Etika Interpersonal dan Budaya Kerja Profesional sebagai Pilar Hubungan Kerja yang Beretika
Pendidikan dan Literasi | 2025-12-29 21:19:57
Oleh: Seizia Firhatunnisa Abdina, Nadya Dwicahyani, Hana Fajria Mabruroh, Nazaliah Yusma Zahrani
Realita Dunia Kerja Saat Ini
Faktor budaya kerja memegang peranan yang sangat penting dalam pelaksanaan pekerjaan seseorang. Budaya kerja merupakan pandangan yang dilandasi oleh keyakinan seseorang bahwa untuk mencapai nilai-nilai prestasi kerja yang baik membutuhkan kepercayaan, dan semua itu berarti proses perbaikan yang panjang dan berkesinambungan berdasarkan kebutuhan dan kemampuan sumber daya manusia itu sendiri, sesuai dengan pedoman yang diakui. (Kusbandono, 2018).
Budaya kerja dalam pribadi seseorang atau kelompok tidak bisa determinasi dalam dua kelompok kontraksi yang benar dan salah. Nilai budaya kerja yang berbeda harusnya dipandang sebagai Khasanah hidup yang beraneka ragam, nilai budaya kerja harus dihormati dijunjung tinggi seirama dengan konsep -konsep menghargai multi kultural dalam sebuah instansi.
Fenomena-fenomena yang membawa impak serius terhadap negara, masyarakat dan individu dalam era baharu ini telah banyak dibincangkan oleh para akademik dan kumpulan pemikir sektor awam dan swasta. Fenomena tersebut merangkumi antara lainnya proses globalisasi dan liberalis ekonomi negara, perkembangan teknologi maklumat dan komunikasi. Dalam era k-ekonomi, sumber manusia telah menjadi satu aset penting dan berharga kepada organisasi karena ia akan menentukan kejayaan di sebuah organisasi tersebut. Bagi organisasi swasta, keupayaan sumber manusia dianggap akan menentukan daya saing organisasi pasaran terbuka dalam arena antar bangsa (Chandra Muller, 1998). Organisasi sektor awam juga memerlukan sumber manusia yang mempunyai kompetensi yang sesuai dengan jawatan-jawatan yang dipegang supaya dapat melaksanakan tugasan dan tanggung jawab yang diharapkan oleh pelanggan dan stakeholder.
Etika Interpersonal Dan Budaya Kerja Professional
Etika merupakan sebuah nilai yang diyakini ketika berperilaku dengan orang lain yang ditunjukkan oleh individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Nilai-nilai yang diyakini itulah yang mendasari seseorang dalam melakukan suatu tindakan atau perilaku (Suryani, 2022). Etika berkaitan dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Etika sangat diperlukan ketika kita berkomunikasi dengan orang lain. Karena hal ini menjadikan proses komunikasi yang dilakukan menjadi terarah dan efektif serta dapat berjalan dengan baik.
Etika dapat mempengaruhi bagaimana hubungan sosial manusia. Dalam berkomunikasi, individu perlu memperhatikan bagaimana prinsip-prinsip berkomunikasi diterapkan. Seperti adanya kejujuran, rasa hormat, dan juga empati (Nandayarni et al., 2024). Terlebih dalam berorganisasi, etika interpersonal sangatlah diperlukan. Etika ini menyangkut mengenai bagaimana cara individu berkomunikasi. Komunikasi interpersonal berpengaruh positif terhadap kepuasan kerja karyawan. Dengan adanya kepuasan kerja tersebut dapat menumbuhkan hubungan yang sehat, baik hubungan antar karyawan ataupun dengan atasannya yang dapat menumbuhkan adanya kinerja yang positif (Oksiani & Purwaningrat, 2024).
Selain diperlukannya etika komunikasi dengan interpersonal, pentingnya memiliki budaya kerja yang sehat juga dapat mempengaruhi bagaimana kepuasan serta kinerja karyawan di dalam suatu organisasi. Berdasarkan sebuah penelitian, dikatakan bahwa budaya kerja memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja karyawan (Lestari & Palupi, 2023). Budaya kerja ialah pandangan, nilai, dan kebiasaan yang dimiliki seseorang, kelompok atau organisasi sehingga mampu melakukan pekerjaan dengan tepat dan tercapainya kinerja yang baik (Fatimah & Frinaldi, 2020). Dengan demikian, etika interpersonal dan budaya kerja profesional saling terkait dan tidak dapat dipisahkan. Ketika menggunakan etika interpersonal dengan baik akan memperkuat budaya kerja profesional, sementara budaya kerja yang sehat akan mendukung terbentuknya hubungan interpersonal yang efektif dalam organisasi.
Penyebab Konflik di Dunia Kerja
Setiap individu memiliki latar belakang, pengalaman, dan nilai-nilai yang berbeda. Ketika karyawan memiliki pandangan yang berbeda tentang cara kerja, prioritas, atau bagaimana menyelesaikan tugas, konflik dapat muncul. lalu Kurangnya komunikasi yang jelas atau tidak efektif dapat menyebabkan kesalahpahaman. Misalnya, jika arahan tugas tidak disampaikan dengan baik, karyawan mungkin berpikir bahwa mereka tidak memenuhi ekspektasi, yang bisa memicu gesekan. Dalam lingkungan kerja yang kompetitif, karyawan mungkin merasa terancam oleh kolega mereka. Persaingan yang berlebihan dapat menimbulkan konflik, terutama ketika individu merasa bahwa rekan mereka menghalangi kemajuan mereka. Setiap orang memiliki gaya kerja yang berbeda, mulai dari cara menyelesaikan tugas hingga mengatur waktu. Ketika gaya kerja yang berbeda saling bertabrakan, konflik dapat muncul, terutama dalam tim yang harus bekerja sama. (Farida & Galuh, 2021).
Hubungannya dengan Etika
Etika memainkan peran penting dalam mengelola konflik di tempat kerja. Etika dapat didefinisikan sebagai seperangkat prinsip yang mengatur perilaku individu dalam situasi sosial atau profesional. Dalam konteks dunia kerja, penerapan etika yang baik dapat membantu mencegah konflik dan membantu menyelesaikan masalah yang ada secara konstruktif. Menjaga keterbukaan dalam komunikasi dan pengambilan keputusan dapat membantu mengurangi konflik. Jika pimpinan bersikap etis dan transparan, karyawan akan merasa lebih dihargai dan kurang mungkin untuk merasakan ketidakadilan. sehingga Memastikan bahwa semua karyawan diperlakukan dengan adil dapat mengurangi rasa cemburu dan persaingan yang tidak sehat. Kebijakan yang adil adalah bagian dari etika yang mendukung lingkungan kerja yang harmonis. jadi Etika membantu membangun kepercayaan antara karyawan dan manajemen. Ketika karyawan percayai pemimpin dan rekan kerja mereka, mereka lebih cenderung untuk berkolaborasi dan menyelesaikan konflik secara konstruktif. (Mesalaen et al., 2025).
Dampak Jika Etika Diabaikan
1. Ketidakadilan dan kurangnya transparansi dapat menyebabkan karyawan merasa diabaikan, yang membuat produktivitas dan semangat kerja menurun.
2. Ketika karyawan merasa bahwa nilai-nilai etika tidak diindahkan, mereka mungkin memilih untuk meninggalkan perusahaan, yang menyebabkan biaya tinggi untuk perekrutan dan pelatihan karyawan baru.
3. Konflik yang tidak terkelola dengan baik dapat menciptakan suasana kerja yang negatif, yang dapat mengganggu kerja tim dan kolaborasi, serta meningkatkan stres di antara karyawan.
4. Perusahaan yang terlibat dalam praktik tidak etis dapat merusak reputasinya di mata publik dan konsumen, yang dapat berdampak pada kinerja bisnis secara keseluruhan.
5. Tanpa pendekatan etis untuk menyelesaikan konflik, masalah bisa berlarut-larut, meningkatkan ketegangan dan menciptakan lingkungan yang tidak kondusif untuk inovasi dan pertumbuhan.
Jadi pada dasarnya konflik di dunia kerja adalah isu kompleks yang dapat dipicu oleh berbagai faktor. Etika di tempat kerja sangat penting dalam mencegah dan mengatasi konflik. Ketika etika diabaikan, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh individu yang terlibat dalam konflik, tetapi juga mempengaruhi seluruh organisasi. Oleh karena itu, membangun budaya kerja yang beretika dan komunikasi yang baik menjadi kunci untuk menciptakan lingkungan yang harmonis dan produktif.
Peran Budaya Kerja Membentuk Etika
Dalam dunia kerja profesional, hubungan antar manusia bukan hanya soal tugas dan target, melainkan juga komunikasi yang bermartabat. Di sinilah etika interpersonal mengambil peran penting karena ia menjadi fondasi bagaimana individu saling berinteraksi secara profesional, menghormati batasan, serta mengelola konflik tanpa merusak hubungan kerja. Namun, etika interpersonal tidak hadir begitu saja di setiap kantor atau organisasi. Ia tumbuh dan berkembang dalam “ekosistem nilai” yang disebut budaya kerja atau sekumpulan norma, kebiasaan, dan cara berpikir yang diwariskan dari satu generasi pekerja ke generasi berikutnya. Budaya kerja bukan hanya sekadar aturan formal, melainkan jiwa dari lingkungan kerja yang menentukan apa yang dianggap “normal”, “tepat”, atau “tidak pantas” dalam interaksi sehari-hari.
Ketika sebuah organisasi menanamkan nilai saling menghormati, keterbukaan, dan tanggung jawab, secara otomatis itu akan mempengaruhi cara orang berbicara, mendengarkan, dan menyelesaikan konflik. Sebaliknya, budaya yang permisif terhadap sikap merendahkan atau egois bisa memupuk sikap serupa antar individu. Sebuah studi dalam konteks pendidikan menemukan bahwa budaya organisasi berpengaruh langsung pada komunikasi interpersonal dan sikap kerja seseorang, yang pada akhirnya membentuk bagaimana mereka berinteraksi dengan kolega dan atasan (Elfridauli, 2018).
Budaya kerja yang profesional tidak hanya menciptakan kinerja yang baik, tetapi juga membentuk cara manusia saling memperlakukan di dalamnya. Di sanalah etika interpersonal menemukan maknanya sebagai fondasi hubungan kerja yang sehat dan berkelanjutan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
