Generasi Z dan Tantangannya dalam Membangun Budaya Anti Korupsi
Politik | 2025-12-29 20:07:28Korupsi masih menjadi persoalan yang belum sepenuhnya terselesaikan di Indonesia. Berbagai kasus yang terus muncul ke permukaan menunjukkan bahwa korupsi bukan hanya masalah hukum, tetapi juga persoalan budaya. Praktik tidak jujur sering kali dianggap hal biasa, bahkan dalam lingkup kecil kehidupan sehari-hari. Situasi ini menjadi tantangan besar, terutama bagi generasi muda yang akan menentukan arah masa depan bangsa.
Generasi Z
merupakan generasi yang tumbuh seiring perkembangan teknologi dan keterbukaan informasi. Melalui media digital, generasi ini dapat dengan mudah mengakses berita, opini, serta diskusi publik mengenai isu korupsi. Saya melihat kondisi ini sebagai peluang besar, karena semakin banyak informasi yang diterima, semakin terbuka pula ruang untuk bersikap kritis terhadap praktik-praktik yang merugikan kepentingan bersama.
Peran Generasi Z dalam membangun budaya anti korupsi dapat dimulai dari upaya meningkatkan kesadaran publik. Media sosial tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga dapat menjadi ruang edukasi. Konten sederhana yang membahas dampak korupsi terhadap masyarakat, jika dikemas dengan bahasa yang mudah dipahami, mampu membangun pemahaman bahwa korupsi adalah tindakan yang merusak keadilan sosial. Menurut saya, pendekatan ini efektif karena dekat dengan keseharian generasi muda.
Selain itu, penerapan nilai anti korupsi perlu dimulai dari lingkungan terdekat. Di dunia pendidikan, misalnya, sikap jujur dalam mengerjakan tugas, tidak mencontek saat ujian, serta menolak segala bentuk kecurangan merupakan langkah nyata membangun integritas. Hal-hal kecil ini sering dianggap sepele, padahal justru menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter. Jika sejak mahasiswa sudah terbiasa bersikap jujur, maka nilai tersebut akan terbawa hingga memasuki dunia kerja.
Generasi Z
juga memiliki potensi sebagai pengawas sosial. Dengan kemampuan digital yang dimiliki, generasi muda dapat menyuarakan kritik terhadap kebijakan publik dan mendorong transparansi. Namun, sikap kritis tersebut harus diiringi dengan tanggung jawab. Informasi yang disebarkan perlu diverifikasi agar tidak menimbulkan kesalahpahaman. Literasi digital menjadi kunci agar peran pengawasan ini benar-benar memberikan dampak positif.
Di sisi lain, tidak dapat dipungkiri bahwa Generasi Z menghadapi berbagai tantangan dalam upaya pemberantasan korupsi. Rasa apatis, ketidakpercayaan terhadap sistem, serta kurangnya keteladanan dari pemimpin sering kali melemahkan semangat perubahan. Oleh karena itu, pendidikan anti korupsi memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai kejujuran, tanggung jawab, dan keberanian untuk menolak praktik menyimpang.
Menurut saya, pemberantasan korupsi tidak dapat diserahkan sepenuhnya kepada aparat penegak hukum. Perubahan harus dimulai dari pola pikir dan sikap masyarakat, terutama generasi muda. Generasi Z memiliki peluang besar untuk menjadi pelopor perubahan dengan memanfaatkan teknologi, menjaga integritas diri, dan berani bersikap jujur dalam situasi apa pun.
Pada akhirnya, masa depan Indonesia sangat bergantung pada kualitas generasi penerusnya. Jika Generasi Z mampu menanamkan dan menerapkan nilai anti korupsi dalam kehidupan sehari-hari, maka harapan untuk menciptakan bangsa yang bersih, adil, dan berintegritas bukanlah sekadar wacana, melainkan tujuan yang dapat diwujudkan bersama.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
