Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Bilmantassya Alfatah Rahmat

Sumatera 2025: Luka Bencana dan Tanggung Jawab Manusia

Lainnnya | 2025-12-30 12:27:22
Sumber: KOMPAS.com

Tahun 2025 menjadi tahun yang paling berat bagi masyarakat Sumatera. Berbagai bencana alam seperti banjir bandang, kebakaran hutan, tanah longsor kembali terjadi dan meninggalkan luka dan duka yang mendalam. Banyak rumah – rumah rusak bahkan menghilang terseret banjir, ribuan orang mengungsi, terhambatnya aktivitas ekonomi, dan bagian yang paling menyedihkannya adalah jatuhnya korban jiwa akibat bencana tersebut. Peristiwa ini bukan hanya tentang alam yang marah, tetapi juga tentang bagaimana manusia selama ini memperlakukan alam.

Faktanya, bencana alam yang terjadi bukan semata – mata karena faktor alam. Kerusakan lingkungan, penebangan hutan, alih fungsi lahan, deforestasi dan pembangunan yang tidak memperhatikan aspek keselamatan menjadi penyebab yang sangat serius. Hutan yang dulu hijau kini sudah gundul dan dijadikan lahan untuk menanam pohon sawit, sementara itu kota – kota tumbuh tanpa perencanaan yang jauh dari kata cukup matang.

Pemerintah tentu saja mempunyai peran yang sangat besar. Penegakan hukum terhadap perusakan lingkungan harus benar – benar di tegaskan, buakn hanya sebatas wacana belaka. Perencanaan tata ruang juga harus jelas dan berpihak kepada keselamatan masyarakat. Program mitigasi bencana juga harus berjalan nyata, bukan hanya saat bencana datang baru semua bergerak. Pendidikan terhadap kebencanaan juga sangat penting bagi masyarakat agar masyarakat siap, sigap, tidak panik dan tahu apa yang harus mereka lakukan.

Namun dibalik itu semua, masyarakat juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan pemerintah. Kita juga sebagai masyarakat harus ikut serta bertanggung jawab atas alam yang ada di sekitar kita. Tidak membuang sampah sembarangan, tidak membuka lahan dengan cara membakar hutan, serta ikut menjaga hutan dan lingkungan sekitar adalah langkah sederhana namun sangat berarti. Kesadaran kolektif inilah yang seringkali kita lupakan.

Bencana di Sumatera 2025 ini harusnya menjadi tamparan keras bagi kita semua. Kita tidak boleh hanya meneteskan air mata setiap kali bencana datang, lalu lupa semuanya setelah keadaan kembali normal. Sudah saatnya kita belajar, memperbaiki diri, dan bersama – sama membangun sistem perlingdungan lingkungan dan mitigasi bencana alam yang lebih kuat.

Karena pada akhirnya, alam sebenarnya tidak benar – benar “marah”. Ia hanya sedang menunjukan akibat dari keegoisan dan kelalaian manusia. Kita sebagai manusia sekaligus penghuni bumi harus memilih, terus mengulangi kesalahan yang sama atau mulai berbenah demi masa depan yang lebih aman dan manusiawi.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image