keberadaan PT Dirgantara Indonesia, lembaga riset pertahanan, serta sumber daya manusia teknis di lingkungan TNI AU merupakan modal penting. Tantangannya adalah bagaimana memastikan bahwa pembelian drone ANKA tidak berhenti pada kepemilikan alat semata, tetapi mampu mendorong penguatan kapasitas nasional.

Dalam konteks inilah Garuda Drone Initiative (GDI) menjadi relevan. GDI dapat dipahami sebagai kerangka kebijakan yang menempatkan alih teknologi sebagai bagian integral dari modernisasi pertahanan udara. Melalui pendekatan ini, pembelian drone ANKA diiringi dengan pengembangan pusat pelatihan, pemeliharaan, dan riset UAV di dalam negeri. Dengan begitu, teknisi dan pilot TNI AU tidak hanya menjadi operator, tetapi juga memahami sistem drone secara komprehensif.

Pendekatan ini memberikan manfaat jangka menengah dan panjang. Dalam kurun waktu tertentu, Indonesia dapat mengurangi ketergantungan pada dukungan teknis luar negeri. Pada tahap berikutnya, penguasaan teknologi UAV membuka peluang pengembangan drone nasional yang disesuaikan dengan karakter geografis dan kebutuhan strategis Indonesia. Banyak negara telah membuktikan bahwa alih teknologi yang konsisten mampu melahirkan industri pertahanan yang mandiri.

Lebih jauh, penguasaan teknologi drone juga membawa dampak positif di luar sektor militer. Drone dapat dimanfaatkan untuk mitigasi bencana, pemantauan kebakaran hutan, pengawasan wilayah maritim, hingga pemetaan daerah terpencil. Artinya, investasi pada teknologi UAV tidak hanya memperkuat pertahanan udara, tetapi juga meningkatkan kapasitas nasional secara menyeluruh.

Sumber: PT Dirgantara Indonesia

Pada akhirnya, pembelian drone ANKA merupakan langkah awal yang penting, namun belum mencukupi. Modernisasi pertahanan udara Indonesia harus diarahkan pada penguasaan teknologi dan pembangunan kapasitas nasional. Garuda Drone Initiative menawarkan arah yang lebih berkelanjutan: menjadikan modernisasi sebagai proses membangun kemandirian, bukan sekadar menambah inventaris alutsista.

Sebab, kekuatan udara sejati tidak hanya ditentukan oleh apa yang dimiliki, melainkan oleh kemampuan bangsa ini untuk menguasai dan menjaga langitnya sendiri.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image