Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Agil Amirulloh

Macet Demi Healing: Realita Liburan di Bandung yang Padat Wisatawan

Wisata | 2025-12-20 22:42:27

Bandung selalu jadi pilihan utama untuk liburan singkat. Suasananya sejuk, suasana kotanya hidup, dan pilihan wisatanya sangat beragam. Namun, ada satu hal yang hampir selalu hadir setiap musim liburan: kemacetan. Fenomena macet demi healing akhirnya menjadi bagian dari pengalaman wisata di kota ini.Setiap akhir pekan panjang, antrean kendaraan mengular sejak gerbang Tol Pasteur hingga kawasan wisata seperti Lembang, Dago, Punclut, dan Ciwidey.

Arus kendaraan yang melonjak membuat perjalanan yang seharusnya santai berubah jadi uji kesabaran. Menurut laporan media lokal, jumlah kendaraan yang masuk ke Bandung bisa meningkat hingga puluhan persen pada periode liburan, dan sebagian besar berasal dari Jabodetabek.Banyak wisatawan yang menganggap macet ini sebagai “harga yang harus dibayar” untuk menikmati Bandung. Bahkan sebelum menginjakkan kaki di tempat wisata, sebagian orang sudah merasakan bagian pertama dari liburan mereka terjebak berjam-jam di jalan.

Fenomena ini menghadirkan ironi: niat awalnya ingin healing, tapi proses menuju destinasi justru memancing lelah dan jenuh. Jalanan yang sempit, destinasi yang terkonsentrasi di titik-titik tertentu, serta jumlah wisatawan yang membludak menjadikan Bandung seperti magnet yang kewalahan menampung antusiasme pengunjung.Meski begitu, banyak yang tetap memilih Bandung karena daya tariknya tidak tergantikan. Suasana alam, kuliner yang variatif, serta suasana kota yang hangat membuat perjalanan panjang terasa “masih wajar”.

Bahkan ada yang berpendapat bahwa macet Bandung adalah bagian dari paket liburan itu sendiri sesuatu yang sudah diprediksi, tapi tetap dijalani.Daya tarik Bandung memang belum tergeser. Tempat-tempat seperti Tahura, Farm House, Floating Market, Orchid Forest, Tebing Keraton, hingga kawasan kafe di Punclut selalu menjadi magnet kuat bagi wisatawan. Banyak pengunjung yang justru memanfaatkan macet sebagai waktu untuk bonding di mobil, mendengarkan musik, atau sekadar menikmati pemandangan kota dari kejauhan.

Fenomena macet di Bandung juga menunjukkan satu hal: kota ini masih menjadi ruang yang dirindukan. Meski penuh tantangan transportasi, Bandung tetap berhasil memikat orang untuk kembali. Healing versi Bandung mungkin tidak sepenuhnya tenang, tetapi tetap memberikan pengalaman yang berbeda bagi setiap pengunjung.

Kemacetan mungkin tidak menyenangkan, tetapi realita ini tidak menghentikan wisatawan untuk datang. Bandung selalu punya alasan untuk dikunjungi, entah karena alamnya, makanannya, atau sekadar suasananya yang khas. Pada akhirnya, sebagian orang tetap memilih macet demi healing, karena bagi mereka Bandung selalu layak dijalani meski harus ditempuh dengan sabar dan perjalanan yang panjang.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image