Ketika Kepedulian Lingkungan Dianggap Tidak Menguntungkan
Rubrik | 2025-12-26 22:34:14
Pada akhir tahun ini, Indonesia dihadapkan dengan bencana hidrometeorologi di tiga wilayah, yakni Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Minggu (21/12/2025) merekapitulasi perkembangan terkini, jumlah korban jiwanya telah mencapai 1090 jiwa, dan 187 masih dinyatakan hilang.
Peneliti Hidrologi Hutan dan Konservasi Daerah Aliran Sungai (DAS) dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menilai dalam dua dekade terakhir, pola berulang bencana ini bukan hanya disebabkan oleh faktor cuaca, tetapi juga karena kombinasi faktor alam dan ulah manusia. Dan pada analisis Tim Jurnalisme Kompas mengungkap bahwa pada 1990-2024, hilangnya hutan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sekitar 1,2 juta ha atau rata-rata 36.305 hektar per tahun.
Dalam hal ini, terlihat jelas bahwa upaya menjaga lingkungan perlu dilakukan untuk meminimalisir pengulangan bencana, namun nyatanya hingga sekarang masih banyak yang abai terhadap penjagaan lingkungan dan mengabaikan fungsi ekologis hutan. Untuk memahami dampak tindakan individu terhadap masalah lingkungan, kita bisa menilik kisah perjuangan Sadiman di Gunung Lawu.
Kisah Sadiman dan Dampak Nyata dari Penghijauan
Sadiman adalah seorang pegiat lingkungan yang memilih mengabdi pada alam selama kurang lebih 23 tahun dan telah menanam 15 ribu lebih pohon beringin di lereng Gunung Lawu. Hal ini dilakukan karena sebelumnya Desa Sadiman mengalami kebakaran hutan yang besar, sehingga mengakibatkan kemarau dahsyat, kekeringan, dan kesulitan mendapat air bersih.
Pada awalnya masyarakat disana menganggap tindakan Sadiman adalah tindakan yang ganjil dan tidak menguntungkan karena tidak menghasilkan pundi-pundi uang. Namun pada akhirnya hal tersebut terbantahkan oleh fakta bahwa pada tahun 2013, warga mulai merasakan mudahnya memperoleh air bersih hasil dari pohon beringin yang ditanam Sadiman juga. Pohon beringin termasuk jenis pohon yang dapat menyimpan dan menyerap air dengan sangat baik, lalu cadangan air tersebut terserap tanah dan memunculkan mata air yang bersih.
Cara Pandang yang Salah
Menilik kisah tersebut, kita dapat melihat bahwa mindset mementingkan sisi ekonomi dibandingkan sisi ekologis akan menjadi boomerang untuk kita sendiri, karena penyebab terjadinya bencana-bencana itu salah satunya adalah karena ketidakpedulian manusia pada alam dan keserakahan dalam mengelola sumber daya alam.
Apabila pemerintah dan masyarakat sekarang masih memakai mindset tersebut, sudah dipastikan lambat laun hutan kita akan habis dan lingkungan akan rusak akibat dari habisnya kepedulian lingkungan. Mereka yang melakukan perusakan alam pastinya tidak memikirkan bahwa akibat dari tindakannya hari ini akan ditanggung oleh anak cucunya nanti.
Dampak Mengabaikan Lingkungan
Contoh nyata hasil dari perusakan lingkungan dapat dilihat pada bencana banjir bandang di Sumatera. Dalam diskusi Pojok Bulaksumur edisi Desember, Beberapa pakar dari UGM menjelaskan bahwa wilayah Bukit Barisan memang rawan banjir karena bentuk tanahnya yang curam, tetapi keadaan itu diperparah ketika hutan dibagian atas mengalami kerusakan—akibat tindakan manusia— sehingga air langsung turun dalam jumlah besar dan tak terkendali.
Guru Besar Teknik Geologi dan Lingkungan UGM, Prof. Dwikorita Karnawati juga menegaskan bahwa dari kondisi tersebut terlihat jelas betapa pentingnya untuk menjaga hutan karena yang bisa menahan laju air tersebut adalah pepohonan dan ekosistemnya. Pendekatan ini sejalan dengan pengalaman para pegiat lingkungan, dan Sadiman juga berpesan pada anak-anak muda agar bisa meneruskan perjuangan beliau dalam melakukan penghijauan dengan dibarengi oleh 3 kata, yakni sabar, ikhlas, dan tekun.
Peran Negara dalam Perlindungan Lingkungan
Upaya perlindungan lingkungan bukan hanya kewajiban masyarakat atau individu saja, pemerintah juga memiliki peran penting untuk memastikan perlindungan lingkungan di Indonesia terus dilakukan, karena kerusakan lingkungan dalam skala besar berkaitan erat dengan kebijakan negara dan tata kelola sumber daya alam. Kondisi ini tercermin dari penyusutan hutan sepanjang 1990–2024 menjadi 690.777 hektar lahan sawit, 2.160 hektar kawasan tambang, 9.666 hektar kawasan perkotaan, serta 69.733 hektar hutan tanaman industri (HTI). Sisanya berubah menjadi berbagai fungsi lahan lain seperti pertanian, hutan bakau, dan karamba.
Ketika hutan terus dialihfungsikan untuk pembukaan lahan dan tidak sesuai dengan ketentuan rencana tata ruang wilayah, maka risiko terjadinya bencana akan semakin besar. Tanpa pengawasan tegas dari pemerintah mengenai pembangunan, pembukaan lahan, dan perlindungan hutan, sebesar apapun kepedulian warga terhadap lingkungan tetap akan sulit mencegah terjadinya bencana.
Tanggungjawab Bersama Demi Masa Depan Indonesia
Semua penduduk Indonesia, baik pemerintah maupun warganya memiliki kewajiban yang sama, yaitu menjaga dan merawat lingkungan kita. Bentuk kontribusi kita tidak harus dengan menanam puluhan pohon, tetapi paling tidak kita bisa berkontribusi walaupun dengan tindakan-tindakan yang kecil seperti mengurangi penggunaan kertas, memilih produk yang ramah lingkungan atau tindakan peduli alam lainnya. Dan yang terpenting adalah kita menyadari bahwa kepedulian lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab kita semua.
Maka, adanya mindset mementingkan sisi ekonomi dibandingkan ekologis adalah cara pandang yang sempit karena hanya melihat manfaat dari jangka pendek saja. Keserakahan dalam pengelolaan sumber daya alam mungkin pada awalnya menguntungkan pihak tertentu, tetapi lambat laun dampak buruknya akan kembali kepada kita sendiri. Jika sekarang kita memilih untuk menjaga lingkungan, maka nanti anak cucu kita juga merasakan manfaat dari pilihan tersebut. Namun sebaliknya, jika kita memilih lalai dalam menjaga lingkungan, maka hanya kerusakan yang akan dirasakan anak cucu kita nanti.
Apa Pilihanmu Untuk Masa Depan Indonesia?
Oleh karena itu, tugas kita semua bukan hanya mengapresiasi perjuangan para pengabdi lingkungan seperti Sadiman, tetapi juga harus meneruskan perjuangan mereka dengan terus peduli terhadap lingkungan sesuai kemampuan yang kita bisa. Kondisi alam di masa depan tergantung dari pilihan kita hari ini: merawat dan menjaganya dengan baik atau lalai dan membiarkannya rusak perlahan.
Ingat, apa yang kita tanam hari ini, akan kita tuai di kemudian hari dan menjaga alam adalah investasi kita untuk masa depan
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
