Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Hayatun Nufus

Mengapa Jurusan Bahasa Indonesia Kerap dianggap Mudah?

Edukasi | 2025-12-22 14:25:17
Ilustrasi

“Jurusan apa kak kuliahnya? Oh, cuma Bahasa Indonesia! Emang belajar Bahasa Indonesia harus kuliah lagi, ya? Paling cuma belajar baca sama nulis aja, tuh.”

Kalimat semacam ini mungkin sudah terlalu sering terdengar di telinga mahasiswa Bahasa Indonesia. Seakan-akan jurusan Bahasa Indonesia merupakan pilihan akademik yang bisa ditempuh dengan mudah tanpa usaha dan pemikiran yang mendalam. Anggapan tersebut tidak hanya keliru, tetapi juga menunjukkan pemahaman yang dangkal terhadap bahasa sebagai ilmu.

Faktanya, jurusan Bahasa Indonesia merupakan bidang studi yang menuntut kepekaan linguistik, kemampuan analisis yang tinggi, serta pemahaman mendalam terhadap sistem kebahasaan. Mahasiswa tidak hanya belajar membaca dan menulis, tetapi juga mempelajari ilmu-ilmu bahasa tingkat lanjut seperti fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, hingga pragmatik. Seluruh kajian tersebut bertujuan agar mahasiswa mampu menganalisis makna yang tersembunyi dalam teks sastra, wacana media, bahkan dalam percakapan sehari-hari.

Sebagai contoh, mahasiswa Bahasa Indonesia kerap dihadapkan pada tugas analisis struktur kalimat yang tampak sederhana, tetapi memiliki makna dan fungsi yang kompleks. Sebuah kalimat pendek dapat mengandung relasi subjek, predikat, objek, dan keterangan yang tidak selalu muncul secara eksplisit. Kesalahan dalam memahami struktur ini dapat berakibat pada salah tafsir makna. Hal ini membuktikan bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan sistem yang memiliki aturan dan logika tersendiri.

Pepatah mengatakan, jangan menilai sesuatu dari luarnya. Ungkapan ini sejalan dengan pandangan filsafat yang menyatakan bahwa untuk mengetahui isi sebuah telur, seseorang harus memecahkan cangkangnya terlebih dahulu. Begitu pula dengan jurusan Bahasa Indonesia. Jika hanya dilihat dari kedekatannya dengan kehidupan sehari-hari, maka kompleksitas ilmunya tidak akan pernah benar-benar terlihat.

Sebagian orang beranggapan bahwa karena bahasa Indonesia digunakan setiap hari, maka mempelajarinya tidak memerlukan pendidikan khusus di bangku kuliah. Namun, pandangan ini justru mengabaikan kenyataan bahwa kedekatan tidak selalu berarti pemahaman. Banyak kesalahan berbahasa masih ditemukan di ruang publik, mulai dari media sosial, media massa, hingga dokumen resmi. Hal ini menjadi bukti bahwa sebagai pemakai bahasa, masyarakat Indonesia belum tentu terampil menggunakan bahasanya sendiri secara baik dan benar.

Tujuan pendidikan Bahasa Indonesia sejatinya adalah membentuk kompetensi kebahasaan yang mumpuni. Bambang Sudibyo, mantan Menteri Pendidikan Nasional, dalam sambutannya saat membuka Kongres Internasional Bahasa Indonesia IX, menyatakan bahwa tanpa kompetensi bahasa, manusia tidak akan memiliki kecerdasan yang manusiawi. Bahasa menjadi sarana utama untuk menyebarluaskan ilmu pengetahuan, membangun pemahaman bersama, serta menghindarkan manusia dari pemaknaan yang semata-mata bersifat intuitif dan subjektif. Dengan demikian, bahasa memegang peranan yang sangat fundamental dalam kehidupan, khususnya dalam dunia pendidikan.

Hal ini sejalan dengan pendapat Keraf (2007) yang menyatakan bahwa bahasa memiliki berbagai fungsi, antara lain sebagai alat untuk mengekspresikan diri, berkomunikasi, berintegrasi dan beradaptasi sosial, serta sebagai alat kontrol sosial. Sayangnya, karena bahasa Indonesia terasa begitu dekat dan akrab, banyak orang merasa tidak perlu lagi mempelajari dan mendalaminya secara serius. Akibatnya, kelemahan dalam berbahasa justru dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan jarang disadari.

Di tengah stigma bahwa “kuliah Bahasa Indonesia itu mudah”, masih ada generasi muda yang memilih untuk menekuni bidang kebahasaan dan menjadi agen perubahan. Peran inilah yang seharusnya mendapat perhatian lebih dari masyarakat. Melalui bahasa, seseorang dapat memengaruhi cara berpikir, membentuk perilaku sosial, serta mengarahkan perubahan dalam kehidupan bermasyarakat.

Oleh karena itu, sudah saatnya masyarakat berhenti meremehkan jurusan Bahasa Indonesia. Bahasa bukan sekadar alat berbicara, melainkan fondasi utama peradaban. Menganggap jurusan Bahasa Indonesia mudah sama artinya dengan meremehkan peran bahasa itu sendiri dalam membentuk cara berpikir, berilmu, dan berkehidupan sebagai manusia.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image