Jastip di Mall: Praktik Belanja Praktis yang Bertumpu pada Modal Sosial
Belanja | 2025-12-25 07:11:05
Praktik jasa titip atau jastip semakin marak di mall-mall modern seiring dengan perkembangan teknologi dan penggunaan media sosial. Jastip hadir sebagai alternatif belanja yang dinilai lebih praktis karena memungkinkan konsumen mendapatkan barang tanpa harus datang langsung ke Mall. Fenomena ini menunjukkan perubahan pola konsumsi masyarakat yang semakin mengutamakan kemudahan dan efisiensi waktu.
Di mall, pemilik jastip biasanya memanfaatkan momen tertentu, seperti saat adanya diskon dan ketersediaan stok barang yang berlimpah. Hal tersebut dipahami sebagai peluang ekonomi karena harga barang menjadi lebih murah dan menguntungkan untuk ditawarkan kepada pelanggan. Hal serupa disampaikan oleh pemilik jastip yang mengatakan, “ Kalau untuk jastip itu dari aku sendiri sih, tapi pas lagi ada diskon dan banyak stok di toko, karena aku juga punya channel-channel jastip. Harganya jadi jauh lebih murah dibandingkan toko online maupun offline lainnya .”
Bagi pelanggan, jastip dipandang sebagai solusi belanja yang menghemat tenaga dan waktu. Konsumen tidak perlu keluar rumah, mengeluarkan biaya transportasi, atau merasa lelah berkeliling mall. Salah satu pelanggan mengungkapkan bahwa jastip dipilih karena lebih praktis, " Aku tidak perlu ngeluarin energi buat keluar rumah, tidak perlu biaya transportasi. Jastip sama di mall sebenarnya sama aja, tapi kalau jastip kan online, jadi aku tinggal di rumah aja. "
Pemaknaan tersebut membentuk pandangan bahwa jastip merupakan cara belanja yang praktis dan nyaman. Alasan serupa juga disampaikan pelanggan lain yang mengatakan, “ Kenapa aku milih jastip? Karena harganya lebih murah dibandingkan aku harus ke toko offline. Terus aku juga tidak perlu capek-capek keliling toko, jadi tinggal duduk manis, terima barang. ” Pernyataan ini menunjukkan bahwa efisiensi harga dan energi menjadi pertimbangan utama dalam memilih jastip.
Namun, keberhasilan praktik jastip tidak hanya bergantung pada keuntungan ekonomi. Modal sosial menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan jastip, terutama kepercayaan antara pemilik jastip dan pelanggan. Seorang pemilik jastip menegaskan bahwa, “ Kalau dari segi kepercayaan itu penting banget, bukan hanya menghasilkan pendapatan, tapi juga membuat hubungan sama pelanggan biar tidak menimbulkan konflik .”
Kepercayaan tersebut dibangun melalui interaksi yang berulang, sikap penjual yang responsif, serta reputasi yang terbentuk di media sosial. Salah satu pelanggan mengaku tidak langsung percaya, melainkan mengamati terlebih dahulu, “ Saya awalnya mantau dulu bagaimana sistem jastipnya, lihat cara penjual respon ke pembeli, terus lihat juga pembelinya banyak. Dari situ aku jadi percaya. ”
Selain kepercayaan, norma dan aturan tidak tertulis juga menjadi bagian dari modal sosial dalam praktik jastip. Aturan seperti pembayaran di awal, kejelasan harga dan biaya jasa, serta kebijakan pengembalian dana disepakati sejak awal agar tidak terjadi kesalahpahaman. Dengan adanya kepercayaan, norma, dan jaringan sosial yang kuat, praktik jastip di mall dapat berjalan lancar dan terus berkembang.
Penulis : Syifa Aulia Putri & Selvi Fitrianie
Mahasiswi Sosiologi UIN Jakarta
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
