Pentingnya Waktu dalam Islam
Agama | 2025-12-20 20:28:53PENTINGNYA WAKTU DALAM ISLAM
(Tinjauan Al-Qur’an dan As-Sunnah)
Pendahuluan
Waktu adalah salah satu nikmat Allah ﷻ yang paling agung, namun sering kali paling diabaikan oleh manusia. Banyak orang menyia-nyiakan waktu tanpa menyadari bahwa setiap detik yang berlalu tidak akan pernah kembali. Padahal dalam Islam, waktu bukan sekadar rangkaian jam, hari, dan tahun, melainkan amanah besar yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah ﷻ.
Islam sebagai agama yang sempurna memberikan perhatian sangat besar terhadap waktu. Hal ini tampak jelas dari berbagai ayat Al-Qur’an dan hadis Nabi ﷺ yang menekankan nilai waktu, urgensi memanfaatkannya, serta ancaman bagi orang yang menyia-nyiakannya. Bahkan, Allah ﷻ bersumpah dengan waktu dalam beberapa ayat Al-Qur’an, suatu bentuk penegasan akan kedudukannya yang sangat mulia.
Tulisan ini akan mengulas secara mendalam tentang konsep waktu dalam Islam, dalil-dalil Al-Qur’an dan Sunnah, pandangan para ulama, serta implikasinya dalam kehidupan seorang Muslim.
Makna Waktu dalam Perspektif Islam
Dalam bahasa Arab, waktu dikenal dengan beberapa istilah, antara lain:
- الزَّمَان (az-zamān): waktu secara umum
- الْوَقْت (al-waqt): waktu tertentu yang telah ditetapkan
- الدَّهْر (ad-dahr): masa yang panjang
- الْعَصْر (al-‘ashr): waktu sore atau masa kehidupan manusia
Beragamnya istilah ini menunjukkan bahwa Islam memandang waktu dari berbagai sisi: sebagai kesempatan, amanah, batasan, dan saksi atas amal manusia.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
الوقت هو رأس مال الإنسان، وهو مادة حياته الأبدية“Waktu adalah modal utama manusia, dan bahan bagi kehidupan abadinya.”
Allah Bersumpah dengan Waktu dalam Al-Qur’an
Salah satu bukti betapa pentingnya waktu adalah ketika Allah ﷻ bersumpah dengannya. Dalam kaidah tafsir, sumpah Allah menunjukkan kemuliaan dan urgensi sesuatu yang dijadikan sumpah.
1. Surah Al-‘Ashr
Allah ﷻ berfirman:
وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
Artinya:“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.”(QS. Al-‘Ashr: 1–3)
Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata:
“Seandainya manusia merenungkan surah ini saja, niscaya itu sudah cukup bagi mereka.”
Surah ini menegaskan bahwa kerugian manusia bersumber dari penyia-nyiaan waktu, kecuali mereka yang mengisinya dengan iman dan amal saleh.
2. Sumpah dengan Waktu Lainnya
Allah ﷻ juga bersumpah dengan:
- Waktu malamوَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَىٰ (QS. Al-Lail: 1)
- Waktu siangوَالضُّحَىٰ (QS. Ad-Dhuha: 1)
- Waktu fajarوَالْفَجْرِ (QS. Al-Fajr: 1)
Ini menunjukkan bahwa setiap fase waktu memiliki nilai dan fungsi tersendiri dalam kehidupan seorang Muslim.
Waktu sebagai Amanah dan Ujian
Allah ﷻ menciptakan waktu sebagai ujian bagi manusia, siapa yang paling baik amalnya.
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا“Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya.”(QS. Al-Mulk: 2)
Setiap detik kehidupan adalah ladang ujian. Waktu tidak menilai panjangnya umur, tetapi kualitas amal yang dilakukan di dalamnya.
Pertanggungjawaban Waktu di Hari Kiamat
Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa waktu akan dimintai pertanggungjawaban secara khusus.
لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ...
Artinya:“Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang umurnya, untuk apa ia habiskan ”(HR. Tirmidzi)
Hadis ini menunjukkan bahwa umur adalah modal utama, dan setiap detiknya akan diperhitungkan.
Peringatan agar Tidak Menyia-nyiakan Waktu
Rasulullah ﷺ bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
Artinya:“Dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.”(HR. Bukhari)
Hadis ini sangat relevan dengan kehidupan modern, di mana banyak orang memiliki waktu, tetapi tidak menggunakannya untuk kebaikan.
Manajemen Waktu dalam Ibadah
Islam mengajarkan manajemen waktu yang sangat rapi melalui ibadah:
1. Shalat dengan Waktu Tertentu
إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya atas orang-orang beriman.”(QS. An-Nisa: 103)
Ini mendidik seorang Muslim agar disiplin terhadap waktu, karena ibadah utama saja terikat waktu.
2. Puasa, Zakat, dan Haji
Semua ibadah memiliki waktu khusus:
- Puasa Ramadhan
- Zakat haul
- Haji pada bulan tertentu
Ini menegaskan bahwa waktu adalah bagian dari ibadah itu sendiri.
Teladan Salafus Shalih dalam Menghargai Waktu
Para ulama terdahulu sangat menjaga waktu mereka.
Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:
يا ابن آدم إنما أنت أيام، كلما ذهب يوم ذهب بعضك“Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan hari. Setiap kali satu hari berlalu, maka sebagian dirimu telah pergi.”
Imam An-Nawawi rahimahullah mengisi hampir seluruh waktunya dengan ilmu dan ibadah, hingga keberkahan waktunya terasa sampai hari ini melalui karya-karyanya.
Dampak Menghargai Waktu dalam Kehidupan
Orang yang menghargai waktu akan:
- Produktif dalam amal saleh
- Terjaga dari maksiat
- Memiliki tujuan hidup yang jelas
- Siap menghadapi kematian
Sebaliknya, menyia-nyiakan waktu akan membawa penyesalan yang dalam.
حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ(QS. Al-Mu’minun: 99)
Namun, penyesalan di akhirat sudah tidak berguna.
Penutup
Waktu adalah nikmat yang tidak tergantikan. Ia berjalan tanpa menunggu siapa pun. Islam mengajarkan bahwa kesuksesan dunia dan akhirat sangat bergantung pada bagaimana seseorang memanfaatkan waktunya.
Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang pandai menjaga waktu, mengisinya dengan iman, amal saleh, dan kebermanfaatan bagi sesama.
Doa Penutup
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَعْمَارِنَا، وَأَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
Artinya:“Ya Allah, berkahilah umur kami, dan tolonglah kami untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan sebaik-baiknya.”
di edit oleh Gati subono Sekolah tablig banjarnegara
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
