Krisis Kesehatan Mental Mahasiswa: Peringatan bagi Sistem Pendidikan Tinggi Kita
Eduaksi | 2025-12-30 00:34:54Kampus, yang seharusnya menjadi wadah bagi perkembangan intelektual dan kreativitas, kini sering kali berubah menjadi medan perjuangan bagi kesehatan jiwa sebagian besar mahasiswa. Data terkini mengungkapkan situasi yang memprihatinkan: makin banyak mahasiswa yang menderita gangguan kecemasan, depresi, bahkan sampai pada pemikiran untuk mengakhiri hidup. Ini bukan hanya angka-angka, melainkan pantulan dari sistem pendidikan tinggi yang mendesak untuk dievaluasi ulang.
Mahasiswa saat ini dihadapkan pada tekanan yang jauh lebih rumit daripada generasi sebelumnya. Mereka harus menangani tuntutan akademik yang berat dengan tenggat waktu tugas yang menumpuk, harapan orang tua untuk menyelesaikan studi tepat waktu dengan indeks prestasi kumulatif yang sempurna, serta persaingan sengit di lapangan kerja yang mengharuskan mereka memiliki berbagai sertifikat dan pengalaman organisasi sejak awal. Ditambah lagi, beban finansial yang dialami mahasiswa dari keluarga kurang mampu, yang terpaksa bekerja sambil belajar untuk memenuhi kebutuhan harian.
Media sosial ikut memperburuk keadaan ini. Mahasiswa sering kali membandingkan prestasi mereka dengan teman sebayanya yang tampak sempurna di platform seperti Instagram atau LinkedIn. Padahal, apa yang diperlihatkan di dunia maya belum tentu sesuai dengan kenyataan. Fenomena "sindrom penipu" atau imposter syndrome pun menjadi ancaman tersendiri, di mana mahasiswa merasa tidak layak di posisi mereka dan khawatir dianggap sebagai pembohong oleh sekitarnya.
Secara ironis, walaupun kesadaran tentang pentingnya kesehatan jiwa mulai meningkat, stigma sosial tetap menjadi rintangan besar. Banyak mahasiswa yang enggan mencari pertolongan karena takut dianggap lemah, manja, atau tidak sanggup menghadapi tantangan hidup. Di beberapa lingkungan, membahas masalah mental masih dianggap tabu dan memalukan. Akibatnya, mereka memilih berjuang sendirian dalam kegelapan sampai kondisinya makin parah.
Keterbatasan akses ke layanan konseling di kampus juga menjadi masalah. Tidak semua perguruan tinggi memiliki pusat layanan konseling yang cukup, baik dari segi jumlah konselor maupun mutu pelayanan. Beberapa kampus bahkan sama sekali tidak memiliki psikolog atau konselor profesional. Bagi mahasiswa yang ingin mencari bantuan di luar kampus, biaya konseling yang tinggi menjadi hambatan lain yang tidak bisa diabaikan.
Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar untuk membentuk lingkungan yang mendukung kesejahteraan jiwa mahasiswa.
Mengatasi krisis kesehatan mental mahasiswa bukan hanya tugas institusi pendidikan, tetapi juga keluarga, pemerintah, dan masyarakat. Orang tua perlu menyadari bahwa keberhasilan tidak hanya diukur dari indeks prestasi atau kecepatan wisuda. Memberikan ruang untuk berkomunikasi tanpa penilaian bisa menjadi pertahanan awal bagi kesehatan jiwa anak.
Pemerintah juga harus mengalokasikan dana khusus untuk program kesehatan mental di perguruan tinggi dan memastikan setiap kampus memiliki standar minimum layanan konseling. Kebijakan yang lebih fleksibel terkait masa studi dan beban akademik juga perlu dipertimbangkan, terutama dalam situasi tidak normal seperti pandemi atau bencana.
Sebagai masyarakat, kita semua perlu belajar menjadi lebih empati dan mendukung. Menghentikan budaya positif toksik yang selalu menyuruh orang untuk "berpikir positif" tanpa mengakui kenyataan penderitaan mereka adalah langkah awal yang baik. Sebaliknya, mari kita ciptakan ruang aman di mana setiap orang, termasuk mahasiswa, merasa nyaman untuk bercerita dan mencari bantuan.
Krisis kesehatan mental mahasiswa adalah peringatan yang tidak boleh diabaikan. Generasi muda adalah aset bangsa yang harus dijaga kesejahteraannya, bukan hanya kecerdasannya. Sudah saatnya kita memperlakukan kesehatan mental dengan keseriusan sama seperti kesehatan fisik. Kampus yang sehat adalah kampus yang tidak hanya menghasilkan lulusan berprestasi, tetapi juga lulusan yang stabil secara mental dan emosional, siap menghadapi tantangan hidup dengan ketahanan yang kuat.
Mari kita bersama-sama membangun ekosistem pendidikan tinggi yang lebih manusiawi, di mana setiap mahasiswa merasa dihargai, didukung, dan tidak sendirian dalam perjuangannya. Karena pada akhirnya, investasi terbaik yang bisa kita berikan untuk masa depan bangsa adalah memastikan generasi penerusnya memiliki kesehatan mental yang baik.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
