Mengapa Banyak Wisata di Indonesia Hanya Mengejar Booming Sesaat?
Wisata | 2025-12-16 16:51:21
Dalam beberapa tahun terakhir, wajah pariwisata Indonesia berubah dengan sangat cepat. Destinasi yang dulunya sepi dapat mendadak penuh sesak hanya dalam hitungan minggu setelah viral di media sosial. Fenomena ini kerap dipersepsikan sebagai keberhasilan, seolah keramaian adalah bukti mutlak kemajuan pariwisata. Namun, jika diamati lebih dalam, muncul pertanyaan mendasar: mengapa banyak wisata di Indonesia tampak hanya mengejar booming sesaat, alih-alih dibangun sebagai sektor yang berkelanjutan dan berumur panjang?
Salah satu penyebab utama dari fenomena ini adalah banyaknya pemikiran bahwa fenomena booming atau viral akan sejalan dengan perkembangan pariwisata. Keberhasilan destinasi sering kali diukur dari seberapa ramai pengunjung dan seberapa sering muncul di platform digital, bukan dari kualitas pengalaman wisata atau keberlanjutan ekosistemnya. Akibatnya, keberhasilan pariwisata sering kali direduksi menjadi angka kunjungan dan keramaian jangka pendek. Banyak pengelola berlomba membangun spot foto instan, tanpa identitas budaya yang kuat atau pengalaman wisata yang bermakna. Padahal, pariwisata yang hanya mengandalkan tren akan kehilangan relevansinya ketika selera publik berubah.
Masalah semakin kompleks ketika perkembangan destinasi tidak dibarengi perencanaan yang matang. Ketika fenomena FOMO (Fear Of Missing Out) di masyarakat merebak, sering kali lonjakan wisatawan datang lebih cepat dibanding kesiapan infrastruktur dan tata kelola. Infrastruktur dibangun seadanya, regulasi sering tertinggal, dan koordinasi antar pemangku kepentingan berjalan tidak optimal. Lonjakan wisatawan yang tidak terkelola justru memicu kerusakan alam, penumpukan sampah, kemacetan, dan konflik dengan masyarakat lokal. Dalam kondisi seperti ini, booming bukan menjadi berkah, melainkan beban yang meninggalkan persoalan jangka panjang. Kondisi ini bertentangan dengan prinsip wisata berkelanjutan, yang menempatkan keseimbangan antara ekonomi, lingkungan, dan sosial sebagai fondasi utama pembangunan pariwisata.
Di sisi lain, tekanan ekonomi turut mendorong orientasi jangka pendek. Pemerintah daerah dan masyarakat sering berharap pariwisata menjadi solusi cepat untuk meningkatkan pendapatan. Dalam situasi tersebut, keberlanjutan kerap dianggap sebagai aspek yang kurang mendesak. Padahal, tanpa investasi pada kualitas sumber daya manusia, pelestarian lingkungan, dan penguatan kelembagaan lokal, keuntungan ekonomi dari pariwisata akan bersifat sementara dan tidak merata.
Dampak dari pariwisata yang mengejar booming sesaat juga terasa pada masyarakat lokal. Alih-alih menjadi subjek pembangunan, mereka sering kali hanya menjadi pelengkap dalam sistem pariwisata. Euforia pariwisata instan juga dapat memicu ketergantungan ekonomi yang berisiko. Banyak warga beralih profesi secara cepat mengikuti tren wisata, meninggalkan sektor produktif lain seperti pertanian atau perikanan. Ketika tren bergeser, masyarakatlah yang paling terdampak oleh penurunan pendapatan dan kerusakan lingkungan.
Untuk keluar dari jebakan popularitas sesaat, Indonesia membutuhkan perubahan paradigma dalam pengembangan pariwisata. Fokus harus bergeser dari kuantitas menuju kualitas, dari popularitas menuju keberlanjutan. Destinasi perlu dibangun dengan identitas yang kuat, berbasis budaya lokal, konservasi alam, serta partisipasi aktif masyarakat. Pemerintah, pelaku usaha, dan komunitas lokal harus berjalan seiring dalam perencanaan yang terukur dan berjangka panjang.
Tugas kita bukan sekadar menjaga alam tetap indah, tetapi memastikan destinasi mampu bertahan, beradaptasi, dan memberi manfaat jangka panjang. Indonesia memiliki kekayaan alam dan budaya yang luar biasa, tetapi tanpa pengelolaan yang bijak, potensi tersebut hanya akan menjadi tren sesaat yang mudah ditelan oleh waktu. Tantangan kita bukan lagi menciptakan destinasi yang ramai, melainkan membangun pariwisata yang berumur panjang yang juga dapat dinikmati oleh generasi mendatang.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
