Shalat Adalah Mi'rajnya Seorang Mukmin
Agama | 2025-12-20 05:28:10بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا
Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami. (QS. Al-Kahfi: 10)
Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita hidup. Langit yang menaungi hati dan waktu untuk kembali merenung tentang hubungan kita dengan-Nya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW yang mengajarkan kita cara mencintai Allah SWT melalui sujud dan menjadikan shalat bukan hanya kewajiban tapi jalan pulang menuju cahaya.
Memasuki bulan Rajab ini, bulan dimana di-Isra’ dan di-Mi’raj kannya Rasulullah Muhammad SAW yang kemudian membawa perintah Allah SWT shalat 5 waktu sehari.
Rajab kali ini adalah momentum bagi saya pribadi melakukan kontemplasi, muhasabah diri atas shalat yang telah ditunaikan selama ini. Ini adalah tentang shalatku yang kadang tak menyentuh langit.
Sahabat, kita sedang sama-sama belajar, sama-sama ingin dekat dengan Allah SWT dengan cara yang paling jujur dan sederhana. Kita hanya ingin merenung tentang shalat yang telah dilakukan setiap hari, namun kadang terasa hampa. Tentang shalat yang geraknya lengkap tapi entah kenapa tidak menyentuh langit.
Apakah Allah menolaknya ? Apakah kita telah gagal atau barangkali ada sesuatu yang perlu disadari bukan untuk menyalahkan diri, tetapi agar kita bisa memeluk kembali makna shalat sebagai bentuk cinta, bukan sekadar kewajiban.
Rumi pernah menulis, "Ada orang yang shalat 5 waktu tapi tak pernah merasa hadir dan ada yang hanya satu kali sujud, namun seluruh hidupnya dipenuhi cahaya”.
Sahabat, pernahkah merasakan telah melakukan shalat, tapi setelahnya hati tetap terasa kosong ? Sudah berdiri di atas sajadah, telah mengucap takbir, telah rukuk dan sujud. Namun seolah-olah ada sesuatu yang tertinggal.
Bukan waktu shalat yang kurang, bukan gerakannya yang salah, tapi ada ruang di dalam hati yang belum benar-benar ikut sujud. Rumi menuliskan dalam salah satu syairnya, “banyak yang sujud tapi tak satu pun dari mereka benar-benar bersujud. Sujud bukan meletakkan dahi di bumi, tapi meletakkan segala ego di hadapan-Nya”. Kata-kata itu mengajak merenung dalam keheningan yang jujur. Karena betapa sering tubuh melakukan ibadah, tapi pikiran melayang entah ke mana. Tentang pekerjaan, tentang tagihan, tentang luka masa lalu. Dan itu manusiawi. Kita pernah mengalaminya. Tapi Rumi mengajak kita kembali menyadari bahwa shalat bukan sekadar rutinitas, bukan hanya menggugurkan kewajiban. Shalat adalah undangan dari kekasih kepada kekasih-Nya. Bayangkan seorang raja yang agung memanggil setiap hari 5 kali sehari. Namun ketika datang ke hadapannya, kita hadir hanya dengan tubuh. Sementara hati masih berada di pasar, masih menghitung untung rugi, masih membawa beban dunia yang belum diletakkan. Seperti kata Rumi, "Apa gunanya datang ke rumah kekasih bila hatimu masih tertinggal di rumah dunia ?”. Kita tak sedang dituntut untuk menjadi sempurna, tapi kita diajak untuk jujur bahwa ada saat-saat di mana kita hadir di sajadah tapi tidak hadir pada-Nya. Shalat menjadi semacam rutinitas mekanik seperti seseorang yang mengucapkan kata cinta tanpa merasakan cinta itu. Cinta itu seperti nyala api, tulis Rumi, dan shalat tanpa cinta hanyalah asap yang cepat lenyap. Maka pertanyaannya bukan apakah aku sudah shalat ? Tapi siapa yang benar-benar hadir dalam shalatku ? Apakah hanya tubuhku ? Apakah hanya hafalanku ? Ataukah jiwaku ikut serta dalam kerinduan ? Dalam kerendahan, dalam keikhlasan ?
Sahabat, karena kita sedang berjalan pulang ke arah yang sama melalui sajadah-sajadah yang kadang berdebu. Yang diminta hanya satu, cobalah hadir sekali saja benar-benar hadir. Hadirlah sebagai seorang kekasih bukan sekadar sebagai pelaksana kewajiban. Dalam setiap shalat kata Rumi, Allah mengintip ke dalam hatimu bukan untuk menilai hafalanmu, tapi untuk melihat apakah ada cinta di sana.
Sahabat, tahukah engkau bahwa ada shalat yang tidak naik ke langit ? Shalat itu lengkap gerakannya, rukuknya benar, sujudnya sempurna. Namun ketika ia mencoba terbang ke langit membawa doa dan harapan, ia tertahan, ia tertolak, ia kembali jatuh ke bumi karena jiwa yang mengerjakannya tak hadir di dalamnya. Begitulah shalat jika hanya dilakukan oleh tubuh, tapi tidak oleh hati. Jika hanya ritual tapi bukan rindu. Jika hanya hafalan, tapi bukan harapan.
Terkadang kita begitu sibuk menjaga gerakan sampai lupa menjaga getaran. Sibuk mengatur bacaan sampai lupa menyalakan kesadaran. Padahal yang paling dicari oleh Allah bukanlah betapa panjangnya bacaanmu atau seberapa indah suaramu. Tapi apakah hatimu benar-benar bersujud ? Shalat yang ikhlas. Kata Rumi, Adalah anak panah yang dilepaskan dari busur cinta dan akan langsung melesat ke hadapan Allah. Maka bila shalat terasa hambar, bukan berarti kita gagal. Bisa jadi itu adalah undangan dari Allah agar kita mulai menghadirkan rasa di tengah gerak. Agar kita mulai belajar bahwa yang paling berharga dari shalat bukanlah gerakannya, tapi kehadiran dalam cinta dan sadar. Bayangkan jika satu kali saja engkau shalat dengan seluruh hatimu dengan getirnya rasa bersalah, dengan lembutnya harap, dengan air mata rindu yang tak bisa dibendung, maka shalat itu akan menembus langit naik bukan karena kekuatanmu, tapi karena cinta Allah yang menyambutnya. Shalat yang naik ke langit bukan shalat para ahli fiqih semata, tapi shalat yang dibasahi oleh air mata, yang dibungkus oleh kesadaran, dan yang diterbangkan oleh kerinduan.
Sahabat, shalat adalah undangan, panggilan penuh cinta. Tiap takbir adalah sapaan dari Allah. Ayolah, datanglah kepadaku, bicaralah. Walau kau gugup, menangislah. Walau kau malu, aku tahu isi dadamu. Bahkan sebelum kau ucapkan. Tapi sayangnya kita terlalu sering hadir hanya sebagai tamu formal, bukan sebagai kekasih. Kita membaca tanpa rasa, berdoa tanpa pengharapan, sujud tanpa hening. Kita telah menjadi tamu yang lupa menghormati tuan rumahnya. Namun Allah, tak pernah menutup pintu bagi siapa pun. Tak peduli seberapa sering kita alpa. Tak peduli seberapa dalam kita lalai selama kita datang dengan tulus. Sekeping saja dari kesadaran itu sudah cukup untuk membuka gerbang rahmat-Nya. “Satu tetes air mata dari hati yang sadar,” tulis Rumi, “Lebih murni daripada lautan sujud yang tanpa makna”.
Sahabat, shalat bukan ruang untuk menyempurnakan hafalan. Shalat adalah taman sunyi tempat jiwa pulang, tempat hati mengadu, tempat luka dibasuh, tempat rindu dipeluk, tempat kita menjadi tamu yang diistimewakan oleh sang pencipta langit dan bumi. Tak peduli berapa kali engkau jatuh dan lupa asal kau kembali, Allah akan tetap menyambutmu dengan lembut. Mari kita perlahan belajar untuk hadir dalam shalat. Bukan karena takut dosa, tapi karena rindu pulang untuk menghadapkan wajah. Bukan hanya tubuh untuk berbicara pada Allah dengan hati yang jujur dan apa adanya. Dan di sanalah di antara bisikan lirih dan air mata yang jatuh diam-diam shalat akan benar-benar naik ke langit.
“Jika cintamu sungguh kepada Allah," tulis Rumi, “maka satu kata cukup untuk menembus langit dan jika tidak ada cinta, sejuta doa hanya menjadi gema kosong di udara”.
Sahabat, mencinta adalah roh shalat. Tanpa cinta shalat hanyalah gerak. Tapi dengan cinta, setiap takbir menjadi panggilan pulang, setiap sujud menjadi pelukan Allah, dan setiap salam adalah pertanda bahwa kita pernah singgah di surga untuk sesaat.
Sahabat, bahwa shalat bukan sekadar rutinitas, tetapi undangan untuk kembali pulang. Pulang bukan ke tempat tapi ke rasa. Ke hadapan Allah yang lebih dekat dari urat nadi kita sendiri. Ke ruang batin yang lama sunyi dan kini rindu untuk disentuh kembali. Rumi pernah berbisik, "Jangan takut kalau shalatmu berantakan. Jangan malu kalau hatimu sering mengembara karena yang dicari Allah bukan shalat yang sempurna, tapi hati yang terus ingin kembali”. Maka jangan tunggu shalatmu menjadi sempurna baru kau hadirkan cinta. Justru cinta itu yang akan menyempurnakannya. Mulailah dari rasa paling jujur. Ya Allah, aku ingin mencintai shalat ini. Walau kadang aku lupa, kadang aku lalai, kadang aku terburu-buru. Tapi aku tetap datang. Aku tetap mencoba “satu langkah kecil ke arah Allah”, kata Rumi, dibalas dengan ribuan langkah kasih dari-Nya ke arahmu”.
Sahabat, shalat yang naik ke langit bukan yang paling panjang atau paling fasih tapi shalat yang dipenuhi bisikan hati yang kadang tak terdengar oleh manusia tapi jelas terdengar oleh Allah. Shalat yang naik ke langit adalah shalat yang membuatmu merasa kecil di hadapan yang maha besar. Dan dalam kekecilan itu engkau merasa dicintai bukan dihakimi. Mari kita pulang dengan hati yang ringan dengan tekad yang baru. Bukan karena merasa berdosa, tapi karena merasa dirindukan oleh Allah.
Ya Allah, aku datang, terimalah aku meski tak layak. Aku tak tahu harus berkata apa, tapi engkau tahu segalanya.
Akhirnya Sahabat, semoga setiap gerak shalat kita menjadi langkah pulang. Semoga setiap sujud menjadi ruang pengakuan yang jujur. Dan semoga di antara doa-doa itu ada satu saja yang benar-benar naik ke langit dan mengetuk pintu rahmat Allah untuk kita semua. آمِيْنَ.
وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
