Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Wuri Syaputri

Kenapa Titik di Chat Bisa Terasa Marah?

Gaya Hidup | 2025-12-21 13:58:47

Oleh Wuri Syaputri

Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Ilustrasai gambar dibuat oleh AI

Dalam percakapan digital, ada satu tanda baca yang belakangan sering disalahpahami: titik. Bukan tanda seru, bukan huruf kapital, melainkan titik biasa di akhir kalimat. “Ya.”, “Oke.”, atau “Baik.” Satu titik kecil yang, entah mengapa, bisa terasa dingin, tegas, bahkan marah.

Padahal, dalam kaidah bahasa tulis, titik hanyalah penanda akhir kalimat. Ia netral, fungsional, dan nyaris tak bermakna secara emosional. Namun, ketika berpindah ke ruang chat, titik mengalami perubahan fungsi. Ia tidak lagi sekadar tanda baca, melainkan penanda sikap.

Fenomena ini menarik karena menunjukkan satu hal penting: bahasa digital bukan sekadar bahasa tulis yang dipindahkan ke layar, melainkan sistem komunikasi baru dengan aturan sosialnya sendiri.

Dalam linguistik, makna sebuah ujaran tidak hanya ditentukan oleh kata-kata, tetapi juga oleh konteks pemakaian. Dell Hymes (1974) menekankan bahwa untuk memahami bahasa, kita perlu melihat situasi tutur: siapa berbicara, kepada siapa, lewat medium apa, dan dengan tujuan apa. Chat sebagai medium menciptakan konteks yang berbeda dari tulisan formal maupun percakapan lisan.

Dalam percakapan lisan, akhir kalimat ditandai oleh intonasi, bukan titik. Nada suara yang turun, naik, atau datar memberi isyarat apakah pembicara sedang ramah, serius, atau bercanda. Ketika bahasa lisan dipindahkan ke bentuk tulisan singkat seperti chat, intonasi itu menghilang. Kekosongan ini kemudian “diisi” oleh tanda baca.

Di sinilah titik mulai bekerja secara pragmatik.

Naomi Baron (2008), dalam kajiannya tentang bahasa digital, menjelaskan bahwa pengguna media digital cenderung memperlakukan teks seperti ujaran lisan. Akibatnya, unsur-unsur visual seperti tanda baca, spasi, dan huruf kapital dibaca sebagai isyarat sikap, bukan sekadar aturan gramatikal. Titik, yang dalam tulisan formal netral, dalam chat bisa dibaca sebagai penutup tegas atau bahkan pemutus percakapan.

Perhatikan perbedaan berikut: “Ya” “Ya.”

Secara struktur, keduanya benar. Namun, secara makna sosial, banyak pembaca merasakan perbedaan. “Ya” terasa terbuka dan netral, sementara “Ya.” sering dibaca sebagai singkat, final, dan tidak mengundang respons lanjutan. Titik memberi kesan selesai.

Dalam pragmatik, ini berkaitan dengan konsep implicature yang diperkenalkan oleh H. P. Grice (1975). Implicature adalah makna tambahan yang tidak diucapkan secara eksplisit, tetapi dipahami oleh lawan bicara berdasarkan konteks. Dalam chat, titik menghasilkan implicature: “percakapan ini selesai”, “tidak perlu dilanjutkan”, atau “saya tidak ingin membahas lebih jauh”.

Menariknya, makna ini jarang disengaja. Banyak penutur menggunakan titik karena terbiasa dengan kaidah bahasa tulis. Namun, pembaca yang hidup dalam budaya chat membacanya dengan kacamata berbeda. Di sinilah potensi salah paham muncul.

David Crystal (2011) menyebut fenomena ini sebagai bagian dari Internet Linguistics: bahasa di internet berkembang dengan norma-norma baru yang tidak selalu sejalan dengan aturan baku. Dalam konteks chat, ketiadaan tanda baca justru menjadi norma kesantunan, sementara penggunaan tanda baca lengkap bisa terasa terlalu formal atau dingin.

Akibatnya, banyak orang mulai “menghindari” titik dalam chat sehari-hari. Mereka memilih mengakhiri kalimat tanpa tanda baca, atau menggantinya dengan emoji, huruf vokal ganda, atau kata tambahan. Bukan karena tidak bisa berbahasa dengan benar, tetapi karena ingin menjaga nuansa relasional.

Fenomena ini juga berkaitan dengan konsep kesantunan berbahasa. Brown dan Levinson (1987) menjelaskan bahwa penutur berusaha menjaga face atau citra social baik milik sendiri maupun lawan bicara. Dalam chat, titik berpotensi mengancam positive face, yaitu kebutuhan untuk merasa diperhatikan dan diterima. Maka, penutur memilih bentuk yang lebih “hangat”.

Namun, penting dicatat: titik tidak selalu berarti marah. Maknanya sangat bergantung pada konteks relasi. Dalam komunikasi profesional atau formal, titik justru diharapkan. Pesan tanpa titik bisa dianggap kurang serius. Ini menunjukkan bahwa bahasa chat tidak memiliki satu aturan tunggal, melainkan aturan yang berubah sesuai konteks sosial.

Dalam sosiolinguistik, ini disebut sebagai register yaitu variasi bahasa yang digunakan sesuai situasi. Bahasa chat dengan teman dekat berbeda dengan bahasa chat di kantor. Masalah muncul ketika register bercampur. Titik yang netral di satu konteks menjadi “tajam” di konteks lain.

Fenomena titik di chat memperlihatkan bagaimana gaya hidup digital membentuk kebiasaan berbahasa baru. Kita tidak lagi hanya memikirkan apa yang ditulis, tetapi juga bagaimana bentuk visualnya akan ditafsirkan. Bahasa menjadi semakin implisit, dan pembaca memikul beban interpretasi yang lebih besar.

Hal ini juga menjelaskan mengapa percakapan digital sering terasa melelahkan. Kita tidak hanya membaca kata, tetapi juga membaca sikap di balik tanda baca. Satu titik kecil bisa memicu rangkaian tafsir panjang.

Mungkin, yang perlu disadari adalah bahwa bahasa digital adalah bahasa yang dinegosiasikan bersama. Tidak ada makna tunggal yang mutlak. Titik bisa terasa marah bagi sebagian orang, dan biasa saja bagi yang lain. Kesadaran ini membantu kita lebih lentur dalam membaca dan menulis pesan.

Pada akhirnya, titik di chat mengajarkan satu hal penting tentang bahasa: makna tidak pernah benar-benar melekat pada bentuk. Ia lahir dari kebiasaan, konteks, dan kesepakatan sosial yang terus berubah. Di era chat, bahkan tanda baca sekecil titik pun ikut bicara—dan kadang, bicara terlalu keras.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image