Saat Kagum Berubah Menjadi Obsesi: Menelisik Dampak Negatif Kpop pada Remaja
Gaya Hidup | 2025-12-23 15:31:29
Di balik ribuan postingan dan tagar yang memuji idola Kpop, terdapat risiko mental yang jarang dibahas. Kehadiran media sosial memudahkan kita mengakses informasi tentang idola, yang menghasilkan jutaan penggemar baru dalam waktu singkat. Mayoritas usia penggemar Kpop adalah remaja dan dewasa awal yang sedang berada dalam fase krusial. Pada usia tersebut, pusat kendali diri di otak masih dalam tahap perkembangan yang tentunya memengaruhi cara mereka menggemari tokoh publik.
Ternyata, Kpop sebagai hiburan yang diminati banyak orang justru memiliki dampak negatif psikologis jika seseorang terlalu berlebihan dalam mengagumi idolanya. Lalu, apa saja bahaya tersembunyi dibalik obsesi berlebihan ini? Berikut adalah beberapa dampaknya:
- Munculnya fenomena Celebrity Worship
- Obsesi berlebihan dalam menggemari idola seringkali dikenal dengan istilah Celebrity Worship. Celebrity Worship adalah perilaku pemujaan berlebihan terhadap idola yang memberikan dampak negatif terhadap kesehatan mental. Terdapat tiga tingkatan dalam fenomena ini. Tingkatan paling dasar adalah entertainment social. Pemujaan pada tingkatan ini didasari oleh ketertarikan untuk mengetahui bakat, sikap, serta hal-hal menarik yang dilakukan idolanya. Pada tahap ini, seorang penggemar akan selalu mencari tahu informasi terbaru sang idola. Tingkatan kedua adalah intense personal. Pada tingkat ini, penggemar bersikap obsesif dalam mengumpulkan data pribadi idolanya. Selain itu, penggemar juga meiliki empati tinggi serta merasa memiliki ikatan khusus terhadap idolanya tersebut. Tingkatan ketiga adalah borderline-pathological tendency. Tingkatan ini adalah tingkatan terparah karena pikiran irasional penggemar yang tidak terkontrol. Penggemar rela menghabiskan uangnya untuk membeli barang yang berkaitan dengan idolanya, yakin bahwa sang idola juga memiliki perasaan khusus, serta rela melakukan apapun demi idolanya bahkan jika hal tersebut melanggar hukum.
2. Munculnya perilaku Impulsive Buying
Beberapa penggemar Kpop tentunya pernah merasakan dorongan untuk membeli merchandise terbaru sang idola. Kondisi tersebut dapat memicu Impulsive Buying. Impulsive Buying adalah perilaku ketika seorang penggemar rela menghabiskan uangnya untuk membeli barang yang berkaitan dengan idolanya. Perilaku ini bersifat spontan, berdasarkan hasrat dan konflik emosional sehingga orang cenderung mengabaikan konsekuensi dari keputusan yang dipilihnya. Perilaku ini dipengarui oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri contohnya kesadaran emosional. Orang yang memiliki kecerdasan emosi yang tinggi, impulsive buying nya lebih rendah dibandingkan orang yang memiliki kecerdasan emosi yang rendah (Nafeesa & Eryanti, 2021). Faktor eksternal yang mempengaruhi perilaku ini adalah promosi pemasaran produk yang mendorong keinginan seseorang untuk membeli barang yang berkaitan dengan idolanya.
3. Munculnya fenomena Body Image Issues
Seringkali kita merasa kagum ketika melihat foto idol perempuan karena tubuhnya terlihat ideal. Seorang penggemar Kpop khususnya perempuan rentan mengalami Body Image Issues. Fenomena ini terjadi ketika seseorang membandingkan tubuhnya dengan tubuh sang idola yang dianggap cantik dan menawan. Kemudian, orang tersebut akan melakukan apa saja demi mendapatkan tubuh seperti idolanya dengan melakukan diet ekstrem dan olahraga keras. Namun, pada kenyataannya banyak idol perempuan yang diharuskan memiliki berat badan dibawah rata-rata karena tuntutan agensi. Jika terjadi secara berkelanjutan, fenomena ini dapat memberikan dampak buruk bagi kesehatan seseorang.
Tren Kpop akan terus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari dunia hiburan global, terutama pada remaja dan dewasa awal. Kita harus selalu ingat bahwa garis batas antara menggemari dan obsesi sangatlah tipis. Penggemar yang sehat adalah penggemar yang tetap mencintai diri sendiri dan memahami batasan dengan idolanya. Dengan demikian, kesehatan mental akan tetap terjaga.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
