Menjaga Rumah Allah di Tanah Rantau: Kisah Ustadz Irfan
Agama | 2025-12-18 23:50:07
Di balik kemegahan kubah Masjid Al-Bakkah, ada sosok yang geraknya lebih sunyi dari doa-doa di sepertiga malam. Ia adalah Ustadz Irfan, pria asal Lampung yang memilih menanggalkan kenyamanan kampung halaman demi menjadi marbot di tanah rantau. Baginya, merantau bukan sekadar urusan mencari nafkah, melainkan sebuah perjalanan ontologis untuk menemukan hakikat pengabdian yang paling murni.
Ustadz Irfan membawa semangat "hijrah" dari Lampung bukan dengan ambisi menaklukkan kota, melainkan dengan kerendahan hati untuk melayani. Setiap sudut Masjid Al-Bakkah adalah saksi bisu bagaimana ia menggunakan segala Upaya untuk menyisir setiap butir debu dan akalnya untuk memastikan kenyamanan setiap jemaah. Baginya, menjadi marbot adalah penerapan aksiologi tingkat tinggi; di mana ilmu agama yang ia miliki tidak hanya berhenti di lisan, tetapi mewujud dalam tindakan nyata menjaga rumah ibadah.
"Rumah Allah harus lebih bersih dari rumah kita sendiri," ujarnya singkat. Kalimat sederhana ini mengandung makna mendalam bahwa kemuliaan tidak diukur dari jabatan, melainkan dari ketulusan melayani sesama dan Sang Pencipta. Di tengah hiruk-pikuk kota yang individualis, Ustadz Irfan dan Masjid Al-Bakkah menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sejati seringkali ditemukan dalam kesunyian pengabdian yang konsisten.
Perjalanan dari Lampung ke Masjid Al-Bakkah bukanlah tanpa rintangan. Jauh dari keluarga bagi Ustadz Irfan adalah sebuah ujian logika dan perasaan; ia harus menyeimbangkan antara rindu yang menggebu dengan tanggung jawab moral yang ia pikul. Di setiap fajar yang dingin, saat penduduk kota masih terlelap, ia sudah terjaga untuk memastikan azan berkumandang tepat waktu. Baginya, konsistensi ini adalah bentuk kebenaran epistemologis yang ia pelajari dari kehidupan: bahwa pengetahuan tentang disiplin dan ketaatan hanya akan terbukti valid jika dipraktikkan secara terus-menerus tanpa jeda.
Pada akhirnya, sosok Ustadz Irfan mengajarkan kita dalam pengabdian. Keindahan yang ia pancarkan tidak berasal dari pakaian yang mewah, melainkan dari ketulusan senyumnya saat menyambut jemaah dan keikhlasannya membereskan shaf yang berantakan. Melalui gerakan sosial sunyi yang ia bangun di lingkup masjid, ia membuktikan bahwa seorang perantau mampu menjadi "akar" yang menguatkan spiritualitas masyarakat sekitar. Di Masjid Al-Bakkah, Ustadz Irfan bukan sekadar penjaga gedung, melainkan penjaga nyala api kebaikan yang didatangkan jauh-jauh dari tanah Sumatera.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
