Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Zidane Revanza Banyu Linto

Mengapa Kasus Bullying di Sekolah Terus Menghantui Generasi Muda?

Eduaksi | 2025-12-24 14:33:25
Didesain oleh Freepik (www.freepik.com)

Kasus bullying di sekolah belakangan ini makin banyak disorot karena dampaknya bukan cuma bikin luka fisik, tapi juga mengganggu kondisi psikologis siswa. Tempat yang seharusnya jadi ruang belajar dan berkembang malah berubah jadi lingkungan yang bikin sebagian pelajar tertekan. Banyak siswa akhirnya memilih diam karena takut dijauhi, dianggap lemah, atau merasa pihak sekolah belum tentu bisa memberi perlindungan yang cukup

Situasinya makin serius ketika angka kasusnya terus naik. Laporan GoodStats pada 2024, berdasarkan data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, mencatat lebih dari 573 kasus kekerasan di lingkungan pendidikan, dan sekitar 31% di antaranya merupakan bullying dalam bentuk fisik, verbal, maupun cyber. Data dari RSJ Babel tahun 2023 juga menunjukkan bahwa korban bullying sering mengalami masalah kesehatan mental berat seperti depresi, kecemasan, hingga kehilangan motivasi hidup. Ini membuktikan bahwa bullying bukan sekadar ribut kecil antar siswa, tapi masalah besar yang mengancam masa depan generasi muda.

Pada akhirnya, persoalan bullying sering berakar dari bagaimana korban harus menghadapi semuanya sendirian tanpa dukungan yang memadai. Banyak siswa kehilangan rasa aman dan kepercayaan diri hanya karena sistem yang belum sepenuhnya mampu menjamin perlindungan bagi mereka.

Oleh karena itu, masalah bullying ini harus jadi perhatian serius semua pihak. Kalau terus dibiarkan, dampaknya bakal makin berat buat kesehatan mental siswa dan masa depan mereka. Sudah waktunya kita berhenti cuek dan mulai ambil langkah nyata biar nggak ada lagi korban yang terpaksa diam dan menderita sendiri.

Sekolah yang Belum Sepenuhnya Aman

Banyak siswa merasa sekolah belum benar-benar jadi tempat yang aman, terutama ketika kasus bullying masih sering terjadi. Berdasarkan laporan Kompas, 2024, disebutkan bahwa pengawasan yang lemah dan budaya sekolah yang permisif membuat kekerasan antarsiswa lebih mudah muncul. Kondisi ini menunjukkan bahwa rasa aman siswa masih bergantung pada sistem yang belum berjalan maksimal.

Dampak Mental yang Tidak Terlihat tapi Menyakitkan

Efek bullying sering kali tidak terlihat, tetapi justru paling berat. Banyak korban mengalami stres, takut bersosialisasi, bahkan trauma jangka panjang. Berdasarkan artikel dari The Conversation Indonesia, 2024, menegaskan bahwa korban bullying berisiko mengalami depresi dan gangguan kecemasan yang mengganggu studi dan kehidupan sosial mereka. Ini membuktikan bahwa bullying bukan sekadar konflik kecil antar pelajar.

Budaya Diam yang Membuat Masalah Berulang

Banyak korban memilih diam karena merasa laporan mereka tidak akan ditindaklanjuti atau malah memperburuk keadaan. Berdasarkan laporan Tirto, 2024, menemukan bahwa korban sering tidak melapor karena takut dibully ulang atau tidak percaya pada pihak sekolah. Akhirnya masalah terus berulang karena tidak ada suara yang benar-benar terdengar.

Bullying di sekolah bukan sekadar adu fisik atau kata-kata kasar, tapi ancaman serius bagi mental dan kepercayaan diri siswa. Dari sekolah yang belum sepenuhnya aman, dampak psikologis yang berat, hingga budaya diam yang bikin masalah terus berulang, jelas persoalan ini nggak bisa dianggap remeh. Semua pihak seperti guru, orang tua, dan seorang teman harus bergerak, memberi dukungan, dan membuka ruang bagi siswa untuk bersuara, supaya lingkungan sekolah jadi aman, nyaman, dan generasi muda bisa tumbuh tanpa trauma yang mengganggu masa depan mereka.

 

 

 

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image