Antara Keyakinan dan Toleransi: Bagaimana Umat Islam Memahami Natal?
Agama | 2025-12-25 10:18:05
Bulan Desember selalu menghadirkan getaran yang khas. Kilauan lampu, melodi Natal mengalun di mal, jalan raya, di rumah-rumah, dan harapan beserta doa yang baik mengisi berbagai platform sosial. Bagi banyak umat Kristen, Natal merupakan perayaan suci yang dirayakan dengan penuh kebahagiaan.
Namun, bagi umat Islam, saat ini sering muncul pertanyaan yang mendalam: Bagaimana seharusnya Natal? Diskusi mengenai boleh tidaknya mengucapkan selamat Natal selalu muncul di akhir tahun.
Jika kita menggali lebih jauh, isu ini bukan sekadar masalah hukum fikih, melainkan tentang bagaimana agama Islam mengajarkan nilai-nilai toleransi dan saling menghormati antar berbagai pemeluk agama tanpa harus merugikan kepercayaan masing-masing.
Dalam perkembangan pemikiran Islam, terdapat berbagai pandangan di kalangan ulama mengenai bagaimana seharusnya sikap dalam merayakan hari besar agama lain. Beberapa ulama dari zaman sebelumnya cenderung berhati-hati, fokus pada kekhawatiran bahwa ucapan selamat Natal bisa diartikan sebagai pengakuan terhadap doktrin Teologi mengenai Trinitas dan keilahian Isa al-Masih.
Pendekatan ini didasarkan pada prinsip perlindungan akidah (hifz ad-din) . Sebaliknya, ulama masa kini seperti Prof. Quraish Shihab, KH. Ahmad Syafii Maarif, dan KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) melihat masalah ini dari sudut pandang kemanusiaan dan sosial. Bagi mereka, menyampaikan ucapan “Selamat Natal” tidak selalu berarti mengakui keyakinan agama lain, melainkan sebuah ungkapan empati dan pertemanan di antara manusia. Quraish Shihab menekankan bahwa Islam sangat menghargai nilai ukhuwah insaniyyah persaudaraan antar manusia. “Selama ungkapan itu tidak mengandung legitimasi teologis terhadap keyakinan mereka, maka itu merupakan tindakan kebajikan sosial yang dianjurkan,” ujarnya dalam salah satu interpretasinya.
Islam hadir sebagai anugerah bagi seluruh umat manusia. Firman Allah dalam Surat Al-Mumtahanah (60:8) menekankan:
"...لَا يَنْهٰىكُمُ اللّٰهُ عَنِ الَّذِيْنَ لَمْ يُقَاتِلُوْكُمْ فِى الدِّيْنِ"
"Allah tidak melarang kalian untuk berbuat baik dan bersikap adil kepada orang-orang yang tidak memerangi kalian hanya karena keyakinan mereka..."
Ayat ini menjadi landasan penting dalam interaksi sosial antar agama. Artinya, umat Islam diperintahkan untuk selalu berbuat baik, ramah, dan menghargai penganut agama lain selama tidak terlibat dalam praktik ibadah agama tersebut. Oleh karena itu, perayaan Natal dapat dipandang sebagai bagian dari etika sosial dalam Islam, dan bukan sebagai bentuk penyimpangan dari keyakinan.
Toleransi tidak berarti kehilangan keyakinan, tetapi kemampuan untuk menghargai tanpa harus sejalan. Dalam hal ini, umat Islam dapat berada di tengah-tengah masyarakat yang beragam sambil menyampaikan pesan perdamaian, tetap kuat dalam iman, tetapi juga terbuka dalam hubungan sosial.
Gus Mus pernah menyampaikan, “Toleransi bukan berarti kamu harus sejalan denganku, melainkan kamu mengakuiku sebagai individu yang memiliki hak untuk berbeda.“Pandangan ini mewakili inti dari Islam yang inklusif: mengakui perbedaan sebagai bagian dari sifat dasar manusia. Nilai-nilai universal yang ada dalam Natal seperti kasih, perdamaian, dan kepedulian sejati juga diajarkan oleh agama Islam.
Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai sosok yang penuh kasih, bahkan terhadap mereka yang memiliki keyakinan berbeda. Di dunia tengah yang semakin terfragmentasi oleh perbedaan, semangat saling menghargai dan berbagi kebaikan menjadi semakin penting.
Natal dapat menjadi saat refleksi bersama untuk menghidupkan kembali nilai-nilai kemanusiaan antar agama: bahwa kasih dan perdamaian adalah bahasa universal yang dapat dipahami oleh setiap hati. Bagi umat Islam, memahami makna Natal bukanlah tentang boleh atau tidaknya merayakannya, tetapi bagaimana tetap menjaga keyakinan sambil menebarkan toleransi.
Kita tidak perlu berada di gereja untuk merasakan kedamaian Natal, karena kedamaian sejati muncul dari sikap saling menghargai antar sesama manusia. Desember mengajarkan bahwa di tengah perbedaan, selalu ada kesempatan untuk kebaikan, sebuah ruang di mana keyakinan dan toleransi dapat berjalan secara bersamaan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
